Oleh: luthv | Februari 28, 2007

Dicari: Pemimpin Berhati Nurani!

“Sesungguhnya Alloh telah mewajibkan kepada para

pemimpin yang sesungguhnya untuk hidup pada tingkat

penghidupan yang paling rendah agar rakyat miskin tidak

merasa terhina dengan kemiskinannya.”

( Imam Ali ibn Abi Thalib as. )

Di salah satu sudut kota Kufah, seorang pria dengan baju yang kasar serta penuh dengan tambalan tengah menjahit baju miliknya sendiri, sedangkan disisi kanannya terdapat sebuah bungkusan. Seseorang bertanya kepadanya,” ya, Amirul mukminin apakah gerangan bungkusan disebelah kananmu itu?” ia menjawab, ”ini adalah dua buah roti kering, aku sengaja menyembunyikannya karena takut putraku Hasan dan Husain mengoleskan minyak (mentega) keatasnya”. Siapakah pria itu? Ya, dia adalah Imam Ali ibn Abi Thalib. Ia adalah pemimpin umat Islam kala itu, dimana puncak kekuasaan beserta harta kekayaan Negara berada ditangannya.

 

Pernahkan terpikir dalam benak kita hari ini ketika melihat seseorang dengan pakaian yang kasar serta penuh dengan tambalan dan hanya memakan dua buah roti kering setiap harinya bahwa ia adalah seorang presiden atau pejabat pemerintah? Pernahkah? Saya yakin 100% kita akan langsung mencapnya sebagai gembel, pengemis, bahkan mungkin juga ada yang menganggapnya orang gila. Tapi ini adalah realita, seorang pemimpin yang begitu sederhana, miskin, padahal ia bisa saja mengambil uang dari kas negara sebagai gajinya, tapi tidak ia lakukan. Bahkan ia tidak mau untuk memakan makanan yang enak, sekalipun itu hanya sebuah olesan mentega.

Berbicara mengenai pemimpin, maka para pemimpin di indonesia sungguh jauh berbeda keadaannya dengan kisah diatas. Para pemimpin kita sebagian besar mempunyai fasilitas yang lux, mobil mewah, rumah mewah, dan semua yang berbau mewah. Keadaan ini begitu kontras dengan kondisi rakyat indonesia yang pada tahun 2006 memiliki angka kemiskinan sekitar 39,5 juta jiwa, sedangkan di Jawa Barat sendiri angka kemiskinan mencapai 10 juta jiwa dari 40 juta penduduk Jawa Barat, bahkan para analis memprediksikan bahwa angka kemiskinan tahun 2007 akan semakin meningkat. Kondisi ini sungguh memprihatinkan kita semua, melihat ‘katanya’ Indonesia merupakan negara yang kaya dengan sumber daya alam. Secara logika seharusnya seluruh rakyat indonesia hidup dengan sejahtera serta berkecukupan, namun kondisi yang ada justru sebaliknya. Kenyataannyamenunjukan bahwa hasil kekayaan Indonesia justru hanya dikuasai oleh segelintir orang yang memilki kepentingan.

Keadaan ini diperparah dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah No. 37 tahun 2006 yang menuai banyak protes dari berbagai kalangan. Dengan diterbitkannya PP ini semakin memperjelas kesenjangan antara para pejabat dengan rakyat. Sampai saat ini saya pribadi masih belum mengerti bagaimana cara berpikir bapak-bapak kita yang duduk di Dewan. Bagaimana mungkin ditengah situasi rakyat yang sedang sekarat ini mereka malah menunjukan gigi dengan menguras uang negara. Kalau kinerjanya baik dan memang benar-benar membutuhkan serta kondisi rakyat yang memungkinkan, tidak jadi masalah. Tapi kita kembali lagi, bagaimana kinerja mereka?, bagaimana keadaan Indonesia? Bagaimana dengan keadaan rakyat? Sungguh tidak mempunyai rasa malu serta hati nurani!

Melihat situasi dan kondisi Indonesia saat ini, maka sepertinya kita harus menacari sosok pemimpin ataupun penguasa yang mampu memahami serta mengerti keadaan rakyat indonesia secara umum, bukan pemimpin yang hanya memberikan janji-janji yang tidak pernah ditepati ataupun pemimpin yang hanya paham dan peduli terhadap rakyat ketika menjelang Pemilu ataupun Pilkada. Sudah saatnya muncul pemimpin yang mampu merangkul berbagai kalangan serta berbagai lapisan masyarakat, pemimpin yang diterima, serta -mempunyai kapasitas Intelektual dan kepekaan sosial yang tinggi dalam artian dapat memberikan solusi terhadap berbagai masalah yang menimpa bangsa Indonesia dan memiliki kepedulian terhadap penderitaan rakyat serta harus merakyat supaya sebagaimana yang ungkapan Imam Ali ‘agar rakyat miskin tidak merasa terhina dengan kemiskinannya’.

Sudah saatnya indonesia mempunyai pemimpin yang mempunyai hati nurani. Pemimpin yang siap membangun Indonesia bersama-sama dengan rakyat, saling membantu, saling melengkapi. Para pemimpin negeri ini ternyata sampai sekarang sebagian besar tidak memiliki rasa kerakyatan yang tinggi, kebanykan hanya bersifat politis. Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang selalu belajar dari sejarah bangsanya. Belajar dari kesalahan dan kemudian tidak mengulangi kesalahan yang sama. Ketika sudah terbukti seorang pemimpin gagal dalam membawa negeri ini keluar dari kemelut, untuk apa kita pilih lagi? Saatnya kita berikan kesempatan kepada individu-individu memiliki semangat baru, semangat reformasi, semangat orang-orang terpilih dari masa lalu!.

Wallahu’alam


Responses

  1. This design is spectacular! You definitely know how to keep a reader entertained.
    Between your wit and your videos, I was almost moved to start my own blog (well,
    almost…HaHa!) Excellent job. I really enjoyed what you had to say, and more than that,
    how you presented it. Too cool!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: