<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>:: LuThFuLLaH...</title>
	<atom:link href="http://luthv.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://luthv.wordpress.com</link>
	<description>Untuk Cinta, Kebijaksanaan dan Persaudaraan...</description>
	<lastBuildDate>Sat, 02 Jun 2007 06:10:08 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='luthv.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/a722152e9dfb5783b6f9a5ecdfac7301?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>:: LuThFuLLaH...</title>
		<link>http://luthv.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Ahlak Pecinta Ahlul Bayt</title>
		<link>http://luthv.wordpress.com/2007/06/02/ahlak-pecinta-ahlul-bayt-2/</link>
		<comments>http://luthv.wordpress.com/2007/06/02/ahlak-pecinta-ahlul-bayt-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jun 2007 06:07:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luthv</dc:creator>
				<category><![CDATA[Studi Kritis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luthv.wordpress.com/2007/06/02/ahlak-pecinta-ahlul-bayt-2/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Syaikh Shaduq
A1. Dari Ayahandaku, semoga Allah swt memberi rahmat kepadanya, ia mengatakan telah meriwayatkan kepadaku Ali Bin Husain Asyad Abadi dari Jabir bin Ju’fi, ia mengatakan telah berkata Abu Ja’far,: “Apakah cukup yang menjadi syiah dengan hanya mengatakan cinta kepada Ahlulbait? Imam menjawab, “Demi Allah , tiada lain Syiah kami adalah mereka yang bertakwa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luthv.wordpress.com&blog=825886&post=35&subd=luthv&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh: Syaikh Shaduq</p>
<p>A1. Dari Ayahandaku, semoga Allah swt memberi rahmat kepadanya, ia mengatakan telah meriwayatkan kepadaku Ali Bin Husain Asyad Abadi dari Jabir bin Ju’fi, ia mengatakan telah berkata Abu Ja’far,: “Apakah cukup yang menjadi syiah dengan hanya mengatakan cinta kepada Ahlulbait? Imam menjawab, “Demi Allah , tiada lain Syiah <span id="more-35"></span>kami adalah mereka yang bertakwa kepada Allah dan mentaati-Nya, Mereka hanya dikenal dengan ketawadhuan, kekhusyu’an, menunaikan amanat, dan banyak berdzikir kepada Allah, shaum, shalat, berbuat baik kepada orang tua, baik kepada tetangga yang miskin, yang fakir, yang punya hutang, anak-anak yatim, jujur, membaca Quran, menjaga lisan kecuali dengan perkataan yang baik, Orang-orang syiah adalah amanah bagi para keluarga mereka”. Jabir kemudian mengatakan,:“Wahai putra Rasulullah saw, kami mengenal mereka tetapi tidak memiliki sifat-sifat seperti ini”. ikh Shâduq (305-381)</p>
<p>Beliau mengatakan,” Wahai Jabir janganlah engkau bermazhab kepada orang-orang yang hanya mengatakan aku cinta Ali as dan berwali kepadanya, dan jika ada yang mengatakan aku cinta kepada rasul dan dan Rasulullah lebih baik dari Ali as, tapi kemudian tidak mengikuti jalannya tidak mengamalkan sunnahnya maka kecintaannya itu tidak bermanfaat sedikitpun. Maka bertakwalah kepada Allah dan beramalah karena Allah, karena tidak ada kekerabatan antara Allah dan siapapun. Hamba yang paling dicintai dan dihormati di sisi Allah adalah yang paling bertakwa dan yang paling mentaati-NYA.Wahai Jabir seseorang hamba tidak bisa mendekati Tuhannya kecuali dengan mentaati-NYA. Arti dibebaskan dari Neraka tidak ada artinya dan tidak ada satupun diantara kalian yang menjadi hujjah bagi Allah. Siapa yang ta’at itulah bagian dari kami dan barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah maka itu musuh kami, wilayah (kesetian) kepada kami tidak bisa dicapai kecuali dengan ketakwaan dan kewara’an.</p>
<p>&lt;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&gt;2. &lt;!&#8211;[endif]&#8211;&gt;Imam Shadiq as mengatakan,: “Syiah kami adalah ahli wara’, ahli ijtihad, penunai janji, amanah, ahli zuhud, ahli ibadah, suka sholat 51 raka’at sehari semalam, tahajud di malam hari, shaum di siang hari, membersihkan harta-harta mereka dan haji ke tanah suci.”</p>
<p>&lt;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&gt;3. Dari Muhammad bin Musa Al-Mutawakil dari Ahmad bin Abdullah dari Abi Abdillah ia mengatakan,:“Tiada lain syiah Ali kecuali yang bersih perut dan kemaluannya, beramal untuk tuhannya, mengharapkan pahala dan takut kepada siksa-NYA.”</p>
<p>&lt;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&gt;4. Muhammad bin Azlan mengatakan aku bersama Aba Abdillah, kemudian seseorang masuk dan mengucapkan salam. Ia ditanya bagaimana orang-orang yang engkau tinggalkan. Si lelaki yang datang tadi memuji-mujinya. Kemudian Aba Abdillah bertanya seberapa sering orang-orang kaya mereka mendatangi orang-orang miskin. Lelaki tadi menjawab sangat jarang. Kemudian ia ditanya lagi sejauhmana orang-orang kayanya menjenguk orang-orang miskin? . Lelaki tadi menjawab, :“Tuan menyebutkan sifat-sifat yang tidak dimiliki mereka. Abu Abdillah kemudian balik mengatakan,” Kenapa pula engkau menyebut mereka sebagai syiah?”</p>
<p>&lt;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&gt;5. Semoga Allah swt memberi rahmat kepadanya, Seorang rawi mengatakan telah meriwayatkan kepadaku Ali Bin Husain Asyad Aabadi dari Jabir bin Ju’fi, ia mengatakan telah berkata Abu Ja’far,: “Apakah cukup yang menjadi syiah dengan hanya mengatakan cinta kepada Ahlulbait, demi Allah , tiada lain Syiah kami adalah mereka yang bertakwa kepada Allah dan mentaati-NYA, Mereka hanya dikenal dengan ketawadhuan, kekhusyu’an, menunaikan amanat, dan banyak berdzikir kepada Allah, shaum, shalat, berbuat baik kepada orang tua, baik kepada tetangga yang miskin, yang fakir, yang punya hutang, anak-anak yatim, jujur, membaca Quran, menjaga lisan kecuali dengan perkataan yang baik, Orang-orang syiah adalah amanah bagi para keluarga mereka”. Jabir kemudian mengatakan, “Wahai putra Rasulullah saw, kami mengenal mereka tetapi tidak memiliki sifat-sifat seperti ini”. Lalu aku bertanya,”Dimana bisa kutemukan orang-orang seperti itu?” Imam menjawab, “Mereka ada di pinggiran diantara pasar-pasar Itulah mereka yang dimaksud dengan firman Allah “merendahkan hati terhadap orang-orang mukmin dan berwibawa di depan orang-orang kafir.”</p>
<p>&lt;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&gt;6. Meriwayatkan sebuah hadis kepadaku Muhammad bin Husan bin Alwalid semoga Allah meridhai mereka dari Mufadhol bin Qais dan Abi Abdillah alaihi as. Beliau mengatakan, : “Berapa syiah kami di Kufah?” Aku menjawab:” lima puluh ribu. Beliau lantas mengatakan: “Saya mengharapkan jumlahnya hanya 20. Kemudian beliau mengatakan: “Demi Allah aku harap di Kufah syiah kami hanya ada 25 orang yang mengetahui urusan kami dan dan tidak berkata tentang kami kecuali dengan benar.”</p>
<p>&lt;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&gt;7. Meriwayatkan sebuah hadis kepada kami Muhammad bin Majilwaih dari Abu Abdillah Berkata kepadanya Abu ja’far Ad-Dawaniqi di Hirah dimasa pemerintahan Abi Al-Abbas,: ”Ya Aba Abdillah, bagaimana dengan Syiahmu yang mengeluarkan apa yang ada di dalam hatinya dalam satu majlis sehingga diketahui madzhabnya”. Beliau mengatakan,: “Itu karena memiliki kemanisan iman di dadanya dan karena manisnya menjadi tampak sejelas-jelasnya.”</p>
<p>&lt;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&gt;8. Meriwayatkan sebuah hadis kepadaku Ahmad bin Muhammmad bin Yahya al-‘Athor dari Muhammad bin Sadir ia mengatakan Bahwa Abu abdillah mengatakan,: “Jika tiba hari kiyamat makhluk-makhluk akan dipanggil dengan ibu-ibu mereka kecuali kami dan syiah kami karena tidak ada hubungan darah diantara kami.”</p>
<p>&lt;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&gt;9. Meriwayatkan sebuah hadis dari Muhammad bin Majilwaeh meriwayatkan sebuah hadis kepada kami Umar bin Muhammad bin Abi Qosim dari Harun bin Muslim dari Musidah bin Shodaqo. Ia mengatakan Abu Abdilah ditanya tentang syiah kami beliau menjawab,:“Syiah kami yang mempelopori kebajikan dan menahan dari keburukan, menunjukkan hal-hal yang indah dan bersegera dalam melakukan perintah Tuhan, karena mengharapkan rahmatnya. Merekalah dari kami kembali kepada kami dan bersama kami dimana saja berada.”</p>
<p>&lt;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&gt;10. Ayahandaku meriwayatkan sebuah hadis kepadaku ia mengatakan telah meriwayatkan kepadanya Sa’ad bin Abdilllah dari Ali bin Abdul Aziz ia mengatakan Abu Abdillah mengatakan,:“Ya Ali bin Abdil Aziz janganlah kau tertipu dengan tangisan mereka, karena ketakwaan itu adanya di hati.”</p>
<p>&lt;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&gt;11. &lt;!&#8211;[endif]&#8211;&gt;Ayahandaku meriwayatkan sebuah hadis kepadaku ia mengatakan meriwayatkan sebuah hadis kepadaku Abdullah bin ja’far Alhumairi dari Mus’idah bin Shodaqoh dari Ashodiq, Rasulullah saw mengatakan,: “Barang siapa yang nestapa karena perbuatan buruk dan memiliki perjalanan hidup yang baik ialah orang mukmin.”</p>
<p>&lt;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&gt;12. &lt;!&#8211;[endif]&#8211;&gt;Dengan sanad yang sama Abu Abdilah mengatakan,: “Alangkah jeleknya orang mukmin kalau dihinakan oleh keinginannnya.” [Nano W]</p>
<p>Ket: Disadur dari kitab ‘Shifâtu as- Syiah’ karya Syaikh Shâduq (305-381)</p>
<p>www.islamalternatif.com</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/luthv.wordpress.com/35/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/luthv.wordpress.com/35/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/luthv.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/luthv.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/luthv.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/luthv.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/luthv.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/luthv.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/luthv.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/luthv.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/luthv.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/luthv.wordpress.com/35/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luthv.wordpress.com&blog=825886&post=35&subd=luthv&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luthv.wordpress.com/2007/06/02/ahlak-pecinta-ahlul-bayt-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/20ed5e2055cfc5d6bc59c063983d0538?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">luthv</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>“Ja’fari, mazhab resmi Islam kelima”</title>
		<link>http://luthv.wordpress.com/2007/05/10/%e2%80%9cja%e2%80%99fari-mazhab-resmi-islam-kelima%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://luthv.wordpress.com/2007/05/10/%e2%80%9cja%e2%80%99fari-mazhab-resmi-islam-kelima%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 May 2007 07:48:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luthv</dc:creator>
				<category><![CDATA[Studi Kritis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luthv.wordpress.com/2007/05/10/%e2%80%9cja%e2%80%99fari-mazhab-resmi-islam-kelima%e2%80%9d/</guid>
		<description><![CDATA[
Bicaranya lugas khas kiai pesantren. Namun data dan istilah yang rancak  terselip dalam kalimat-kalimatnya menunjukkan bahwa dia bukan sekadar kiai pesantren biasa, melainkan juga intelektual yang mengenyam pendidikan tinggi dan mempunyai pergaulan yang luas. Kyai Said, demikian sapaan akrab DR. KH. Said Aqiel Siradj.
Ditemui SYI’AR di ruangannya di kantor PBNU, ulama asal Palimanan, Cirebon, ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luthv.wordpress.com&blog=825886&post=34&subd=luthv&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong></strong></p>
<p align="center">Bicaranya lugas khas kiai pesantren. Namun data dan istilah yang rancak <img border="0" width="127" src="http://www.icc-jakarta.com/id/images/stories/artikel/saidagil.jpg" hspace="6" alt="Image" height="160" style="float:right;" /> terselip dalam kalimat-kalimatnya menunjukkan bahwa dia bukan sekadar kiai pesantren biasa, melainkan juga intelektual yang mengenyam pendidikan tinggi dan mempunyai pergaulan yang luas. Kyai Said, demikian sapaan akrab DR. KH. Said Aqiel Siradj.</p>
<p>Ditemui <em>SYI’AR</em> di ruangannya di kantor PBNU, ulama asal Palimanan, Cirebon, ini cerita banyak tentang kunjungannya ke Qatar, sikapnya tentang kerukunan antar-mazhab, kultur Syiah dalam NU dan penjabarannya tentang kondisi umat Islam Indonesia. Berikut kutipannya:<strong><span id="more-34"></span><br />
TENTANG SUNAH-SYIAH</strong></p>
<p><strong>Anda bisa ceritakan tentang pertemuan Qatar?</strong><br />
Saya diundang dalam pertemuan Suni-Syiah di Doha, ibukota Qatar, pada 20-22 Januari 2007. Tujuannya mempersempit atau memperkecil sudut pandang Suni-Syiah yang sudah barang tentu penting sekali.<br />
Pertemuan pada hari pertama memang panas. Terutama pihak Suni. Yusuf Qardhawi, Syekh Wahbah Zuhaili dan Syekh Ali Syabuni punya syarat bahwa mereka bisa bertemu apabila pihak Syiah menghentikan caci maki terhadap sabahat. Mereka tidak akan mau bertemu apabila Syiah masih mengatakan misalnya ‘laknat Allah’ kepada Aisyah karena Suni mengatakan ‘Semoga Allah meridhainya’.<br />
Kemudian yang sangat disayangkan dan juga dikritik oleh Syekh Yusuf Qaradhawi adalah penyebaran Syiah di kalangan Suni. Dia juga bilang Indonesia sebagai salah satu basis penyebaran Syiah dengan menyebarkan buku-buku terjemahan dan lain sebagainya.<br />
Lebih seru lagi, Syekh Qaradhawi di forum ini meminta Ali Taskhiri mengucapkan Aisyah <em>radhiya Allahu anha</em> (ra). Dan Syekh Ali Taskhiri mau melakukannya. Tidak berhenti di situ, dia juga minta semua utusan Iran mengucapkan hal yang sama seperti Ali Taskhiri. Ini kejadian yg sangat disayangkan dan sesungguhnya tidak perlu terjadi di forum yang mulia ini. Tetapi pada hari kedua sudah mulai cair.<br />
Hasil dari seminar itu, pada intinya, masing-masing pihak menghargai peranan masing-masing dan mengendalikan kalangan ekstrim dari masing-masing mazhab.<br />
Menurut Ali Taskhiri, di kalangan Syiah memang ada juga orang-orang yang ekstrim dan fanatik dan dengan tidak bertanggungjawab mencaci maki sahabat dan Suni. Demikian pula di Suni. Sementara NU sendiri tidak pernah mencaci maki Syiah. Tapi di kalangan Wahabi memang banyak yang ekstrim.</p>
<p>Pada pertemuan itu, saya diberi kesempatan berbicara dua kali. Pada forum tersebut, saya mengajak kedua pihak untuk masing-masing menulis buku tentang pengakuan dan penghargaan Suni terhadap Syiah dalam membangun peradaban. Begitu juga Syiah, menulis buku tentang peranan Suni dalam membangun peradaban.<br />
Sebenarnya hal (pertemuan Suni-Syiah) ini sudah lama dilakukan oleh Syekh Syaltut dan Ayatullah Burujerdi. Hasil dari kesepakatan kedua tokoh tersebut adalah bahwa mazhab Ja’fari diajarkan secara resmi di al-Azhar. Bahkan salah satu keberhasilan tersebut adalah diakuinya mazhab Ja’fari sebagai mazhab resmi dalam Islam sebagaimana empat mazhab lainnya. Bahkan rektor Al-Azhar, Dr. Ahmad Thayyib, mengatakan banyak kaidah hukum yang diambil dari mazhab Ja’fari adalah sah, ketika tidak ditemukan pada empat mazhab. Walhasil, mazhab Ja’fari adalah setara dengan empat mazhab lainnya.</p>
<p><strong>Hal apakah yang mendorong terselenggaranya pertemuan tersebut?</strong><br />
Saya kira pertemuan itu didorong oleh kondisi di Irak. Masing-masing menuduh. Suni menuding Iran menyuplai senjata. Demikian pula Syiah menuding kelompok Suni Irak mendapat senjata dari Saudi. Lepas dari masalah itu semua, perpecahan di Irak harus dihentikan. Para ulama di sana harus mengendalikan umatnya, karena bukan hanya sekadar perbedaan pendapat tapi juga sudah ribuan nyawa melayang di sana.</p>
<p><strong>Apakah benar Iran di belakang konflik sektarian itu?</strong><br />
Saya tahu ini rekayasa Amerika. Saya tahu sengaja dibangun opini bahwa ini adalah konflik mazhab Suni-Syiah. Padahal ini murni politik, toh dulu tidak pernah terjadi konflik seperti ini.</p>
<p>Saya bisa tegaskan di sini bahwa Iran, selalu dan selamanya, membela Palestina. Padahal di Palestina tidak ada Syiah, semuanya Suni. Tapi Iran matian-matian sampai berkorban dan rela ditekan Amerika karena perjuangannya bagi Palestina. Karena itu harus dipahami Iran berdiri bukan hanya untuk Syiah, bukan hanya untuk partai, tapi juga untuk Islam.</p>
<p><strong>Apakah pertemuan Doha itu memang khusus untuk masalah sektarian di Irak atau memang pertemuan reguler?</strong><br />
Pertemuan Doha ini terdorong karena keadaan di Irak. Kalau yang reguler adalah yang di Iran dan semua pihak diundang dalam pertemuan itu.<br />
Walhasil, masing-masing pihak selalu ada yang ekstrim, dan itu salah. Di Syiah ada yang ekstrim mencaci maki Suni dan di Sunni juga tidak kurang atau kelewatan.<br />
Waktu Imam Khomeini pulang ke Iran, terbit sebuah buku yg menghujat beliau kira-kira judulnya <em>Ja’a Daurul Majus </em>‘Tibalah Saatnya Majusi Kembali’. Itu sudah keterlaluan.<br />
Sebenarnya bila bicara masalah perbedaan mazhab, itu bukan konsumsi pasar. Bukan obrolan orang awam. Tapi kalau masing-masing sudah menyebarkan buku murahan dan saling caci maki dan menjadi konsumsi awam akan berbahaya sekali. Bahaya terhadap Islam.</p>
<p><strong>Jadi siapa yang berhak menetralisir segala macam isu yang bisa memecah belah persatuan umat ini?</strong><br />
Ulama, dong. Seperti yang saya katakan tadi, Syekh Al-Azhar, Syekh Mahmud Syaltut, mengadakan pendekatan dengan Ayatullah Burujerdi yang kemudian berdampak besar, sampai akhirnya Mazhab Ja’fari resmi dianggap sebagai mazhab kelima, selevel dengan mazhab yang empat.</p>
<p><strong>Apa isu Suni-Syiah demikian krusialnya sampai-sampai diadakan pertemuan Doha? Apa tidak ada isu lain?</strong><br />
Kenyataannya, sekarang (di Irak) sudah saling bunuh. Faktanya begitu. Dalang di belakang kejadian ini kita semua tahu. Juga isu senjata Syiah disuplai Iran dan senjata Sunni disuplai Saudi. Kita semua tahu siapa dalang sesungguhnya. Ini adalah kerjaan Amerika untuk memecah belah Irak. Tapi kan<em>,</em> beberapa ulama terpengaruh. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Syekh Qardhawi, Wahbah Zuhaili dan Ali Syabuni barangkali terpengaruh juga oleh isu ini.<br />
Seandainya kita bisa berbicara dengan jernih, kembali pada dasar yang paling prinsip, semua mazhab hakikatnya sama kecuali pada hal-hal yang <em>furu</em>’ (parsial). Kenapa kita bisa dialog dengan non-Muslim tapi tidak bisa dengan Syiah kalau tidak dibesar-besarkan oleh kepentingan politik?</p>
<p><strong>TENTANG ISLAM DI INDONESIA</strong></p>
<p><strong>Ulama sedunia bisa bersatu mengenai isu Palestina. Tapi negara tempat ulama itu tinggal mempunyai </strong><strong><em>policy</em></strong><strong> yang berbeda. Bagaimana pendapat Anda?</strong><br />
Pertanyaan Anda mulai berkembang luas. Di Timur Tengah, pola pikir antara pola pikir agama dan nasionalisme belum selesai. Karena nasionalisme Timur Tengah itu universal. Banyak mengadopsi konsep Ernest Renan yang memisahkan gereja dan negara. Ketika di Eropa lahir bangsa-bangsa, sama sekali tidak ada pembicaraan tentang agama. Artinya tidak ada poin agama dalam konsep nasionalisme sehingga kaum Muslim menganggap bahwa nasionalisme adalah sekuler murni.</p>
<p>Pada umumnya ketika Khilafah Islamiyah di Turki tumbang pada 1924, yang menghadapi penjajah adalah kaum nasionalis. Dan mereka berhasil. Di Mesir ada Muhammad Najib, dan lain-lain. Terakhir merdeka pada zaman Gamal Abdul Naser. Begitu pula di Chad, Mitcel Aflak, Partai Ba’ats, Hafez Asad. Di Irak ada Hassan Sadr, Saddam Hussain. Mereka adalah nasionalis sekuler yang berhasil mengusir penjajah.<br />
Setelah penjajah pergi, menurut masyarakat Arab awam, nasionalis gagal membangun pemerintahan. Buktinya juga gagal. Tidak ada persatuan yang permanen. Pernah ada republik persatuan Arab yang anggotanya Mesir, Libia dan Syiria tetapi umurnya hanya satu tahun. Jadi bangsa Arab putus asa dengan ide nasionalis. Gantinya adalah Islam garis keras (<em>hardliner</em>).</p>
<p><em><br />
Alhamdulillah</em>, kita wajib bersyukur di Indonesia Islam dan nasionalisme bertemu. Dalam Pancasila, sila pertama agama dan sila kedua kebangsaan. Orang luar negeri heran, bentuk apakah itu. Sebab Islam kita khas, <em>ala</em> indonesia, nasionalisme-relijius. Boleh dikata, tidak ada orang nasionalis yang anti agama. Begitu pula tidak ada agamis yang tidak punya semangat nasionalis.<br />
Sejak berdirinya sampai sekarang, Nahdhatul Ulama juga kuat dengan konsep Negara Darussalam (negara damai), bukan Darul Islam, yang ditetapkan pada muktamar 1926 di Banjarmasin.<br />
Konsep Darussalam adalah negara yang mengaku semua komponen yang ada baik suku, agama dan budaya lalu digabungkan menjadi satu: negara Indonesia. Nah, nilai-nilai Islam itu ditransfer melalui semangat kebangsaan.<br />
Oleh karena itu, marilah kita isi kebangsaan ini dengan nilai-nilai agama, tidak usah dilegalkan, diformalkan, diresmikan menjadi konstitusi negara tapi cukup negara Pancasila, Republik Indonesia, bangsa Indonesia.<br />
Jadi peradaban bangsa ini kita isi dengan nilai-nilai agama dan agama harus amalkan dan diperkuat. Itu adalah komitmen Wahid Hasyim dan Muhammad Kahar Muzakir setuju mencoret Piagam Jakarta, asal spirit dari Piagam Jakarta masih ada dalam berbangsa ini yaitu mengamalkan ajaran Islam tetapi tidak usah dilegalformalkan.</p>
<p><strong>Dalam pandangan politis, pencoretan piagam Jakarta itu karena lobi orang-orang Indonesia Timur yang akan melepaskan diri dari negara kesatuan Indonesia kalau ada negara Islam? </strong><br />
Iya, saya sangat memahami itu. Tapi apa pun juga sebabnya, persatuan nasional, persatuan nusa dan bangsa harus diperkuat lebih dulu. Kita tidak usah berbicara tentang negara Islam karena itu pasti pecah. Sampai sekarang ini, kalau kita menjadikan negara Indonesia sebagai negara Islam maka akan terjadi perpecahan.<br />
Kita prioritaskan dan perkuat dulu persatuan negeri ini. Di dalam persatuan sebagai bangsa mari kita berlomba mengisi negara ini dengan nilai-nilai Islam.<br />
Contohnya begini, kalau di sana mereka membangun gereja maka kita harus membangun mesjid. Kalau di sana mereka membangun rumah sakit maka kita harus membangun rumah sakit pula. Nah, itu yang positif. Bukankah begitu? Kalau di sana mereka membangun rumah sakit, bukan rumah sakitnya yang harus dibakar. Kristen membangun gejera yang besar maka kita pun harus membangun mesjid yang besar pula. Orang Kristen membantu bencana alam maka kita pun harus begitu. Jangan sebaliknya, orang Kristen membangun gejara kok malah dibakar.</p>
<p><strong>Bagaimana dengan apologi bahwa agama kita yang berasal dari Timur Tengah yang di sana sendiri agama dan nasionalisme belum bisa bertemu?</strong><br />
Begini, kita mempunyai dasar yaitu Piagam Madinah. Nabi Muhammad saw membentuk sebuah komunitas Muslim di Mekah selama 13 tahun. Itulah yang namakan Ukhuwah Islamiyah, ikatan persaudaran Muslim. Di sana, siapa pun yang non-Islam, walaupun dia adalah ayahnya, kakaknya, ibunya, saudaranya sekalipun bukan saudara. Sebaliknya, siapa pun yang Muslim adalah saudara. Yang Muslim saudara dan yang non-Muslim bukan saudara.<br />
Tapi ingat, itu di Mekah. Siapakah yang non-Muslim? Mereka adalah kaum musyrikin, paganis, yang tidak punya kitab suci, tidak punya budaya, tidak punya peradaban dan sebagainya. Yaitu yang Jahiliah.</p>
<p>Kemudian Nabi saw pindah ke Yatsrib. Dinamakan Yatsrib karena yang membangun kota itu namanya Yatsrib bin Tsabit. Di sana kita menemukan sebuah masyarakat yang plural, ada Muslim Muhajirin, penduduk asli setempat (yaitu suku Aus dan Khazraj) dan masyarakat Muslim Anshar itu sendiri, serta tiga suku Yahudi (yaitu Bani Quraizhah, Bani Qainuqa dan Bani Nadhir).<br />
Ketika Nabi pindah ke sana, apa yang dilihat dan dihadapi berbeda pula. Muslim terdiri dari Muhajirin dan Anshar dan non-Muslimnya adalah Ahlulkitab Yahudi, bukan Musyrikin. Maka Nabi segera melakukan perjanjian damai yang menghasilkan surat kesepakatan Madinah yang ada di dalam kitab <em>Sirah Nabawiyah</em> yang ditulis oleh Ibnu Hisyam Anshari (juz. 2 hal. 219-222).<br />
Kesepakatan tersebut bertujuan untuk membangun sebuah kota yang beradab, yang di situlah akan ditegakkan kebenaran, hukum, kesetaraan, tidak ada diskriminasi, persamaan, keadilan, kesejahteraan dan sebagainya. Tidak pandang suku, agama dan lain-lain. Maka dalam piagam Madinah itu, tidak ada satu kata pun kata “Islam” dalam Piagam Madinah. Tidak ada kata “Islam”, tidak ada kata “Al-Quran”. Yang ada hanyalah keadilan, keamanan dan lain-lain.<br />
Poin pertama dalam piagam Madinah itu berbunyi, <em>Innal mukminin min Quraisy, wa Yatsrib, wal-Yahud, waman tabi’ahum wa lahiqa bihim</em> (Orang Islam Quraiys Madinah, orang Yahudi, dan siapa pun yang berkoalisi dengan mereka) <em>innahum ummatun wahidah</em> (mereka umat yang satu). Jadi jelaslah, masing-masing agama itu dipersilakan melaksanakan agamanya masing-masing.</p>
<p>Terakhir, piagam ini ditandatangani (disepakati) untuk memberantas kezaliman atau untuk menghadapi kezaliman. Jadi apa pun suku dan agamanya pasti dia akan aman.<br />
Nah, Piagam Madinah itulah yang merupakan cikal bakal lahirnya konsep <em>Tamaddun</em>. Maka, Yatsrib diganti namanya menjadi Madinah al-Munawwarah yang berasal dari kata “Tamaddun” yaitu Masyarakat yang berperadaban dan sadar hukum, maju dan modern.<br />
Tidak ada negara Islam, tapi negara Madinah. Saya bisa buktikan. Nabi Muhammad saw mau menerima hadiah dari seorang perempuan Mesir yang notabene Ortodoks Koptik, Maryah Qibtiyah, yang kemudian oleh Nabi dikasihkan kepada Hassan bin Tsabit seorang Kristen. Nabi juga menikahi seorang perempuan dari Yahudi, Hafsah bin Huyain.<br />
Bukti lain, ketika Umar bin Khaththab menjadi khalifah, orang-orang Kristen Syiria, Syam, Cyprus dan lainnya lebih suka berada di bawah Madinah daripada berada di bawah kekuasaan Romawi. Ini betul-betul sudah bertamaddun (berperadaban).<br />
Nah, kalau selama 13 tahun di Mekkah Nabi telah membentuk komunitas Muslim yang diikat dengan Ukhuwah Islamiyah maka setelah Nabi pindah ke kota Yatsrib, Nabi membentuk Ukhuwah Madaniyah, yang kalau kita lihat berarti Ukhuwah Wathaniyah (Hubungan sebangsa dan setanah air).<br />
Terakhir, ketika Nabi mau wafat, beliau berangkat haji dan berkhotbah di Arafah. Pada khotbah itu Nabi hanya mengucapkan, “Ya ayyuhannas, wahai manusia! Sesungguhnya nyawa, harta, dan martabat manusia itu suci mulia, seperti sucinya hari wukuf, bulan haji ini dan Batiullah di Mekkah.”<br />
Bukan wahai umat Islam, wahai Umat beragama, wahai Umat Semesta alam. Tapi wahai manusia! Di sini, Nabi Muhammad ingin menyampaikan Ukhuwah Insaniyah, persaudaraan sesama manusia. Setelah itu 84 hari setelah itu Nabi Muhammad wafat.<br />
Jadi, Nabi membangun Ukhuwah Islamiyah di Mekkah 13 tahun dan ditingkatkan di Yatsrib menjadi Ukhuwah Wathaniyah (nasionalis, nasionalis yang Wathaniyah, yang tamaddun, menjalankan kebenaran, keadilan dan bukan monotheisme).<br />
Dan yang terakhir Nabi bangun adalah Ukhuwah Insaniyah. Untuk ukhuwah yang terakhir ini, orang musyrik, Yahudi, Budha dan Hindu pun semuanya masuk. Semua nyawa, harta dan martabat manusia harus dihargai. Karena dia merupakan Hak Asasi Manusia. NU sendiri memiliki tiga Ukhuwah itu: Ukhuwah Islamiah, Ukhuwah Wathaniah (yang diadaptasi dari Madinah), dan Ukhuwah Insaniah.</p>
<p><strong>TENTANG TEOLOGI KERUKUNAN</strong></p>
<p><strong>Pelajaran apa yang bisa kita ambil seiring dengan berkembangan Pluralitas dan Multikultural saat ini?</strong><br />
Satu, kita harus memahami watak orang Irak. Sejak dulu mereka susah dipersatukan. Masyarakat Irak pernah bersatu ketika ia dipimpin oleh seorang diktator yaitu Hajjaj bin Yusuf Tsaqafi. Setelah itu selalu saja ada ajang pertikaian.<br />
Irak modern sekarang ini adalah mayoritas Suni kalau dilihat dari Kurdi non-Arab dan mayoritas Syiah kalau dilihat dari Arabnya saja. Jadi (mayoritas) Arab Irak itu Syiah, sedangkan Arab Irak Suni sedikit. Tapi kalau menghitung Kurdi yang non-Arab maka Suni menjadi mayoritas.<br />
Kita berkata terus terang: ayo, Anda mau berangkat dari mana, yang mau ditilik darimana? Bila qaumiah Arabiah (Nasionalisme Arab), maka yang akan jadi mayoritas adalah mayoritas Syiah. Untuk Suni sendiri, dia harus memasukkan suku Kurdi. Masalahnya, suku Kurdi sendiri mazlum (tertindas) selama kekuasaan Saddam Hussain.<br />
Satu-satunya presiden yang membunuh rakyatnya sendiri dengan senjata massal, terlepas adanya oposisi atau tidak, hanyalah Saddam Hussain. Di Halabja, jangankan suku Kurdi, ayam, bebek dan unggas lain yang tak tahu menahu pun, semuanya pada musnah.<br />
Banyak juga presiden yang membunuh rakyatnya sendiri secara massal tapi tidak dengan senjata pemusnah massal seperti yang dilakukan oleh Saddam Hussain.<br />
Jadi Saddam Hussain lah yang pertama kali menggunakan senjata pemusnah massal untuk membunuh rakyatnya sendiri. Korbannya ada yang menyong mulutnya, ada yang kulitnya terkelupas dan lain sebagainya. Yang selamat pun mengalami cacat.</p>
<p><strong>Dalam konteks Indonesia, pelajaran apakah yang kita bisa ambil dari konflik Irak sekarang?</strong><br />
Kita telah sepakat sejak dulu bahwa negara ini adalah negara Darussalam, negara yang aman dan damai. Bagaimanapun bangsa kita ini memiliki ciri dan tipologi tersendiri dengan menggabungkan atau mensinergiskan antara sila pertama dengan sila kedua, yaitu agama dan kebangsaan. Di negara lain nggak ada. Itulah kelebihan kita. Tinggal kita pelihara dan jaga saja. Konflik yang ada di negara kita ini, terus terang saja, awal mulanya ada yang bikin.</p>
<p><strong>Pada awal tadi, negara tidak boleh mengurusi masalah keyakinan umat beragama. Itu adalah urusan para ulama. Tapi pendapat Anda sekarang, negara perlu campur tangan?</strong><br />
Begini, negara itu hanya berperan menerima, menampung, dan melaksanakan aspirasi rakyat melalui ulama karena ulama adalah wakil rakyat yang sebenarnya (<em>informal leader</em>). Ulama menampung aspirasi rakyat, ulama sebagai jembatan yang membuat <em>progress</em> dengan <em>state</em> (negara).</p>
<p><strong>Bagaimanakah dengan sikap negara yang melakukan standarisasi agama, ada agama resmi dan agama tidak resmi?</strong><br />
Itulah problem kita yang harus dibicarakan dengan panjang lebar. Idealnya memang tidak perlu sejauh itu. Tapi untuk mengendalikan keadaan sementara, barangkali sekarang itu masih dibutuhkan. Toh, sejak Gur Dur menjadi presiden, hal itu telah dibuka lebar. Sekarang Kong Hu Chu dijadikan agama resmi. Sekalipun di Depag belum tercatat secara resmi, tapi mereka bisa secara bebas merayakan Imlek dengan Barongsai laksana 17 Agustusan dan Imlek dijadikan hari libur nasional.</p>
<p><strong>Gus Dur membela dan melindungi agama-agama minoritas seperti Kong Hu Chu. Apakah ini juga sikap resmi kaum Nahdhiyyin?</strong><br />
Yang namanya mayoritas itu harus membela dan melindungi yang minoritas. Ada perkembangan baru yang luar biasa ketika Nabi Muhammad saw menganggap Yahudi itu Ahlulkitab.</p>
<p>Ketika Sayidina Umar menjadi khalifah, dia masuk ke Persia dan menjumpai kaum yang baru ditaklukkan di sana yang beragama Majusi atau <em>ash-Shabi’ah,</em> penyembah bintang itu. Bagaimanakah ini? Apakah mereka sama dengan musyrikin dan kafir? Keputusannya, mereka adalah Ahlulkitab. Luar biasa ijtihad Umar itu. Dalil Qurannya, “<em>Walladzina amanu, wa Hâdu wash-Shabi’in, man amana billahi”</em>. Jadi mereka adalah monoteis.</p>
<p><strong>Bagaimana pandangan Anda tentang MUI?</strong><br />
MUI itu didirikan di masa Orde Baru, sama dengan KNPI. Kita <em>husnu dzan</em> saja ya. Waktu itu ia bermanfaat sebagai forum antar-mazhab yang mewakili kelompok Islam. Itu okelah. Tapi sekarang masanya sudah berubah. Kita harus tanyakan: Apakah MUI itu? Dikatakan ormas, jelas bukan. Karena MUI tidak punya massa.</p>
<p><strong>Apakah dia semacam Darul Ifta’ (Lembaga Fatwa)? </strong><br />
Kalau dia Darul Ifta’, ya nggak usahlah besar-besar seperti itu. Cukup 10 kyai dari berbagai mazhab yang duduk di situ, ditambah 4 atau 5 orang sekretaris, sudah cukup. Seperti Mahkamah Konstitusi atau Lembaga Kehakiman. Sampai sekarang payung hukumnya belum jelas.<span>   </span></p>
<p><strong>NU dikenal sebagai kelompok konservatif dan Muhammadiyah modernis. Sehingga NU bisa dikatakan memiliki ikatan emosional dengan tradisi-tradisi atau agama-agama lokal seperti Islam waktu telu dan Sunda wiwitan. Bagaimana pendapat Anda ?</strong><br />
Kita tetap harus berdakwah tentang Islam yang sebenarnya kepada mereka. Ada prinsip-prinsip <em>ma’lum min ad-din bidh-darûrah</em> (yaitu ada prinsip agama yang tidak bisa ditawar), seperti rukun Islam itu ada lima, rukun iman itu ada enam, Nabi Muhammad itu Nabi terakhir, al-Quran itu wahyu terakhir. Masalah rincian yang parsialnya silakan berbeda.</p>
<p><strong>Kalau begitu, dari berbagai mazhab di Indonesia yang keras dan yang lunak itu, kira-kira perekatnya apa?</strong><br />
Tetap. Kalau mereka mereka masih meyakini rukun Iman dan rukun Islam, mereka masih dikategorikan Islam.</p>
<p><strong>Soalnya masih ada kelompok yang masih mempermasalahkan masalah-masalah yang kecil-kecil begitu…</strong><br />
Gak apa-apa, masalah-masalah itu justru merupakan dinamika kita dalam bermasyarakat. Yang tahlil, yang nggak tahlil, yang salat tarawih 20 atau 8 rakaat itu dipersilakan.</p>
<p><strong>Masih ada yang menyesatkan dan mengafirkan orang tanpa dasar. Padahal mereka tahu bahwa kelompok yang mereka kafirkan itu masih mengimani Allah, al-Quran dan sebagainya?</strong><br />
Kalau begitu nggak akan pernah ketemu. Jangankan dengan non-Muslim, dengan sesama Muslim pun, baik yang Persis, NU, Muhammadiyah, atau pun Syiah, tidak akan ketemu kalau itu masih dipersoalkan.</p>
<p><strong>Ada kalangan yang berpendapat bahwa karena mayoritas Indonesia itu Islam dan tradisinya adalah tradisi Muslim itu maka formalisasi syariat Islam melalui Perda-perda syariat Islam akan semakin menguatkan posisi Islam Indonesia. Pandangan Anda?</strong><br />
Pertama-tama, yang Anda harus ketahui, berapa persen masyarakat Indonesia yang familiar dengan al-Quran? Yang melek sejarah Islam saja, berapa persen? Paling-paling Cuma 12% yang bisa baca dan familiar dengan al-Quran. Kita ini masih dalam <em>marhalah</em> (fase) dakwah, masih jauh dari Islam yang sebenarnya kita inginkan.<br />
Yang kedua, (bila ada) teman-teman kita yang kembali ke gerakan salaf, itu bagus dan harus, sebab di dalam hadis dikatakan, “<em>Khairu qurun, qurni tsummal ladzina yalunahum” </em>(sebaik-baik masa adalah masaku dan masa-masa setelahku).<br />
Tapi contoh (gerakan salaf) bukan berarti memelihara jenggot dan bercelana di atas mata kaki. Kalau sekadar ingin berjenggot atau bercelana seperti itu, ya silakan.<br />
Kita harus mengetahui bahwa tiga abad pertama Islam itu adalah masa-masa kejayaaan dan keemasan, yaitu masuknya <em>tsaqafah</em> (kebudayaan) <em>hadharah</em> (peradaban), ilmu pengetahuan, ilmu tafsir, ilmu hadis, ilmu tajwid, ilmu qiraat, ilmu nahwu, sharaf, balaghah, kedokteran, astronomi, dengan tokoh-tokohnya: Ibnu Sina, al-Farabi, al-Kindi, al-Khauqa, al-Idrisi yang ahli ilmu bumi. Semua terjadi di abad ketiga Hijriah, di samping Syafi’i, Maliki, Hambali, Hanafi, Bukhari, Muslim.<br />
Jadi, kalau kita mau bicara kembali ke salaf, ayo, saya setuju, tapi ilmunya (peradabannya) bukan hanya simbol sorbannya, jenggotnya dan juga celana yang di atas mata kaki itu. Ayo kita kembali membangun kejayaan Islam seperti salaf.</p>
<p><strong>TENTANG MAULID NABI SAW</strong></p>
<p><strong>Salah satu bentuk kembali ke salaf yaitu mengagumi Nabi Muhammad saw. Tapi mengapa dalam tradisi Muslim, hanya kelahiran Nabi yang diperingati, sedangkan hari wafat ulama diperingati?</strong><br />
Karena Nabi Muhammad lahir sebagai rahmat bagi seluruh alam, begitu lahir pun sudah menjadi <em>rahmatan lil ‘alamin</em>. Kalau manusia biasa selain Nabi, tidak diketahui akan menjadi apa kelak anak tersebut. Nah, setelah hidupnya terbukti bahwa dia adalah seorang yang alim, barulah wafatnya diperingati.</p>
<p><strong>Kenapa haulnya Nabi tidak diperingati, hanya lahirnya saja?</strong><br />
Karena sejarah dan pujian-pujian dalam syar-syair itu pun hanya pada hari lahirnya saja. (Dikatakan) bahwa Nabi lahir dengan penuh lautan cahaya dan membawa kebebasan, mengangkat derajat manusia, mengubah tatanan dunia. Yang disebut-sebut itu lahirnya dan bukan haulnya.</p>
<p>Dalam syair-syair seabrek-abrek disebutkan tentang kelahiran Nabi seperti yang terdapat di dalam Diba, Barzanji dan Burdah, Simtu Durar. Kalau Orang-orang mau menggubah syair atau sastra puji-pujian, yang ditekankan adalah kelahiran Nabi yang membawa rahmat.</p>
<p><strong>Kalau haul ulama?</strong><br />
Meniru keteladanannya, itu sebenarnya. Haul Sunan Gunung Jati, misalnya, diperingati karena beliaulah yang berjasa besar membawa Islam dan mengislamkan seluruh Jawa Barat ini. Termasuk wilayah Jayakarta, Banten, Sunda, dan Cirebon. Semuanya menjadi Muslim dan mengalahkan kerajaan Pajajaran pada waktu itu.</p>
<p><strong>Mengapa penghinaan kepada sosok Muhammad mendapat reaksi yang sangat keras dibanding penghinaan kepada Allah Swt atau Tuhan?</strong><br />
Saya tidak akan menjawabnya secara renci. Begini, kalau ada yang mengaku dirinya tuhan, dengan sendirinya dia segera tertolak mentah-mentah oleh semua orang yang waras akalnya. Bisa terjadi ada beberapa atau sejumlah orang akan percaya dengannya. Penghina tuhan akan kualat dengan sendirinya karena Tuhan tetap saja Tuhan.<br />
Berbeda halnya ketika ada orang yang mengaku nabi itu, kita akan memprotes keras. Misalnya Nabi dikritik karena poligaminya. Sebenarnya Nabi melakukan itu sebagai siasat perang. Perlu penjelasan dan pemaparan khusus akan hal ini.</p>
<p><strong>Kenapa perayaan Maulid Nabi di masyarakat NU itu lebih meriah dan lebih simbolis ketimbang di masyarakat Muhammadiyah?</strong><br />
Karena di sini ada budaya Syiah. NU menerima budayanya, bukan fikih atau teologinya. Budaya Syiah itu ya mencintai Nabi dan Ahlulbait. Di dalam bait-bait syair Barzanji tidak ada yang memuja dan nyanjung Abu Bakar, Umar dan Usman. Nggak ada.<br />
Contohnya, “Kami mempunyai bapak yang sangat kami cintai, yaitu Muhammad, kami punya Ali al-Murtadha, kami punya as-Sibthain (Hasan dan Husain), <em>kam Imam min ba’da khalafu</em> (dan imam-imam setelahnya) seperti Ali Zainal Abidin, anaknya Muhammad al-Baqir, sebaik-baiknya wali, dan putranya ash-Shadiq (Imam Ja’far Shadiq) dan putranya Ali Ridha, begitu lho.<br />
Jadi budaya Syiah masuk ke NU. Bahkan budaya Syiah pun masuk pesantren. Contohnya penghormatan kepada kyainya. Kalau kyainya meninggal maka yang menggantikannya adalah anaknya sekalipun secara kualitas sangat jauh berbeda. Soalnya keilmuannya, ya dia akan bisa mendapatkan dari guru-gurunya yang lain.</p>
<p><strong>Kalau banyak berasal dari kultur Syiah, apakah masyarakat yang sadar akan beralih ke gaya mencintai Nabi ala Muhammadiyah?</strong><br />
Nggak. Silakan Maulid Nabi dan Dibaan itu dikritik, tetap saja nggak bisa hilang dari kami. Malah yang kritik itu sendiri yang terpental.</p>
<p><strong>Mengapa?</strong><br />
Sebab Allah Swt sendiri yang memuji beliau. Dalam al-Quran, “<em>Innaka la’alâ khuqin azhîm”. </em>Dan kita punya keyakinan bahwa Nabi Muhammad adalah pemberi syafaat sebagaimana yang tercantum di dalam hadis-hadis sahih. Orang-orang yang banyak dosanya, kalau mereka berziarah kepada Nabi Muhammad dan beristigfar, dan Nabi sendiri memintakan ampunan, pasti mereka akan diampuni dosa-dosanya. “<em>Walau annahum zhalamû anfusahum jâ’ûka fastagfaruhumullah wastagfaruhumur-rasul. Lawajadûllaha tawwabar-rahima.” </em><br />
Ada yang bertanya, apakah Nabi Muhammad saw masih hidup sampai sekarang? Jawabannya, ya. Nabi masih hidup sampai sekarang. Buktinya, “<em>Assalamu ‘alaika” </em>dalam tahiyat salat, <em>“‘alaika”</em> berarti beliau masih hidup.<br />
Jadi, mereka yang datang ke kuburan jasad Nabi (di Madinah) lalu dia beristigfar dan Nabi memantau istigfar kita kepada Allah, maka Allah akan pasti akan mengampuni dosa-dosanya.</p>
<p><strong>TENTANG KULTUR SYIAH</strong></p>
<p><strong>Suni plus kultur Syiah ini, apa hanya khas di NU saja ataukah ada di tempat lain juga?</strong><br />
Tidak. di Mesir Maulid Nabi semarak sekali, ada tahlilan dan tawasulan. Begitu pula di Maroko. Di Saudi nggak semua (mengharamkan), hanya Najd dan Riyadh saja. Orang-orang Hijaz dan Madinah masih (membaca) Barzanji segala macam.<br />
Pada dasarnya umat Islam yang ada di Nusantara ini pada umumnya, terutama NU, berhutang budi banyak terutama kepada Ahlulbait yang telah menyebarkan Islam di Nusantara sejak dahulu kala. Kita semua tahu bahwa beberapa Wali Songo itu rata-rata keturunan Ahlulbait. Karena itu budaya Ahlulbait, budaya Syiah, mempunyai kesamaan dengan budaya Islam Indonesia. Seperti tawassul kepada Sayidina Ali dan Ahlulbait lainnya. Doa-doa seperti hizib yang dibaca oleh orang-orang kampung itu dimulai dengan (mengirim) surah Al-Fatihah kepada Rasulullah dan Ahlulbait.</p>
<p><strong>Tapi tradisi-tradisi seperti itu mulai menghilang dengan datangnya Wahabisme dan modernitas?</strong><br />
Pilar pertahanan Islam adalah budaya. Selama masih ada tahlilan, Diba, Barzanji, puja-puji kepada Rasulullah saw tidak bisa dihilangkan. Partai politik dan ormas bisa dihilangkan atau dilarang, tetapi budaya tidak bisa dihilangkan.<br />
Hati umat Islam Indonesia dan dunia sudah terpatri dengan kecintaan kepada Rasulullah dan Ahlulbaitnya secara mendalam, terlepas dia itu Suni atau Syiah. Semuanya mencintai dan menghormati Ahlulbait.<br />
Di Indonesia ada syair yang dibacakan kalau ada yang tertimpa musibah atau penyakit menular, yaitu: “<em>li khamsatun utfi biha harral wabai hatimah, al-Mustafa wal murtadha wabna huma wa Fathimah” </em>(Saya mempunyailima orang yang bisa menolak bala yaitu yang pertama, al-Mustafa Muhammad, yang kedua al-Murtahda Ali, dan kedua anakanya Hasan dan Husain, serta yang kelima Fathimah). Itu dibacakan oleh orang-orang kampung. Luar biasa. Selama itu masih dibaca, selama itu pula budaya Syiah masih ada di Indonesia.</p>
<p><strong>Dengan kata lain, Anda ingin mengatakan bahwa Wahabisme tidak bisa masuk ke dalam tradisi NU?</strong><br />
Ya. Silahkan mereka membuat yayasan di mana-mana, tetapi karena sudah jadi budaya itu tidak akan lepas dari NU.</p>
<p><strong>Bagaimana kasus komunitas Syiah di Bondowoso yang diisukan dekat dengan NU?</strong><br />
Itulah yang sangat disayangkan. Saya menghimbau dan mengharapkan kepada teman-teman aktivis Syiah, jangan sekali-sekali memformalisasikan mazhab. NU tidak pernah memusuhi Syiah. Mungkin malah sayang Syiah. Tapi bagaimanapun NU kan Suni yang beraliran Asy’ari dan di bidang tasawufnya adalah al-Ghazali.<br />
Jadi, jangan sekali-kali menonjolkan formalitas mazhab. Hubungan kita dengan Ahlulbait (Syiah) sudah sangat indah sekali, tidak bisa dilepaskan atau dijauhkan antara keduanya.<br />
Orang-orang awam belum mengetahui sejauh mana budaya Syiah itu. Hanya kita-kita yang berpendidikan sajalah yang memahami semua hal itu. Memformalkan Syiah hanya akan merugikan kita semua.</p>
<p><strong>Bagaimana dengan transfer khazanah keilmuan dari Persia ke budaya Indonesia?</strong><br />
Sangat luar biasa. Contohnya, huruf terakhir kata Arab yang diserap dalam Bahasa Indonesia yang berakhiran “h” dibaca “t”, seperti “surat”. Ini adalah budaya Persia.<br />
Ada lagi budaya Persia yang masuk ke dalam budaya Indonesia. Kalau kita membaca al-Quran, misalnya “<em>Hudan lil-muttaqin”,</em> maka (di akhir ayat pendengar) akan dijawab dengan “Allah” (dengan nada panjang dan lembut). Itu merupakan budaya Iran yang mencirikan kelembutan khas Iran.<br />
Mesir tidak begitu. Kalau mereka mendengar kata “<em>Hudan lil-muttaqin”</em> dibacakan maka mereka akan menjawab “Allahu Akbar” (dengan suara lantang). Kalau mereka mendengar orang membaca al-Quran dengan merdu kemudian tersentuh hatinya, seperti bacaan Syekh Abdul Basith, maka mereka akan berucap “Allah” (dengan keras).</p>
<p><strong>Konflik antar mazhab semakin mengeras semenjak Wahabisme muncul. Bagaimana NU memahami Wahabi?</strong><br />
Saya memahami Wahabi bagian dari Suni, tetapi Suni versi Mazhab Hambali. Hambali sendiri adalah di antara empat (mazhab) yang paling keras. Hambali ini pun kemudian ditafsirkan oleh Ibnu Taimiyah sehingga menjadi lebih keras. Operasionalnya dilakukan oleh Muhammad bin Abdul Wahab, menjadi semakin keras lagi dibandingkan dengan kepala induk dari mazhab ini sendiri. Salah seorang imam yang paling keras adalah Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab lebih keras lagi daripada Ibnu Taimiyah.</p>
<p><strong>Apakah yang Anda bisa simpulkan dari fenomena ini?</strong><br />
Kesimpulannyayang ingin saya sampaikan adalah bahwa Islam datang ke Indonesia dulu <em>bil hikmah wal mau’izhah wal mujadalah</em>. Dengan penuh hikmah (<em>wisdom</em>), akhlakul karimah, budaya, mauizhah (ceramah yang bagus), dengan diskusi dan debat yang ideal dan bagus. Semua itu dilakukan oleh Ahlulbait dan diteruskan oleh para mubalig dan para Kyai.<br />
Konon ada beberapa kyai yang keturunan Ahlulbait, tapi gelarnya dikesampingkan dan ditutupi. Saya sendiri, katanya, ada (garis) keturunan dari Syarif Hidayatullah, Sunan Gunung Jati. Kyai Sahal Mahfudz keturunan Sunan Kudus. Dan apalagi Gus Dur keturunan Sunan Ampel. Semua itu kembali kepada Ahlulbait. Orangtua-orangtua kita menghapus atau tidak menyebutkan al-Haddad, al-Habsyi dan sebagainya. Semua leluhur saya bliang begitu. Kakek saya semuanya keturunan Ahlulbait.<br />
Kesimpulan kedua, karena dakwahnya <em>bil hikmah,</em> maka budaya itu menyatu dengan kehidupan kita sebagai orang Islam melalui salawatan, puji-pujian dan melalui doa-doa. Jadi kita tidak bisa dipisahkan dengan budaya Ahlulbait. Sekali lagi, budayanya lho, bukan akidah atau politiknya.<br />
Cara berpikir Syiah boleh kita ambil meskipun kita berfikih Syafi’i dan berakidah Asy’ari. Lama-lama ini akan menjadi sebuah budaya dan nggak usah ditutup-tutupi.<br />
Di Indonesia juga ada tradisi Asyura (seperti upacara Tabut di Padang dan itu adalah budaya Syiah) juga tradisi mencintai Imam Ali. Semua orang tahu bahwa Sayidina Ali adalah seorang yang hebat dan mulia. Semua ini sudah menjadi sebuah budaya yang turun temurun yang diciptakan di komunitas masyarakat Islam Indonesia.</p>
<p><strong>TENTANG BUDIDAYA TASAUF</strong></p>
<p><strong>Apabila bentuk-bentuk keagamaan yang simbolis malah meruncingkan perbedaan antar mazhab, bisakah tasawuf atau mistisisme menjadi titik temu?</strong><br />
Mistisisme merupakan titik temu dan muara dari segala agama, bukan saja antara Islam dengan Islam saja tetapi di luar agama Islam. Seperti inilah yang dipraktikkan tasauf. Tidak ada orang yang tidak suka terhadap nilai-nilai keindahan akhlak seperti sabar, tulus dan sebagainya.<br />
Nggak ada orang yang menolak semua nilai itu meskipun kalangan Kristen, Hindu dan Budha dan Kong Hu Chu. Semua (ajaran) mengarah ke sana, kan? Karena dia merupakan puncak dari moralitas dan spiritual. Jadi dengan ini, kita bisa mempertemukan antara agama bukan hanya antara mazhab saja.</p>
<p><strong>Mempertahankan tasawuf hanya berarti melalui tradisonalisme, sedangkan tradisi itu adalah masalah utama masyarakat neo-modern. Bisakah kalangan muda NU eksis di dalamnya?</strong><br />
Begini, yang namanya budaya atau tradisi itu berangkat dari kampung. Kemudian kita membawanya ke kota dan di sana kita angkat ke atas (permukaan). Ia (tradisi tasauf itu) boleh dikritik, diperbaiki dan ditambal kekurangan-kekurangannya.</p>
<p><strong>Apakah hal itu tidak malah menghancurkan basis-basis tradisi yang ada di desa?</strong><br />
Tradisi itu kan berasal dari desa (kampung). Akarnya budaya itu berasal dari desa. Saya tidak bisa lepas dari budaya dan tradisi desa di mana saya berasal. Anda yang Sunda juga pasti dia tidak akan bisa lepas dari budaya Sunda yang Anda bawa dari desa ke Jakarta. Karena itu di mana pun Anda berada pasti unsur atau pola pikir Sundanya nggak akan hilang. Yang dari Madura juga tidak akan hilang. Di situlah, silahkan kalau ada kritik atau perbaikan, yang penting tidak bertabrakkan dengan kalimat<em> La Ilaha illa Allah, Muhammad Rasulullah.</em></p>
<p><strong>Salah satu menanamkan nilai-nilai adalah lewat peringatan-peringatan, dan itu juga menjadi momentum persatuan umat.</strong><br />
Ya. Dulu Maulid Nabi dimulai pertama kali oleh Khalifah Mu’idz Lidinillah, khalifah Fathimiah, salah satu khalifah keturunan Abdullah dari Tunisia tahun 363 H. Dia lalu masuk Kairo dan mengalahkan Ahmad bin Thulun. Khalifah Mu’idz kemudian menyatukan umat untuk merayakan Maulid Nabi secara besar-besaran.<br />
Dia kemudian mendirikan sekolah al-Azhar dengan nama Jauhar ath-Thaqul, lalu membangun kota Qahirah (Kairo) hingga kemudian dikalahkan oleh Dinasti Mamalik dan kemudian oleh Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi.<br />
Artinya, seremonial-seremonial seperti itu bisa menyatukan umat, dan menyatakan kepada umat bahwa kita memiliki seorang pemimpin yang namanya Muhammad dan kita harus mengikuti ajaran dan dakwahnya. Hal ini, sama halnya dengan kita memperingati hari 17 Agustus, untuk memperingati bahwa dulu bapak-bapak dan orangtua-orangtua kita telah mengorbankan nyawa, harta dan pikirannya demi kemerdekaan dan membangun Negara Indonesia yang tercinta ini. Adapun bentuk seremonialnya bisa disesuaikan dengan aneka kebudayaan umat yang ada, seperti di Yogyakarta misalnya dengan cirinya sendiri, di Cirebon dengan cirinya sendiri dan di Mesir pun akan lain lagi.</p>
<p><strong>TENTANG MENGAJARKAN CINTA NABI</strong></p>
<p><strong>Berarti harus adanya pentradisian di dalam keluarga?</strong><br />
Ya.</p>
<p><strong>Bagaimana kiat Anda dalam mendidik keluarga agar mencintai Nabi dan Ahlulbaitnya?</strong><br />
Setiap pagi anak-anak saya mendengar bapaknya melantunkan bait-bait Burdah. Pasti lama-lama mereka pun akan ikut juga. Saya hafal Burdah, Barzanji dan Diba. Nazham-nazhamnya saya hafal, <em>Asyraqal Badru ‘Alaina</em>, dan yang lain-lainnya juga saya hafal. Begitu juga, ketika saya masih kecil di kampung. Begitu saya melek (bangun tidur), saya mendengar bapak saya membaca Burdah, Barjanji, dan Diba. Jadi, saya hafal bait-bait syair berikut nazham-nazhamnya itu dengan itu dengan sendirinya.</p>
<p>Nggak usah Maulid Nabi, setiap kita ceramah, khotbah, dan dakwah kita pasti menyampaikan sejarah Nabi. Itu berarti memperingatkan kita bahwa kita punya pemimpin yang harus kita taati.</p>
<p><strong>Itu dibaca tiap kapan?</strong><br />
Nggak, tiap malam. Saya membaca Burdah itu malam sebelum subuh. Dan ini ada kisahnya. Ada seorang dari Alexandria bernama Abu Sa’id al-Busri yang terkena stroke dan mimpi berjumpa Rasulullah saw. Dia meminta izin akan mengubah syair kasidah untuk memuji-muji beliau. Setelah beliau pulang kembali bait syair itu sudah rampung. Lalu Rasulullah saw mempersilakannya. Setelah dia selesai menampilkan syairnya di depan Rasulullah saw, Rasulullah saw mengusap-ucap wajahnya dan keesokan harinya dia sembuh dari penyakit strokenya itu.[]</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/luthv.wordpress.com/34/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/luthv.wordpress.com/34/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/luthv.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/luthv.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/luthv.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/luthv.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/luthv.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/luthv.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/luthv.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/luthv.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/luthv.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/luthv.wordpress.com/34/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luthv.wordpress.com&blog=825886&post=34&subd=luthv&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luthv.wordpress.com/2007/05/10/%e2%80%9cja%e2%80%99fari-mazhab-resmi-islam-kelima%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/20ed5e2055cfc5d6bc59c063983d0538?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">luthv</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.icc-jakarta.com/id/images/stories/artikel/saidagil.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Image</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>“Fatwa MUI hanya untuk Syiah Ghulat”</title>
		<link>http://luthv.wordpress.com/2007/05/10/%e2%80%9cfatwa-mui-hanya-untuk-syiah-ghulat%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://luthv.wordpress.com/2007/05/10/%e2%80%9cfatwa-mui-hanya-untuk-syiah-ghulat%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 May 2007 07:45:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luthv</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosial Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luthv.wordpress.com/2007/05/10/%e2%80%9cfatwa-mui-hanya-untuk-syiah-ghulat%e2%80%9d/</guid>
		<description><![CDATA[“Namanya juga media massa, ada orang di pinggir jurang belum jadi berita. Tapi kalau sudah nyebur ke jurang baru jadi berita. Kadang-kadang dia tunggu dulu sampai orang itu masuk jurang. Bahkan bila perlu didorong agar masuk jurang supaya jadi berita.”
Itulah kritik Habib Muhammad Rizieq Shihab, Ketua Front Pembela Islam (FPI), terhadap media-media massa, yang baginya, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luthv.wordpress.com&blog=825886&post=33&subd=luthv&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em><img border="0" width="108" src="http://www.icc-jakarta.com/id/images/stories/artikel/hb_rizieq.jpg" hspace="6" alt="Image" height="160" style="float:left;" />“Namanya juga media massa, ada orang di pinggir jurang belum jadi berita. Tapi kalau sudah nyebur ke jurang baru jadi berita. Kadang-kadang dia tunggu dulu sampai orang itu masuk jurang. Bahkan bila perlu didorong agar masuk jurang supaya jadi berita.”</em></p>
<p>Itulah kritik Habib Muhammad Rizieq Shihab, Ketua Front Pembela Islam (FPI), terhadap media-media massa, yang baginya, sering tidak adil dalam memberitakan aktivitas ormas yang dipimpinnya. <span id="more-33"></span><br />
Padahal, bagi Habib Rizieq, demikian ulama vokal ini biasa disapa, FPI memiliki empat metode dalam menjalankan setiap aktivitasnya, yang jarang diungkap media-media massa.<br />
Pertama, FPI harus mengedepankan kelembutan sementara tindakan tegas hanyalah solusi akhir.<br />
Kedua, FPI hanya <em>concern</em><span> terhadap jenis “kemaksiatan” yang sudah disepakati, bukan yang masih diperselisihkan. </span><br />
Ketiga, FPI hanya memerangi maksiat yang dilakukan secara terang-terangan dan terbuka.<br />
Keempat, FPI membagi dua wilayah: amar makruf dan nahi mungkar. Amar makruf adalah wilayah kemasiatan yang “didukung” oleh masyarakat, misalnya, karena persoalan mata pencaharian. Di sini, tidak dilakukan tindakan tegas demi menghindari konflik horizontal dan mudarat yang lebih besar. </p>
<p>Wilayah seperti ini adalah harus didekati dengan memperbanyak dakwah, mengirim ustad, dan melakukan pencerahan tentang buruknya maksiat. Sedangkan wilayah nahi mungkar adalah ranah kemasiatan yang sudah tidak disukai oleh masyarakat. Hanya saja karena kemaksiatan itu didukung oleh pihak-pihak yang punya kekuatan, maka masyarakat menjadi takut dan diam.<br />
“Inilah penegakan amar makruf dan nahi mungkar model FPI yang tak pernah diungkap media,” keluh Rizieq, yang pernah mendekam di Rutan Salemba selama tujuh bulan karena dianggap menyebarkan perasaan permusuhan dan kebencian terhadap pemerintah (154 KUHP) pada Agustus 2003.<br />
Di rumahnya yang sederhana, di Gang Bethel kawasan Petamburan, ulama berusia 43 tahun, lulusan Ummul Quro, Saudi Arabia, itu menerima SYIAR untuk berbincang seputar Islam di Indonesia.</p>
<p><strong>Bisa diceritakan mengapa Anda membentuk FPI?</strong><br />
FPI lahir karena tuntutan situasi dan kondisi ketika kemaksiatan dan kezaliman merajalela di mana-mana, sehingga harus ada barisan umat yang berani mengambil sikap tegas, jelas, dan nyata dalam berkonfrontasi melawan kemasiatan, kemungkaran, dan kezaliman. Visi dan misi FPI adalah amar makruf dan nahi mungkar menuju penerapan Islam secara <em>kaffah</em>.<br />
Ulama menjelaskan bahwa <em><u>h</u>isbah </em>(perkara-perkara yang tidak ada dalam narasi agama tetapi tidak boleh diabaikan—red) tidak berlaku hanya pada negara tetapi juga pada perorangan. Imam al-Mawardi dalam <em>al-A<u>h</u>kâm as-Sulthâniyyah</em>, manakala negara telah melaksanakan tugas <em><u>h</u>isbah</em> -nya, maka individu tidak wajib lagi. Cuma yang jadi pertanyaan, bagaimana bila perangkat di negara ini tidak menegakkan <em><u>h</u>isbah</em>? Maka, kewajiban itu tidak gugur dari pundak kita.<br />
Di Indonesia, kewajiban <em><u>h</u>isbah</em> ada pada pundak pemerintah, penegak hukum, polisi, jaksa, hakim, dan seterusnya. Manakala perangkat ini bekerja dan berfungsi secara optimal, maka organisasi semacam FPI tidak diperlukan lagi. Sebaliknya, bila semua perangkat itu tidak berfungsi, maka keberadaan FPI menjadi keharusan dan kebutuhan. Sebagai bagian dari masyarakat, FPI adalah perwujudan penolakan atas kemaksiatan dan kezaliman.</p>
<p><strong>Apakah Anda punya model negara ideal yang menjalankan syariat Islam?</strong></p>
<p>Sekarang ini telah bermunculan negara-negara Muslim yang menjalankan hukum Islam. Di samping punya kelebihan, mereka juga punya kekurangan. Contohnya adalah Iran. Setelah Shah Iran tumbang, Ayatulah Khomeini dan pengikutnya membentuk Republik Islam Iran. Terlepas dari perbedaan mazhab yang ada, kita juga jangan lupa bahwa model kepeimipinan Islam ini kan juga terlihat di Sudan meskipun sudah diacak-acak kekuatan asing. Kalau lemah, niscaya Iran pun akan diacak-acak. Sebagaimana kita tahu, sejak memproklamasikan diri sebagai Republik Islam, Iran langsung diserang Irak, dan terjadilah Perang Teluk. Iran <em>dikerubuti </em>berbagai macam negara dan tekanan Barat juga tidak berkurang. Artinya, tidak ada satu pun negara Islam di dunia ini yang akan luput dari tekanan. Di Aljazair, partai Islam sudah menang pemilu tapi dikhianati.<br />
Di kalangan Syiah, Iran sudah menjadi contoh, meskipun ada perbedaan pendapat antara Khomeini dan Muhammad Jawad Mughniyah tentang konsep “wilayatul faqih” yang belum tuntas hingga saat ini. Polemik ini adalah salah satu wujud kekurangan Iran. Sedangkan dari segi sistem politik, Iran boleh dikatakan sudah menjadi percontohan. Kita berharap ke depan akan muncul negara-negara Islam lainnya yang bisa menjadi percontohan.<br />
Ada beberapa kesan yang saya dapat dari kunjungan saya ke Iran. Sebagai Sunni Syafi’i, tentu kita punya pandangan sendiri tentang Syiah. Namun demikian, antara memandang Syiah dari jauh dengan memandang Syiah dari dekat itu beda. Dari jauh, Syiah itu begini dan begitu. Sedangkan bila dilihat dari dekat, ternyata tidak seperti itu. Setidaknya, kunjungan saya (ke Iran—red) itu akan melunturkan kebekuan. Tadinya mungkin kaku dan anti-dialog. Tapi setelah kunjungan itu, agak sedikit lebih cair dan terbuka. Yang kemarin tidak mau mendengar sekarang jadi mau mendengar. Yang kemarin mau menyerang kini mengajak dialog.<br />
Ke depan, sikap ini perlu dikembangkan. Sebetulnya banyak perbedaan Sunni-Syiah, baik dalam <em>ushul </em>maupun <em>furu</em>’. Tapi kita ingin menjawab dalam realita kehidupan sehari-hari, apakah betul tidak ada jalan untuk mendudukkan mereka bersama. Apakah betul tidak ada ruang dialog di antara mereka?<br />
Saya lihat banyak sisi yang bisa didialogkan. Selama secara terang-terangan dan terbuka mencaci-maki Abu Bakar, Umar, dan Usman, berarti orang-orang Syiah telah menutup pintu dialog. Mustahil ada Sunni yang mau diajak dialog kalau mendengar dari mulut Syiah sesuatu yang jelek tentang mereka. Orang Syiah mesti memahami kejiwaan dan perasaan sensitif Sunni sehingga tidak mencaci-maki atau menghina, apalagi mengkafirkan mereka.<br />
Begitu juga sebaliknya. Sunni tidak boleh menggeneralisasi bahwa semua Syiah itu kafir dan sesat. Kalau diambil, pasti sikap seperti ini akan menyakiti hati orang-orang Syiah. Ini juga akan menutup pintu dialog.<br />
Jadi, persatuan yang saya pahami bukan soal sependapat atau tidak sependapat. Persatuan adalah masalah hati. Bila hatinya baik, berjiwa besar, mau menerima perbedaan, mau berdialog, tidak mencaci-maki, dan tidak menghina, setiap orang pasti bisa bersatu. Tapi kalau hatinya sudah busuk dan rusak, orang tidak akan pernah bisa (bersatu—red). Perbedaan kecil sedikit pun bisa menimbulkan permusuhan.<br />
Perbedaan sekecil apa pun, bila disikapi dengan jiwa kerdil, dada sempit, sikap egois, dan mau menang sendiri, pasti akan mendatangkan perpecahan dan malapetaka. Apalagi kalau perbedaannya besar, <em>wah </em>sudah pasti hancur lebur. Sebaliknya, perbedaan sebesar apa pun, kalau disikapi dengan jiwa besar, dada lapang, sikap <em>tafâhum</em>, dan saling hormat, <em>insya Allah</em> tidak akan menimbulkan perpecahan.<br />
Sekali lagi, persatuan ini adalah masalah hati. Kita tidak bisa memaksakan orang untuk sependapat. Mustahil. Sebab perbedaan pendapat adalah sunnatullah yang akan selalu ada di setiap tempat dan zaman.<br />
Bila Syiah mengkritik kepemimpinan Abu Bakar dengan cara ilmiah dan santun dan disertai dalil-dalil dan argumentasi yang baik, Sunni wajib menjawabnya. Kita pun mesti menjawab pertanyaan-pertanyaan orang kafir yang bertanya tentang akidah kita. Seperti Ahmad Deedat terhadap pertanyaan-pertanyaan orang kafir. Begitu juga sebaliknya. <em>Nah</em>, kedua belah pihak (Sunni-Syiah—red) harus menjawab dengan santun.<br />
Kalau Syiah, tanpa angin dan hujan, tiba-tiba mencaci Abu Bakar, itu sama saja <em>ngajak </em>perang. Kritik terhadap sahabat, yang bagi Ahlusunah adalah tabu tetapi biasa bagi Syiah, hendaknya disampaikan dengan adab, ilmiah, <em>akhlaqul karimah</em>, dan tidak emosional.<br />
Membangun hal seperti ini tidaklah mudah tetapi ini bisa menyatukan hati dan langkah dalam <em>kalimatullah</em>. Itu yang lebih penting.</p>
<p><strong>Pandangan Anda tentang Syiah di Indonesia?</strong><br />
Kalau yang saya lihat selama ini, hubungan saya baik dengan kawan-kawan Syiah di Indonesia. Apa yang saya sampaikan ke Anda sekarang ini juga sudah saya sampaikan kepada mereka. Contohnya kepada Ustad Hassan Daliel, saya katakan, “Bib (habib—red), kenapa kita bisa jalan <em>bareng</em>? Karena saya belum pernah mendengar Anda mencaci-maki sahabat. <em>Nah</em>, ini perlu dijaga. Yang saya dengar kritik <em>antum </em>juga sopan. Tapi kalau suatu saat saya mengkafirkan Anda dan Anda maki-maki sahabat, kita bisa <em>musuhan</em>.” Ini sebagai gambaran umum dari apa yang saya terima dari Ustad Hassan Daliel, Othman Shihab, Agus Abubakar, Husein Shahab, Zein Alhadi, dan banyak lagi ustad-ustad Syiah yang tidak perlu saya sebutkan satu persatu. Saya belum pernah mendengar ungkapan jelek dari mulut-mulut mereka. Yang saya tahu mereka adil, berilmu, berakal, dan beradab. Mudah-mudahan hubungan ini bisa dipertahankan. Bahkan bukan hanya itu, saya berharap orang-orang seperti mereka mampu tampil ke depan mendorong orang-orang Syiah yang di bawah atau junior-junior mereka agar tidak mencaci-maki sahabat nabi. Sebab, ada satu saja Syiah yang mencaci-maki sahabat, nanti orang-orang Sunni yang tidak paham akan menggeneralisasi bahwa Syiah memang seperti itu. Orang awam kan mudah menggeneralisasi.</p>
<p><strong>Iran dikenal sebagai negara yang paling banyak membantu perjuangan Hamas dan rakyat Palestina yang notabene Sunni. Apakah kenyataan ini tidak bisa dijadikan momentum persatuan Sunni-Syiah?</strong><br />
Iya, betul itu. Itu hal yang saya sangat catat. Waktu saya ke Iran kemarin, Khaled Mishal (Ketua Depatemen Politik Hamas—red) baru saja pulang dari Iran, tempat yang sama dengan yang kita datangi.<br />
Jadi, hubungan Hamas dan Hizbullah yang saling topang dan bantu seharusnya menjadi potret bagi persatuan umat. Mereka tetap pada pendapatnya masing-masing. Tapi pada saat mempunyai musuh bersama yang bernama Israel dan Amerika, kekafiran dan kezaliman, Hamas-Hizbullah bisa duduk dan jalan bersama. Kita juga bisa melihat hubungan erat antara Hasan Nasrullah (Sekjen Hizbullah—red) yang Syiah dengan Fathi Yakan (tokoh Ikhwanul Muslimin di Lebanon) yang Sunni. Bahkan Nasrullah <em>ngomong </em>secara terbuka bahwa Fathi Yakan-lah yang pantas menggantikan Siniora. Inilah potret positif yang luar biasa di zaman modern ini.<br />
Di sisi lain, kita juga sedih bagaimana Syiah dan Sunni di Irak begitu gampang diadu domba. Ini jelas permainan pihak ketiga. Dia (pihak ketiga—red) meledakkan mesjid Syiah dan menuding Sunni, dan kemudian meledakkan mesjid Sunni dan menuding Syiah.<br />
Saya berharap kita bisa mengembangkan potret Sunni-Syiah yang pertama. Potret yang kedua harus dihentikan segera. Sekarang di mana-mana semakin transparan adu dombanya, seperti di Irak dan Pakistan. Karena Syiah di Indonesia tidak besar, maka (adu domba itu—red) belum terasa. Tapi di beberapa tempat adu-domba ini jelas berhasil.</p>
<p><strong>Syiah bukan barang baru di Indonesia. Menurut Sejarahwan, Syiah datang dari Gujarat dan Persia. Setidaknya budaya Persia cukup dikenal dalam tradisi keberagamaan di Indonesia. Apakah ini bisa jadi salah satu faktor pemersatu Sunni-Syiah?</strong><br />
Iya, itu bisa jadi faktor. Tapi, tetap faktor utamanya adalah masalah jiwa besar dan akhlak yang baik. Orang Syiah yang berilmu dan berakhlak tidak akan mungkin dari mulutnya keluar caci-maki kepada umat lain. Tidak ada. Saya kenal ulama-ulama Syiah yang berakhlak dan berilmu. Tidak ada keluar kata-kata kotor dari mulut mereka. Jadi, bila ada aktivis-aktivis Syiah yang mengeluarkan kata-kata kotor tentang sahabat, saya jadi heran, mereka itu <em>ngikutin </em>siapa?<br />
Jadi, semua kembali ke hati, yang gambarannya bisa dilihat dari mulut. Bila mulutnya sudah penuh umpatan dan caci-maki, pasti hatinya sudah jelek. Kalau hatinya baik, dia bisa menghargai orang. Dia bisa mengetahui dan menahan ucapannya yang bisa menyinggung saudaranya. Bila ingin menyampaikan kebenaran, ia menyampaikannya dengan santun. Bahkan bila kita berhadapan dengan orang kafir, meski mungkin hatinya mencaci-maki Islam, yang menyampaikan kritiknya dengan sopan, kita mesti menjawabnya. Nabi dulu juga berdialog dengan orang musyrik, kafir, Nasrani, dan Yahudi. Itu contoh bagi kita.</p>
<p><strong>Bagaimana dengan fatwa MUI yang menyesatkan Syiah?</strong><br />
Begini, kita tidak bisa menggeneralisasi semua Syiah sesat atau semua Syiah tidak sesat. Sebab orang Syiah pun merngakui bahwa di internal Syiah pun terdapat macam-macam golongan, dan di dalamnya ada pula yang sesat, yakni yang menuhankan Ali, meyakini Jibril salah menyampaikan risalah, dan al-Quran yang seharusnya lebih tebal daripada sekarang. Itu ada dan diakui oleh Syiah <em>mainstream</em>. Dalam hal ini, yang dimaksudkan dengan fatwa MUI tadi adalah Syiah yang semacam itu.</p>
<p>Yang perlu disadari betul oleh Syiah adalah bahwa Ahlusunah punya sikap tegas soal sahabat. Bagi Sunni, siapa pun yang mencaci-maki dan apalagi mengkafirkan sahabat akan dikatakan sesat. Ini kunci.<br />
Oleh karena itu, untuk mengambil jalan tengah, Syiah harus menahan diri dari mencaci-maki dan mengkafirkan sahabat. Ajaklah Sunni berdialog, seperti yang dilakukan kelompok Zaidiyah yang masih bagian dari Syiah. Kenapa Sunni dan Zaidiyah bisa akrab? Bahkan, kitab-kitab Zaidiyah, seperti <em>Subulus Salâm</em> dan <em>Naylul Awthâr</em>, dipakai di pondok-pondok (pesantren—red) Sunni.<br />
Jadi, yang dikafirkan MUI tanpa ragu-ragu adalah Syiah yang mengkafirkan sahabat, yang meyakini al-Quran berubah, atau yang menganggap Ali lebih <em>afdhal </em>daripada Muhammad. Sekarang tinggal Syiah Indonesia introspeksi diri, apakah mereka masuk ke dalam ciri-ciri yang disesatkan MUI? Kalau tidak masuk dalam kelompok tersebut, tidak perlu gerah dengan fatwa itu. Saya sendiri lebih suka MUI membuka dialog. Hendaknya MUI mengundang tokoh-tokoh Syiah Indonesia untuk klarifikasi seperti apakah Syiah mereka itu.<br />
Sekali lagi, saya berpendapat, kita tidak bisa mengeneralisasi Syiah. Sebab, Syiah itu macam-macam: ada yang moderat, konservatif, ekstrem, dan bahkan ada yang kafir. Bahkan, Muhammad Jawad Mughniyah (ulama Syiah Lebanon—red) dalam <em>al-Fiqhu ‘ala al-Mazhâhib al-Khamsah</em> mengatakan bahwa Syiah <em>ghulat </em>adalah kafir. Katanya, gara-gara <em>ghulat, </em>kami, Syiah Ja’fariyah, yang moderat jadi tertuduh. Waktu di Qum, saya melihat aparat menggerebek majelis Syiah Alawiyah, yang menuhankan Ali. Artinya, yang mengkafirkan Syiah <em>ghulat </em>bukan hanya MUI, bahkan ulama Syiah pun mengkafirkannya. Jadi kita perlu memahami konteks fatwa MUI tersebut.</p>
<p><strong>Salah satu cara mendidik umat adalah menghidupkan tradisi keagamaan. Bagaimana sikap FPI?</strong><br />
Dari segi praktiknya, FPI tidak beda dengan NU dalam hal menjalankan tradisi Islam. FPI bukan kelompok <em>nawasib</em> (Sunni ekstrem—red). FPI adalah Sunni Syafi’i, meskipun tidak disyaratkan secara mutlak. Menghormati Nabi saw dan keluarganya sangat dijaga dalam FPI. Setiap anggota FPI wajib mencintai Ahlulbait, sahabat, tabi’in, dan tabi’ut-tabi’in, dan bahkan ulama sekarang. Di dalam FPI, tradisi cium tangan ulama masih berlaku. Bagi FPI, itu hanya sekadar penghormatan bukan pengkultusan, termasuk juga memperingati hari besar Islam, seperti tahun baru Hijrah, Maulid, dan Asyura yang sejarahnya diakui Sunni.<br />
Di Indonesia, tradisi Maulid bisa (berlangsung—red) sampai 4 bulan. Di Iran, Maulid hanya diselenggarakan pada 12 hingga 16 Rabiul Awal. Tanggal 12 adalah versi Sunni sedangkan 16 versi Syiah. Berarti 1 minggu berturut-berturut (di Iran—red) diperingati Maulid sebagai bentuk penghormatan kepada Sunni-Syiah. Di Indonesia, (Maulid—red) bisa sepanjang tahun. Kadang-kadang bulan puasa pun baca Maulid. Di FPI, <em>ratiban </em>dibaca tiap kamis sore.<br />
FPI juga punya <em>munajat al-jabhah</em>, artinya “munajat front”. Isi munajat itu adalah <em>ratib haddad</em>, <em>ratib athos</em>, wirid Syekh Abu Bakar bin Salim, dan wirid akidah Syekh Ali bin Abu Bakar as-Syakrar. Jadi, itu gabungan dari beberapa wirid yang pernah diamalkan para <em>habaib </em>terdahulu, seperti Habib Abdullah bin Alwi Alhaddad, Habib Umar bin Abdurrahman Alathos, Syekh Abu Bakar bin Salim, dan lain-lain. Mereka ini mempunyai wirid dan munajat yang kita baca. Ada juga wirid dari Ahlulbait Nabi saw, seperti munajat Sayyidina Ali, Sayyidah Fathimah, dan Imam Ali Zainal Abidin, yang juga dibaca FPI, bukan hanya di Jakarta tetapi juga FPI di seluruh Indonesia.</p>
<p><strong>Bagaimana relasi dengan kelompok Islam lain yang anti-tradisi?</strong><br />
Saya bergaul dengan berbagai macam kelompok. Dengan Ustad Abubakar Baasyir, saya sudah seperti keluarga. Saya anggap dia itu orang tua dan kawan. Meskipun orang tahu bahwa kita berdua punya pandangan yang berbeda tentang tradisi. Beliau orang yang arif. Beliau tetap punya pendapat dan dalil tetapi tidak menyerang kita. Saya bisa duduk dan diskusi bersama. Ada urusan umat yang lebih besar daripada sekedar kebolehan dan keharaman tahlil. Ada prioritas.<br />
Kadang-kadang kita juga bicara tentang persoalan <em>furu’</em>, tetapi sifatnya ringan saja. Misalnya, waktu sama-sama di Lapas Salemba, kita sempat bicara tentang qunut subuh. Saya qunut karena ikut mazhab Syafi’i. Beliau tidak pakai qunut. Suatu kali beliau bilang dapat dalil bahwa Ibnu Abbas juga pakai qunut. Artinya, beliau juga mengkaji tetapi pembicaraannya ringan dan tetap saling menghormati.<br />
Kenapa bisa demikian? Karena kita bisa berjiwa besar dan berlapang dada. Kalau mereka tidak menyerang kita, kita juga tidak boleh menyerang mereka. Kalau sekedar kritik dengan ilmu dan adab, ya…boleh saja dan itu juga perlu dijawab dengan cara yang serupa.<br />
Tidak bisa kita identikkan tegas dengan ekstrem sehingga membenci segala macam tradisi. Kalau Salafi mengkritik dengan baik-baik, kita juga akan menjawabnya dengan baik-baik. Tapi, kalau ada orang-orang yang mudah memusyrikkan dan mengkafirkan orang-orang yang <em>tawasul </em>dan <em>tabaruk</em>, maka sesungguhnya mereka tidak bisa membedakan antara kemungkaran yang disepakati, yang memang harus dilawan dengan tegas, dan bagian-bagian yang tidak disepakati perihal mungkar tidaknya. Ini adalah persoalan <em>khilafiyah</em>. Sikap terhadapnya berbeda.</p>
<p><strong>Bagaimana Anda membina keluarga? Kondisi Anda sekarang ini tentu berefek juga secara psikologis kepada anak-istri?</strong><br />
Yang saya pahami, rumah tangga adalah miniatur dari penegakan dakwah, amar makruf, dan nahi mungkar sebelum (ketiga konsep itu—red) diterapkan di luar rumah tangga.<br />
Yang saya lihat, banyak orang yang salah mengartikan konsep dakwah, amar makruf, dan nahi mungkar sehingga terjadi kesemrawutan definisi, pengertian, dan penerapan konsep ini. Padahal ketiga hal itu mempunyai metodenya sendiri-sendiri. Meskipun secara umum, setiap dakwah pasti mempunyai kandungan amar makruf dan nahi mungkar. Setiap amar makruf dan nahi mungkar pun pasti mengandung unsur dakwah. Ketiganya saling mengisi dan terkait.<br />
Tetapi mengapa dalam ayat tersebut, Allah membedakan ketiganya? Berarti ada fokus penekanan yang berbeda satu sama lain.<br />
Bentuk realistisnya ada dalam rumah tangga. Dalam hadis dikatakan, anak di bawah 7 tahun tidak boleh dipaksa salat, disuruh pun tidak usah. Cukup diajak dan diberi contoh saja. <em>Nah</em>, mengajak itu namanya dakwah. Kenapa cuma dakwah saja? Sebab, anak kecil belum tahu apa-apa. Dia tidak tahu mana baik dan buruk. Sifat khas mengajak adalah kelembutan, tidak boleh secara keras dan malah harus merayu<br />
Pada usia 7-10 tahun, anak sudah disuruh, bukan lagi diajak. Nabi saw mengatakan “suruh”. Ayo kita salat dan ambil wudu. Menyuruh lebih tegas daripada sekadar mengajak. Tidak ada rayuan lagi. Ini sudah masuk konsep amar makruf, seperti atasan yang menyuruh bawahan. Saat usia 10 tahun, Nabi saw menyuruh “dan pukul mereka saat berusia 10 tahun”. Begitu kita pukul untuk salat, itu sudah masuk tahap nahi mungkar.<br />
Jadi, dakwah mesti lembut sementara amar makruf mesti keras.<br />
Masyarakat awam yang masih belum <em>ngerti </em>Islam sama seperti anak yang belum berusia 7 tahun. Ini juga berlaku bagi mereka yang belum masuk Islam atau kafir. Bagi yang baru kenal Islam, anggap saja mereka baru berumur 7 tahun. Konsep amar makruf bisa diterapkan setelah mereka lama mengenal Islam tetapi <em>bandel </em>tidak mau melaksanakan syariat. Saat itu, kita bisa anggap mereka sebagai anak usia 10 tahun ke atas, mesti keras, dipukul, seandainya mereka coba-coba <em>bikin </em>maksiat.<br />
Sikap saya dalam rumah tangga dan di luar rumah tidak jauh beda. Anak-anak saya sudah tidak kaget melihat saya perang dengan mafia. Anak-anak saya juga sudah tidak kaget bila menerima telepon bernada teror, mengancam, dan mencaci-maki. Sebab, mereka sudah kita doktrin. Mereka akan mengatakan, “<em>wah </em>itu musuh abah.” Yang penting kan bukan abahnya yang dibilang penjahat (tertawa). Karena itulah, anak-anak saya tidak pernah malu bila melihat saya di penjara. Mereka tetap percaya diri, tidak <em>minder</em>, dan malah bangga karena ayahnya di penjara demi membela agama.</p>
<p><strong>Siapa guru yang paling berperan dalam membentuk karakter Anda seperti sekarang?</strong><br />
Dulu saya, Ustad Hassan Daliel dan Ustad Othman Shihab, sama-sama belajar di al-husaini bimbingan Almarhum Habib Muhsin bin Ahmad Alatas. Guru saya ini ahli fikih yang tegas. Dia akan katakan yang hitam ya hitam dan putih ya putih, yang halal ya halal, yang haram ya haram. Beliaulah yang paling banyak memberikan dorongan dan mewarnai pemikiran saya karena beliau pulalah yang mengenalkan saya sejak awal tentang apa itu Islam. Ini yang paling berkesan. Dia mengatakan yang hak itu hak, yang batil itu batil, walaupun seisi dunia akan mencerca kita. Itulah yang saya pegang sampai sekarang. Dan itulah pula yang saya terapkan dalam keluarga.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/luthv.wordpress.com/33/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/luthv.wordpress.com/33/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/luthv.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/luthv.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/luthv.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/luthv.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/luthv.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/luthv.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/luthv.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/luthv.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/luthv.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/luthv.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luthv.wordpress.com&blog=825886&post=33&subd=luthv&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luthv.wordpress.com/2007/05/10/%e2%80%9cfatwa-mui-hanya-untuk-syiah-ghulat%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/20ed5e2055cfc5d6bc59c063983d0538?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">luthv</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.icc-jakarta.com/id/images/stories/artikel/hb_rizieq.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Image</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ibnu Araby</title>
		<link>http://luthv.wordpress.com/2007/03/05/ibnu-araby-2/</link>
		<comments>http://luthv.wordpress.com/2007/03/05/ibnu-araby-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Mar 2007 13:33:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luthv</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luthv.wordpress.com/2007/03/05/ibnu-araby-2/</guid>
		<description><![CDATA[ Ibnu &#8216;Araby dikenal luas sebagai ulama besar yang banyak pengaruhnya dalam percaturan intelektualisme Islam. Ia memiliki sisi kehidupan unik, filsuf besar, ahli tafsir paling teosofik, dan imam para filsuf sufi setelah Hujjatul Islam al-Ghazali. Lahir pada 17 Ramadhan 560 H/29 Juli 1165 M, di Kota Marsia, ibukota Andalusia Timur (kini Spanyol), Ibnu &#8216;Araby bernama lengkap [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luthv.wordpress.com&blog=825886&post=26&subd=luthv&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p> Ibnu &#8216;Araby dikenal luas sebagai ulama besar yang banyak pengaruhnya dalam percaturan intelektualisme Islam. Ia memiliki sisi kehidupan unik, filsuf besar, ahli tafsir paling teosofik, dan imam para filsuf sufi setelah Hujjatul Islam al-Ghazali. Lahir pada 17 Ramadhan 560 H/29 Juli 1165 M, di Kota Marsia, ibukota Andalusia Timur (kini Spanyol), Ibnu &#8216;Araby bernama lengkap Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Ali bin Abdullah bin Hatim. Ia biasa dipanggil dengan nama Abu Bakr, Abu Muhammad dan Abu Abdullah. Namun gelarnya yang terkenal adalah Ibnu &#8216;Araby Muhyiddin, dan al-Hatamy. Ia juga mendapat gelar sebagai Syeikhul Akbar, dan Sang Kibritul Ahmar.</p>
<p><span id="more-26"></span></p>
<p>Tumbuh besar di tengah-tengah keluarga sufi, ayahnya tergolong seorang ahli zuhud, sangat keras menentang hawa nafsu dan materialisme, menyandarkan kehidupannya kepada Tuhan. Sikap demikian kelak ditanamkan kuat pada anak-anaknya, tak terkecuali Ibnu &#8216;Araby. Sementara ibunya bernama Nurul Anshariyah. Pada 568 H keluarganya pindah dari Marsia ke Isybilia.</p>
<p>Perpindahan inilah menjadi awal sejarah yang mengubah kehidupan intelektualisme &#8216;Araby kelak; terjadi transformasi pengetahuan dan kepribadian Ibnu &#8216;Araby. Kepribadian sufi, intelektualisme filosofis, fikih dan sastra. Karena itu, tidak heran jika ia kemudian dikenal bukan saja sebagai ahli dan pakar ilmu-ilmu Islam, tetapi juga ahli dalam bidang astrologi dan kosmologi.</p>
<p>Meski Ibnu &#8216;Araby belajar pada banyak ulama, seperti Abu Bakr bin Muhammad bin Khalaf al-Lakhmy, Abul Qasim asy-Syarrath, dan Ahmad bin Abi Hamzah untuk pelajaran Alquran dan Qira&#8217;ahnya, serta kepada Ali bin Muhammad ibnul Haq al-Isybili, Ibnu Zarqun al-Anshary dan Abdul Mun&#8217;im al-Khazrajy, untuk masalah fikih dan hadis madzhab Imam Malik dan Ibnu Hazm Adz-Dzahiry, Ibnu &#8216;Araby sama sekali tidak bertaklid kepada mereka. Bahkan ia sendiri menolak keras taklid.</p>
<p>Ibnu &#8216;Araby membangun metodologi orisinal dalam menafsirkan Alquran dan Sunnah yang berbeda dengan metode yang ditempuh para pendahulunya. Hampir seluruh penafsirannya diwarnai dengan penafsiran teosofik yang sangat cemerlang. &#8220;Kami menempuh metode pemahaman kalimat-kalimat yang ada itu dengan hati kosong dari kontemplasi pemikiran.</p>
<p>Kami bermunajat dan dialog dengan Allah di atas hamparan adab, muraqabah, hudhur dan bersedia diri untuk menerima apa yang datang dari-Nya, sehingga Al-Haq benar-benar melimpahkan ajaran bagi kami untuk membuka tirai dan hakikat&#8230; dan semoga Allah memberikan pengetahuan kepada kalian semua&#8230;&#8221; ujar Ibnu &#8216;Araby suatu kali.</p>
<p><strong>Jalan Tengah</strong><br />
Pada perjalanan intelektualismenya, Ibnu &#8216;Araby akhirnya menempuh jalan halaqah sufi (tarekat) dari beberapa syeikhnya. Setidaknya, ini terlihat dari apa yang ia tulis dalam salah satu karya monumentalnya Al-Futuhatul Makkiyah, yang sarat dengan permasalahan sufisme dari beberapa syeikh yang memiliki disiplin spiritual beragam. Pilihan ini juga yang membuat ia tak menyukai kehidupan duniawi, sebaliknya lebih memusatkan pada perhatian ukhrawi.</p>
<p>Untuk kepentingan ini, ia tak jarang melanglang buana demi menuntut ilmu. Ia menemui para tokoh arif dan jujur untuk bertukar dan menimba ilmu dari ulama tersebut. Tidak mengherankan bila dalam usia yang sangat muda, 20 tahun, Ibnu &#8216;Araby telah menjadi sufi terkenal.</p>
<p>Menurutnya, tarekat sufi dibangun di atas empat cabang, yakni: Bawa&#8217;its (instrumen yang membangkitkan jiwa spiritual); Dawa&#8217;i (pilar pendorong ruhani jiwa); Akhlaq, dan Hakikat-hakikat. Sementara komponen pendorongnya ada tiga hak. Pertama, hak Allah, adalah hak untuk disembah oleh hamba-Nya dan tidak dimusyriki sedikitpun. Kedua, hak hamba terhadap sesamanya, yakni hak untuk mencegah derita terhadap sesama, dan menciptakan kebajikan pada mereka. Ketiga, hak hamba terhadap diri sendiri, yaitu menempuh jalan (tarekat) yang di dalamnya kebahagiaan dan keselamatannya.</p>
<p>Pada hak Allah (hak pertama), dapat dilacak secara sempurna pada seluruh karya Ibnu &#8216;Araby. Di sini, tauhid dijadikan sebagai konsumsi, iman sebagai cahaya hati, dan Alquran sebagai akhlaknya. Lalu naik ke tahap yang tak ada lagi selain al-Haq, yakni Allah SWT. Karakter Ibnu &#8216;Araby senantiasa naik dan naik ke wilayah yang luhur. Kuncinya senantiasa bertambah rindu, dan hatinya jernih semata hanya bagi al-Haq.</p>
<p>Sementara rahasia batinnya bermukim menyertai-Nya, tak ada yang lain yang menyibukkan dirinya kecuali Tuhannya. Ibnu &#8216;Araby menggunakan kendaraan mahabbah (kecintaan), bermadzhab ma&#8217;rifah, dan ber-wushul tauhid. Ubudiyah dan iman satu-satunya dalam pandangan &#8216;Araby hanyalah kepada Allah Yang Esa dan Mahakuasa, Yang Suci dari pertemanan dan peranakan.</p>
<p>Sementara hak sesama makhluk, ia mengambil jalan taubat dan mujahadah jiwa, serta lari kepada-Nya. Ia gelisah ketika kosong atas tindakan kebajikan yang diberikan Allah, sebagai jalan mahabbah dan mencari ridha-Nya. Hak ini bersumber pada ungkapan ruhani dimana semesta alam yang ada di hadapannya merupakan penampilan al-Haq. Seluruh semesta bertasbih pada Sang Khaliq, dan menyaksikan kebesaran-Nya. Hak terhadap diri sendiri adalah menempuh kewajiban agar sampai pada tingkah laku ruhani dengan cara berakhlak yang dilandaskan pada sifat-sifat al-Haq, dan upaya penyucian dalam taman Zat-Nya.</p>
<p><strong>Kontroversial</strong><br />
Meski demikian, tak sedikit yang menilai pandangan-pandangan filsafat tasawuf Ibnu &#8216;Araby, terutama kaum fuqaha&#8217; dan ahli hadis, sebagai sangat kontroversial. Sebut saja, misalnya, teorinya tentang Wahdatul Wujud yang dianggap condong pada pantheisme. Salah satu sebabnya adalah lantaran dalam karya-karyanya itu Ibnu &#8216;Araby banyak menggunakan bahasa-bahasa simbolik yang sulit dimengerti khususnya kalangan awam. Karenanya, tidak sedikit yang mengganggap &#8216;Araby telah kufur, misalnya Ibnu Taymiyah, dan beberapa pengikutnya yang menilainya sebaga &#8216;kafir&#8217;.</p>
<p>Memang pada akhirnya, Ibnu Taimiyah menerima pandangan Ibnu &#8216;Araby setelah bertemu dengan Taqyuddin Ibnu Athaillah as-Sakandari asy-Syadzily di sebuah masjid di Kairo, yang menjelaskan makna-makna metafora Ibnu &#8216;Araby. &#8220;Kalau begitu yang sesat itu adalah pandangan pengikut Ibnu &#8216;Araby yang tidak memahami makna sebenarnya,&#8221; komentar Ibnu Taimiyah.</p>
<p>Di Indonesia, ketersesatan memahami Ibnu &#8216;Araby juga terjadi khususnya di Jawa, ketika aliran kebatinan Jawa Singkretik dengan tasawuf Ibnu &#8216;Araby. Diskursus Manunggaling Kawula Gusti telah membuat penafsiran yang menyesatkan di kebatinan Jawa, yang sama sekali tidak pantas untuk dikaitkan dengan Wahdatul Wujud-nya Ibnu &#8216;Araby. Bahkan di pulau padat penduduk ini, sudah melesat ke arah kepentingan jargon politik yang menindas atas nama Tuhan. Karena itulah, untuk memahami karya-karya dan wacana Ibnu &#8216;Araby, harus disertai tarekat secara penuh, komprehensif dan iluminatif.</p>
<p>Menurut penelitian para ulama dan orientalis, Ibnu Araby mempunyai sedikitnya 560 kitab dalam berbagai disiplin ilmu keagamaan dan umum. Malah ada yang mengatakan, termasuk risalah-risalah kecilnya, mencapai 2.000 judul. Kitab tafsirnya yang terkenal adalah Tafsir al-Kabir yang terdiri 90 jilid, dan ensiklopedi tentang penafsiran sufistik, yang paling masyhur, yakni Futuhatul Makkiyah (8 jilid), serta Futuhatul Madaniyah. Sementara karya yang tergolong paling sulit dan penuh metafora adalah Fushushul Hikam. Dalam lentera karya dan pemikirannya itulah, ia begitu kuat mewarnai dunia intelektualisme Islam universal.</p>
<p>diambil dari abatasya.net</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/luthv.wordpress.com/26/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/luthv.wordpress.com/26/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/luthv.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/luthv.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/luthv.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/luthv.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/luthv.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/luthv.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/luthv.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/luthv.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/luthv.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/luthv.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luthv.wordpress.com&blog=825886&post=26&subd=luthv&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luthv.wordpress.com/2007/03/05/ibnu-araby-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/20ed5e2055cfc5d6bc59c063983d0538?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">luthv</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Husain Mansyur al-Hallaj</title>
		<link>http://luthv.wordpress.com/2007/03/05/husain-mansyur-al-hallaj/</link>
		<comments>http://luthv.wordpress.com/2007/03/05/husain-mansyur-al-hallaj/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Mar 2007 13:30:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luthv</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luthv.wordpress.com/2007/03/05/husain-mansyur-al-hallaj/</guid>
		<description><![CDATA[Husain ibn Mansur al-Hallaj barangkali adalah syekh sufi abad ke-9 dan ke-10 yang paling terkenal. Ia terkenal karena berkata: &#8220;Akulah Kebenaran&#8221;, ucapan mana yang membuatnya dieksekusi secara brutal. Bagi para ulama ortodok, kematian ini dijustifikasi dengan alasan bid&#8217;ah, sebab Islam eksoteris tidak menerima pandangan bahwa seorang manusia bisa bersatu dengan Allah dan karena Kebenaran (Al-Haqq) [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luthv.wordpress.com&blog=825886&post=24&subd=luthv&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><strong><font size="3" face="Arial Narrow">Husain ibn Mansur al-Hallaj</font></strong><font size="3" face="Arial Narrow"> barangkali adalah syekh sufi abad ke-9 dan ke-10 yang paling terkenal. Ia terkenal karena berkata: &#8220;Akulah Kebenaran&#8221;, ucapan mana yang membuatnya dieksekusi secara brutal. Bagi para ulama ortodok, kematian ini dijustifikasi dengan alasan bid&#8217;ah, sebab Islam eksoteris tidak menerima pandangan bahwa seorang manusia bisa bersatu dengan Allah dan karena Kebenaran (Al-Haqq) adalah salah satu nama Allah, maka ini berarti bahwa al-Hallaj menyatakan ketuhanannya sendiri. Kaum sufi sejaman dengan al-Hallaj juga terkejut oleh pernyataannya, karena mereka yakin bahwa seorang sufi semestinya tidak boleh mengungkapkan segenap pengalaman batiniahnya kepada orang lain. Mereka berpandangan bahwa al-Hallaj tidak mampu menyembunyikan berbagai misteri atau rahasia Ilahi, dan eksekusi atas dirinya adalah akibat dari kemurkaan Allah lantaran ia telah mengungkapkan segenap kerahasiaan tersebut</font></p>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><span id="more-24"></span></p>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Meskipun al-Hallaj tidak punya banyak pendukung di kalangan kaum sufi sezamannya, hampir semua syekh sufi sesungguhnya memuji dirinya dan berbagai pelajaran yang diajarkannya. Aththar, dalam karyanya Tadzkirah al-Awliya, menyuguhkan kepada kita banyak legenda seputar al-Hallaj. Dalam komentarnya, ia menyatakan, &#8220;Saya heran bahwa kita bisa menerima semak belukar terbakar (yakni, mengacu pada percakapan Allah dengan nabi Musa as) yang menyatakan Aku adalah Allah, serta meyakini bahwa kata-kata itu adalah kata-kata Allah, tapi kita tidak bisa menerima ucapan al-Hallaj, &#8216;Akulah Kebenaran&#8217;, padahal itu kata-kata Allah sendiri!&#8221;. Di dalam syair epiknya, Matsnawi, Rumi mengatakan, &#8220;Kata-kata &#8216;Akulah Kebenaran&#8217; adalah pancaran cahaya di bibir Manshur, sementara Akulah Tuhan yang berasal dari Fir&#8217;aun adalah kezaliman.&#8221;</font></p>
<h3 align="justify"><font size="3" face="Arial Narrow">Kehidupan Al-Hallaj</font></h3>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Al-Hallaj di lahirkan di kota Thur yang bercorak Arab di kawasan Baidhah, Iran tenggara, pada 866M.</font></p>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Ketika al-Hallaj masih kanak-kanak, ayahnya, seorang penggaru kapas (penggaru adalah seorang yang bekerja menyisir dan memisahkan kapas dari bijinya). Bepergian bolak-balik antara Baidhah, Wasith, sebuah kota dekat Ahwaz dan Tustar. Dipandang sebagai pusat tekstil pada masa itu, kota-kota ini terletak di tapal batas bagian barat Iran, dekat dengan pusat-pusat penting seperti Bagdad, Bashrah, dan Kufah. Pada masa itu, orang-orang Arab menguasai kawasan ini, dan kepindahan keluarganya berarti mencabut, sampai batas tertentu, akar budaya al-Hallaj.</font></p>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Di usia sangat muda, ia mulai mempelajari tata bahasa Arab, membaca Al-Qur&#8217;an dan tafsir serta teologi. Ketika berusia 16 tahun, ia merampungkan studinya, tapi merasakan kebutuhan untuk menginternalisasikan apa yang telah dipelajarinya. Seorang pamannya bercerita kepadanya tentang Sahl at-Tustari, seorang sufi berani dan independen yang menurut hemat pamannya, menyebarkan ruh hakiki Islam. Sahl adalah seorang sufi yang mempunyai kedudukan spiritual tinggi dan terkenal karena tafsir Al-Qur&#8217;annya. Ia mengamalkan secara ketat tradisi Nabi dan praktek-praktek kezuhudan keras semisal puasa dan shalat sunat. Al-Hallaj pindah ke Tustar untuk berkhidmat dan mengabdi kepada sufi ini.</font></p>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Dua tahun kemudian, al-Hallaj tiba-tiba meninggalkan Sahl dan pindah ke Bashrah. Tidak jelas mengapa ia berbuat demikian. Sama sekali tidak dijumpai ada laporan ihwal corak pendidikan khusus yang diperolehnya dari Sahl. Tampaknya ia tidak dipandang sebagai murid istimewa. Al-Hallaj juga tidak menerima pendidikan khusus darinya. Namun, ini tidak berarti bahwa Sahl tidak punya pengaruh pada dirinya. Memperhatikan sekilas praktek kezuhudan keras yang dilakukan al-Hallaj mengingatkan kita pada Sahl. Ketika al-Hallaj memasuki Bashrah pada 884M, ia sudah berada dalam tingkat kezuhudan yang sangat tinggi. Di Bashrah, ia berjumpa dengan Amr al-Makki yang secara formal mentahbiskannya dalam tasawuf. Amr adalah murid Junaid, seorang sufi paling berpengaruh saat itu.</font></p>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Al-Hallaj bergaul dengn Amr selama delapan belas bulan. Akhirnya ia meninggalkan Amr juga. Tampaknya seorang sahabat Amr yang bernama al-Aqta yang juga murid Junaid mengetahui kemampuan dan kapasitas spiritual dalam diri al-Hallaj dan menyarankan agar ia menikah dengan saudara perempuannya, (Massignon menunjukkan bahwa pernikahan ini mungkin punya alasan politis lantaran hubungan al-Aqta) Betapapun juga Amr tidak diminta pendapatnya, sebagaiman lazimnya terjadi. Hal ini menimbulkan kebencian dan permusuhan serta bukan hanya memutuskan hubungan persahabatan antara Amr dan Al-Aqta, melainkan juga membahayakan hubungan guru-murid antara Amr dan al-Hallaj. Al-Hallaj yang merasa memerlukan bantuan dan petunjuk untuk mengatasi situasi ini, berangkat menuju Baghdad dan tinggal beberapa lama bersama Junaid, yang menasehatinya untuk bersabar. Bagi Al-Hallaj, ini berarti menjauhi Amr dan menjalani hidup tenang bersama keluarganya dan ia kembali ke kota kelahirannya. Diperkirakan bahwa ia memulai belajar pada Junaid, terutama lewat surat-menyurat, dan terus mengamalkan kezuhudan.</font></p>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Enam tahun berlalu, dan pada 892M, al-Hallaj memutuskan untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah. Kaum Muslimin diwajibkan menunaikan ibadah ini sekurang-kurangnya sekali selama hidup (bagi mereka yang mampu). Namun ibadah haji yang dilakukan al-Hallaj tidaklah biasa, melainkan berlangsung selama setahun penuh, dan hampir setiap hari dihabiskannya dengan puasa. Tujuan al-Hallaj melakukan praktek kezuhudan keras seperti ini adalah menyucikan hatinya menundukkannya kepada Kehendak Ilahi sedemikian rupa agar dirinya benar-benar sepenuhnya diliputi oleh Allah. Ia pulang dari menunaikan ibadah haji dengan membawa pikiran-pikiran baru tentang berbagai topik seperti inspirasi Ilahi, dan ia membahas pikiran-pikiran ini dengan para sufi lainnya. Diantaranya adalah Amr al-Makki dan mungkin juga Junaid.</font></p>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Sangat boleh jadi bahwa Amr segera menentang al-Hallaj. Aththar menunjukkan bahwa al-Hallaj datang kepada Junaid untuk kedua kalinya dengan beberapa pertanyaan ihwal apakah kaum sufi harus atau tidak harus mengambil tindakan untuk memperbaiki masyarakat (al-Hallaj berpandangan harus, sedangkan Junaid berpandangan bahwa kaum sufi tidak usah memperhatikan kehidupan sementara di dunia ini). Junaid tidak mau menjawab, yang membuat al-Hallaj marah dan kemudian pergi. Sebaliknya, Junaid meramalkan nasib Al-Hallaj.</font></p>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Ketika al-Hallaj kembali ke Bashrah, ia memulai mengajar, memberi kuliah, dan menarik sejumlah besar murid. Namun pikiran-pikirannya bertentangan dengan ayah mertuanya. Walhasil, hubungan merekapun memburuk, dan ayah mertuanya sama sekali tidak mau mengakuinya. Ia pun kembali ke Tustar, bersama dengan istri dan adik iparnya, yang masih setia kepadanya. Di Tustar ia terus mengajar dan meraih keberhasilan gemilang. Akan tetapi, Amr al-Makki yang tidak bisa melupakan konflik mereka, mengirimkan surat kepada orang-orang terkemuka di Ahwaz dengan menuduh dan menjelek-jelekkan nama al-Hallaj, situasinya makin memburuk sehingga al-Hallaj memutuskan untuk menjauhkan diri dan tidak lagi bergaul dengan kaum sufi. Sebaliknya ia malah terjun dalam kancah hingar-bingar dan hiruk-pikuk duniawi.</font></p>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Setahun kemudian, ia menunaikan ibadah haji kedua. Kali ini ia menunaikan ibadah haji sebagai seorang guru disertai empat ratus pengikutnya. Banyak legenda dituturkan dalam perjalanan ini berkenaan dengan diri al-Hallaj berikut berbagai macam karamahnya. Semuanya ini makin membuat al-Hallaj terkenal sebagai mempunyai perjanjian dengan jin. Sesudah melakukan perjalanan ini, ia memutuskan meninggalkan Tustar untuk selamanya dan bermukim di Baghdad, tempat tinggal sejumlah sufi terkenal, ia bersahabat dengan dua diantaranya mereka, Nuri dan Syibli.</font></p>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Pada 906M, ia memutuskan untuk mengemban tugas mengislamkan orang-orang Turki dan orang-orang kafir. Ia berlayar menuju India selatan, pergi keperbatasan utara wilayah Islam, dan kemudian kembali ke Bagdad. Perjalanan ini berlangsung selama enam tahun dan semakin membuatnya terkenal di setiap tempat yang dikunjunginya. Jumlah pengikutnya makin bertambah.</font></p>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Tahun 913M adalah titik balik bagi karya spiritualnya. Pada 912M ia pergi menunaikan ibadah haji untuk ketiga kalinya dan terakhir kali, yang berlangsung selama dua tahun, dan berakhir dengan diraihnya kesadaran tentang Kebenaran. Di akhir 913M inilah ia merasa bahwa hijab-hijab ilusi telah terangkat dan tersingkap, yang menyebabkan dirinya bertatap muka (bhatin)  dengan sang Kebenaran (Al-Haqq). Di saat inilah ia mengucapkan, &#8220;Akulah Kebenaran&#8221; (Ana Al-Haqq) dalam keadaan ekstase. Perjumpaan ini membangkitkan dalam dirinya keinginan dan hasrat untuk menyaksikan cinta Allah pada menusia dengan menjadi &#8220;hewan kurban&#8221;. Ia rela dihukum bukan hanya demi dosa-dosa yang dilakukan setiap muslim, melainkan juga demi dosa-dosa segenap manusia. </font></p>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Di jalan-jalan kota Baghdad, dipasar, dan di masjid-masjid, seruan aneh pun terdengar: &#8220;Wahai kaum muslimin, bantulah aku! Selamatkan aku dari Allah! Wahai manusia, Allah telah menghalalkanmu untuk menumpahkan darahku, bunuhlah aku, kalian semua bakal memperoleh pahala, dan aku akan datang dengan suka rela. Aku ingin si terkutuk ini (menunjuk pada dirinya sendiri) dibunuh.&#8221; Kemudian, al-Hallaj berpaling pada Allah seraya berseru, &#8220;Ampunilah mereka, tapi hukumlah aku atas dosa-dosa mereka.&#8221;</font></p>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Yang mengherankan, kata-kata ini mengilhami orang-orang untuk menuntut adanya perbaikan dalam kehidupan dan masyarakat mereka. Lingkungan sosial dan politik waktu itu menimbulkan banyak ketidakpuasan di kalangan masyarakat dan kelas penguasa. Orang banyak menuntut agar khalifah menegakkan kewajiban yang diembankan Allah dan Islam atas dirinya. Sementara itu, yang lain menuntut adanya pembaruan dan perubahan dalam masyarakat sendiri.</font></p>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Tak pelak lagi, al-Hallaj pun punya banyak sahabat dan musuh di dalam maupun di luar istana khalifah.  Para pendukungnya di kalangan pemerintahan melindunginya sedemikian rupa sehingga ia bisa membantu mengadakan pembaruan sosial. Di atas segalanya, berbagai gejolak pun muncul dan sudah pasti berakhir secara dramatis.</font></p>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Pada akhirnya, keberpihakan al-Hallaj berikut pandangan-pandangannya tentang agama, menyebabkan dirinya berada dalam posisi berseberangan dengan kelas penguasa. Pada 918M, ia diawasi, dan pada 923M ia ditangkap.</font></p>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Sang penasehat khalifah termasuk di antara sahabat al-Hallaj dan untuk sementara berhasil mencegah upaya untuk membunuhnya. Al-Hallaj dipenjara hampir selama sembilan tahun. Selama itu ia terjebak dalam baku sengketa antara segenap sahabat dan musuhnya. Serangkaian pemberontakan dan kudeta pun meletus di Bagdad. Ia dan sahabat-sahabatnya disalahkan dan dituduh sebagai penghasut. Berbagai peristiwa ini menimbulkan pergulatan kekuasaan yang keras di kalangan istana khalifah. Akhirnya, wazir khalifah, musuh bebuyutan al-Hallaj berada di atas angin, sebagai unjuk kekuasaan atas musuh-musuhnya ia menjatuhkan hukuman mati atas al-Hallaj dan memerintahkan agar ia dieksekusi.</font></p>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Tak lama kemudian, al-Hallaj disiksa di hadapan orang banyak dan dihukum di atas tiang gantungan dengan kaki dan tangannya terpotong. Kepalanya dipenggal sehari kemudian dan sang wazir sendiri hadir dalam peristiwa itu. Sesudah kepalanya terpenggal, tubuhnya disiram minyak dan dibakar. Debunya kemudian dibawa ke menara di tepi sungai Tigris dan diterpa angin serta hanyut di sungai itu.</font></p>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Demikian, al-Hallaj dibunuh secara brutal. Akan tetapi ia tetap hidup dalam kalbu orang-orang yang merindukan capaian rohaninya. Dengan caranya sendiri, ia telah menunjukkan pada para pencari kebenaran langkah-langkah yang mesti ditempuh sang pecinta agar sampai pada kekasih</font></p>
<h3 align="justify"><font size="3" face="Arial Narrow">Berbagai legenda dan kisah tentang al-Hallaj</font></h3>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Bagaimana mulanya Husain ibn manshur di sebut al-Hallaj sebuah nama yang berarti penggaru (khususnya kapas)? Menurut Aththar, suatu hari Husain ibn Manshur melewati sebuah gudang kapas dan melihat seonggok buah kapas. Ketika jarinya menunjuk pada onggokan buah kapas itu. Biji-bijinya pun terpisah dari serat kapas. Ia juga dijuluki Hallaj- al-asrar &#8211;penggaru segenap Kalbu&#8211; karena ia mampu membaca pikiran orang dan menjawab berbagai pertanyaan mereka sebelum ditanyakan kepadanya.</font></p>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Al-Hallaj terkenal karena berbagai keajaibanya. Salah satu orang muridnya menuturkan kisah berikut ini:</font></p>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Sewaktu menunaikan ibadah haji kedua kalinya, al-Hallaj pergi ke sebuah gunung untuk mengasingkan diri bersama beberapa orang pengikutnya. Sesudah makan malam, al-Hallaj mengatakan bahwa ia ingin makan manisan.</font></p>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Murid-muridnya kebingungan lantaran mereka telah memakan habis semua bekal yang mereka bawa. Al-Hallaj tersenyum dan berjalan menembus kegelapan malam. Beberapa menit kemudian, ia kembali sambil membawa makanan berupa kue-kue hangat yang belum pernah mereka ketahui sebelumya. Ia meminta mereka untuk makan bersamanya, seorang muridnya, yang penasaran dan ingin tahu dari mana al-Hallaj memperolehnya, menyembunyikan kue bagiannya, ketika mereka kembali dari mengasingkan diri sang murid ini mencari seseorang yang bisa mengetahui asal kue itu, seseorang dari Zabid, sebuah kota yang jauh dari situ, mengetahui bahwa kue itu berasal dari kotanya, sang murid yang keheranan ini pun sadar bahwa al-Hallaj memperoleh kue itu secara ajaib. </font></p>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Pada kesempatan lain al-Hallaj mengarungi padang pasir bersama sekelompok orang dalam perjalanan menuju Mekah. Di suatu tempat, sahabat-sahabatnya menginginkan buah ara, dia ia pun mengabil senampan penuh buah ara dari udara. Kemudian mereka meminta halwa, ia membawa senampan penuh halwa hangat dan berlapis gula serta memberikannya kepada mereka, usai memakannya mereka mengatakan bahwa kue itu khas berasal dari daerah anu di Bagdad, mereka bertanya ihwal bagaimana ia memperolehnya. Ia hanya menjawab, baginya Baghdad dan padang pasir sama dan tidak ada bedanya, kemudian mereka meminta kurma, ia diam sejenak berdiri dan menyuruh mereka untuk menggerakkan tubuh mereka seperti mereka menggoyang-goyang pohon kurma, mereka melakukannya, dan kurma-kurma segar pun berjatuhan dari lengan baju mereka.</font></p>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Ketika ia mulai menempuh jalan ini, ia hanya mempunyai sehelai jubah tua dan dan bertambal yang telah dikenakannya selama bertahun-tahun. Suatu hari, jubah itu diambil secara paksa, dan diketahui bahwa ada banyak kutu dan serangga bersarang didalamnya &#8211;yang salah satunya berbobot setengah ons. Pada kesempatan lain, ketika ia memasuki sebuah desa, orang-orang melihat kalajengking besar yang mengikutinya. Mereka ingin membunuh kalajengking itu, ia menghentikan mereka seraya mengatakan bahwa kalajengking itu telah bersahabat dengannya selama dua belas tahun, tampaknya ia sudah sangat lupa pada nyeri dan sakit jasmani.</font></p>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Kezuhudan al-Hallaj adalah sarana yang ditempanya untuk mencapai Allah, yang dengan-Nya ia menjalin hubungan sangat khusus sifatnya, suatu hari, pada waktu musim ibadah haji di Mekah, ia melihat orang-orang bersujud dan berdoa, &#8220;Wahai Engkau. Pembimbing mereka yang tersesat, Engkau jauh di atas segenap pujian mereka yang memuji-Mu dan sifat yang mereka lukiskan kepada-Mu. Engkau tahu bahwa aku tak sanggup bersyukur dengan sebaik-baiknya atas kemurahan-Mu. Lakukan ini di tempatku, sebab yang demikian itulah satu-satunya bentuk syukur yang benar.&#8221;</font></p>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Kisah penangkapan dan eksekusi atas dirinya sangat menyentuh dan mengharu-biru kalbu. Suatu hari, ia berkata kepada sahabatnya, Syibli, bahwa ia sibuk dengan tugas amat penting yang bakal mengantarkan dirinya pada kematiannya. Sewaktu ia sudah terkenal dan berbagai keajaibannya dibicarakan banyak orang. Ia menarik sejumlah besar pengikut dan juga melahirkan musuh yang sama banyaknya, akhirnya, khalifah sendiri mengetahui bahwa ia mengucapkan kata-kata bid&#8217;ah, &#8220;Akulah Kebenaran.&#8221; Musuh al-Hallaj menjebaknya untuk mengucapkan, Dia-lah Kebenaran ia hanya menjawab, &#8220;Ya, segala sesuatu adalah Dia! Kalian bilang bahwa Husain (al-Hallaj) telah hilang, memang benar. Namun Samudra yang meliputi segala sesuatu tidaklah demikian.&#8221;</font></p>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Beberapa tahun sebelumnya, ketika al-Hallaj belajar dibawah bimbingan Junaid, ia diperintahkan untuk bersikap sabar dan tenang. Beberapa tahun kemudian, ia datang kembali menemui Junaid dengan sejumlah pertanyaan. Junaid hanya menjawab bahwa tak lama lagi ia bakal melumuri tiang gantungan dengan darahnya sendiri, Tampaknya, ramalan ini benar adanya. Junaid ditanya ihwal apakah kata-kata al-Hallaj bisa ditafsirkan dengan cara yang bakal bisa menyelamatkan hidupnya. Junaid menjawab, &#8220;Bunuhlah ia, sebab saat ini bukan lagi waktunya menafsirkan.&#8221; al-Hallaj di jebloskan ke penjara. </font></p>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Beberapa hari sebelum dieksekusi, ia berjumpa dengan sekitar tiga ratus narapidana yang ditahan bersamanya dan semuanya dibelenggu. ia berkata bahwa ia akan membebaskan mereka semua, mereka heran karena ia berbicara hanya tentang kebebasan mereka dan bukan kebebasannya sendiri ia berkata kepada mereka: &#8220;Kita semua dalam belenggu Allah di sini. Jika kita mau, kita bisa membuka semua belenggu ini,&#8221; kemudian ia menunjuk belenggu-belenggu itu dengan jarinya dan semuanya pun terbuka. Para narapidana pun heran bagaimana mereka bisa melarikan diri, karena semua pintu terkunci. Ia menunjukkan jarinya ke tembok, dan terbukalah tembok itu. &#8220;Engkau tidak ikut bersama kami?&#8221; tanya mereka &#8220;Tidak, ada sebuah rahasia yang hanya bisa diungkapkan di tiang gantungan!&#8221; jawabnya</font></p>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Esoknya, para sipir penjara bertanya kepadanya tentang yang terjadi pada narapidana lainnya. Ia menjawab bahwa ia telah membebaskan mereka semua.</font></p>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">&#8220;Mengapa engkau tidak sekalian pergi?&#8221; tanya mereka &#8220;Dia mencela dan menyalahkanku. Karenanya aku harus tetap tinggal di sini untuk menerima hukuman,&#8221; jawabnya</font></p>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Sang khalifah yang mendengar percakapan ini, berpikir bahwa al-Hallaj bakal menimbulkan kesulitan, karena itu, ia memerintahkan, &#8220;Bunuhlah atau cambuklah sampai ia menarik kembali ucapannya!&#8221; Al-Hallaj dicambuk tiga ratus kali dengan rotan.</font></p>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Al-Hallaj digiring untuk di eksekusi. Ratusan orang berkumpul. Ketika ia melihat kerumunan orang, ia berseru lantang, &#8220;Haqq, Haqq, ana al-Haqq &#8211;Kebenaran, kebenaran, Akulah kebenaran.&#8221;</font></p>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Pada waktu itu, seorang darwis memohon al-Hallaj untuk mengajarinya tentang cinta. Al-Hallaj mengatakan bahwa sang darwis akan melihat dan mengetahui hakikat cinta pada hari itu, hari esok, dan hari sesudahnya.</font></p>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Al-Hallaj dibunuh pada hari itu. Pada hari kedua tubuhnya dibakar, dan pada hari ketiga abunya ditebarkan dengan angin, Melalui kematiannya, al-Hallaj menunjukkan bahwa cinta berarti menanggung derita dan kesengsaraan demi orang lain.</font></p>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Ketika menuju ke tempat eksekusi, ia berjalan dengan sedemikian bangga. &#8220;Mengapa engkau berjalan sedemikian bangga?&#8221; tanya orang-orang. &#8220;Aku bangga lantaran aku tengah berjalan menuju ketempat pejagalanku,&#8221; jawabnya kemudian ia melantunkan syair demikian:</font></p>
<dl>
<dd>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Kekasihku tak bersalah</font></p>
</dd>
<dd>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Diberi aku anggur dan amat memperhatikanku,</font></p>
</dd>
<dd>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">laksana tuan rumah</font></p>
</dd>
<dd>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">perhatikan sang tamu</font></p>
</dd>
<dd>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Setelah berlalu sekian lama,</font></p>
</dd>
<dd>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">dia menghunus pedang dan</font></p>
</dd>
<dd>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">menggelar tikar pembantaian</font></p>
</dd>
<dd>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Inilah balasan buat mereka yang minum anggur lama</font></p>
</dd>
<dd>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">bersama dengan singa</font></p>
</dd>
<dd>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">tua di musim panas.</font></p>
</dd>
</dl>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Ketika dibawa ke tiang gantungan, dengan suka rela ia menaiki tangga sendiri. Seseorang bertanya tentang hal (keadaan spiritual atau emosi batin)-nya. Ia menjawab bahwa perjalanan spiritual para pahlawan justru dimulai di puncak tiang gantungan, ia berdoa dan berjalan menuju puncak itu.</font></p>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Sahabatnya, Syibli, hadir di situ dan bertanya, &#8220;Apa itu tasawuf?&#8221; al-Hallaj menjawab bahwa apa yang disaksikan Syibli saat itu adalah tingkatan tasawuf paling rendah. &#8220;Adakah yang lebih tinggi dari ini?&#8221; tanya Syibli &#8220;Kurasa, engkau tidak akan mengetahuinya!&#8221;, jawab al-Hallaj.</font></p>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Ketika al-Hallaj sudah berada di tiang gantungan, setan datang kepadanya dan bertanya, &#8220;Engkau bilang aku dan aku juga bilang aku. Mengapa gerangan engkau menerima rahmat abadi dari Allah dan aku, kutukan abadi?&#8221;</font></p>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Al-Hallaj menjawab, &#8220;Engkau bilang aku dan melihat dirimu sendiri, sementara aku menjauhkan diri dari keakuan-ku. Aku beroleh rahmat dan engkau, kutukan. <strong>Memikirkan diri sendiri tidaklah benar dan memisahkan diri dari kedirian adalah amalan paling baik</strong>.&#8221;</font></p>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Kerumunan orang mulai melempari al-Hallaj dengan batu. Namun, ketika Syibli melemparkan bunga kepadanya untuk pertama kalinya, al-Hallaj merasa kesakitan. Seseorang bertanya, &#8220;Engkau tidak merasa kesakitan dilempari batu, tapi lembaran sekuntum bunga justru membuatmu kesakitan mengapa?</font></p>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Al-Hallaj menjawab &#8220;Orang-orang yang jahil dan bodoh bisa dimaafkan. Sulit rasanya melihat Syibli melempar lantaran ia tahu bahwa seharusnya ia tidak melakukannya.&#8221;</font></p>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Sang algojo pun memotong kedua tangannya. Al-Hallaj tertawa dan berkata, &#8220;Memang mudah memotong tangan seorang yang terbelenggu. Akan tetapi, diperlukan seorang pahlawan untuk memotong tangan segenap sifat yang memisahkan seseorang dari Allah.&#8221; (dengan kata lain, meninggalkan alam kemajemukan dan bersatu dengan Allah membutuhkan usah keras dan luar biasa). Sang Algojo lantas memotong kedua kakinya. Al-Hallaj tersenyum dan berkata, &#8220;Aku berjalan di muka bumi dengan dua kaki ini, aku masih punya dua kaki lainnya untuk berjalan di kedua alam. Potonglah kalau kau memang bisa melakukannya!&#8221;</font></p>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Al-Hallaj kemudian mengusapkan kedua lenganya yang buntung kewajahnya sehingga wajah dan lengannya berdarah. &#8220;Mengapa engkau mengusap wajahmu dengan darah?&#8221; tanya orang-orang. Ia menjawab bahwa karena ia sudah kehilangan darah sedemikian banyak dan wajahnya menjadi pucat maka ia mengusap pipinya dengan darah agar orang jangan menyangka bahwa ia takut mati.</font></p>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">&#8220;Mengapa,&#8221; tanya mereka, &#8220;Engkau membasahi lenganmu dengan darah?&#8221; Ia menjawab, &#8220;Aku sedang berwudu. Sebab, dalam salat cinta. Hanya ada dua rakaat, dan wudhunya dilakukan dengan darah.&#8221;</font></p>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Sang algojo kemudian mencungkil mata al-Hallaj. Orang-orang pun ribut dan berteriak. Sebagian menangis dan sebagian lainnya melontarkan sumpah serapah, lalu, telinga dan hidungnya dipotong. Sang algojo hendak memotong lidahnya. Al-Hallaj memohon waktu sebentar untuk mengatakan sesuatu, &#8220;Ya Allah, janganlah engkau usir orang-orang ini dari haribaan-Mu lantaran apa yang mereka lakukan karena Engkau. Segala puji bagi Allah, mereka memotong tanganku karena Engkau semata. Dan kalau mereka memenggal kepalaku, itu pun mereka melakukan karena keagungan-Mu.&#8221; Kemudian ia mengutip sebuah ayat Al-Qur&#8217;an:</font></p>
<blockquote>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">&#8220;Orang-orang yang mengingkari Hari kiamat bersegera ingin mengetahuinya, tetapi orang-orang beriman berhati-hati karena mereka tahu bahwa itu adalah benar.&#8221;</font></p>
</blockquote>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Kata-kata terakhirnya adalah: Bagi mereka yang ada dalam ekstase &#8220;Cukuplah sudah satu kekasih.&#8221;</font></p>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Tubuhnya yang terpotong, yang masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan, dibiarkan berada di atas tiang gantungan sebagai pelajaran bagi yang lainnya. Esoknya, baru sang algojo memenggal kepalanya. Ketika kepalanya dipenggal al-Hallaj tersenyum dan meninggal dunia. Orang-orang berteriak tapi al-Hallaj menunjukkan betapa berbahagia ia bersama dengan kehendak Allah. sewaktu meninggal dunia setiap tetesan darahnya yang jatuh ke tanah membentuk nama Allah.</font></p>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Hari berikutnya mereka yang berkomplot menentangnya, memutuskan bahwa bahkan tubuh al-Hallaj yang sudah terpotong-potong pun masih menimbulkan kesulitan bagi mereka. Karena itu, mereka pun memerintahkan agar tubuhnya di bakar saja. </font></p>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Waktu itu, seorang tokoh terkemuka mengatakan bahwa ia melakukan salat sepanjang malam di bawah tiang gantungan sepanjang malam. Ketika fajar menyingsing, terdengarlah suara gaib berseru, &#8220;Kami berikan salah satu rahasia kami dan ia tidak menjaganya. Sungguh, inilah hukuman bagi mereka yang mengungkapkan segenap rahasia kami.&#8221;</font></p>
<p align="justify" style="margin:0 30px 8px;"><font size="3" face="Arial Narrow">Syibli menyebutkan bahwa, suatu malam. Ia mimpi bertemu dengan al-Hallaj dan bertanya, &#8220;Bagaimana Allah menghakimi orang-orang ini?&#8221; Al-Hallaj menjawab bahwa mereka yang tahu bahwasanya ia benar dan juga mendukungnya berbuat demikian karena Allah semata. Sementara itu, mereka yang ingin melihat dirinya mati tidaklah mengetahui hakikat kebenaran, oleh sebab itu, mereka menginginkan kematiannya, kematiannya karena Allah semata. Allah merahmati kedua kelompok ini. <strong>Keduanya beroleh berkah dan rahmat dari Allah.</strong></font></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/luthv.wordpress.com/24/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/luthv.wordpress.com/24/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/luthv.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/luthv.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/luthv.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/luthv.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/luthv.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/luthv.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/luthv.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/luthv.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/luthv.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/luthv.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luthv.wordpress.com&blog=825886&post=24&subd=luthv&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luthv.wordpress.com/2007/03/05/husain-mansyur-al-hallaj/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/20ed5e2055cfc5d6bc59c063983d0538?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">luthv</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pernikahan Nabi Saww. dengan Aisyah</title>
		<link>http://luthv.wordpress.com/2007/03/05/pernikahan-nabi-saww-dengan-aisyah/</link>
		<comments>http://luthv.wordpress.com/2007/03/05/pernikahan-nabi-saww-dengan-aisyah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Mar 2007 13:21:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luthv</dc:creator>
				<category><![CDATA[Studi Kritis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luthv.wordpress.com/2007/03/05/pernikahan-nabi-saww-dengan-aisyah/</guid>
		<description><![CDATA[Seorang teman kristen suatu kali bertanya kepada saya, &#8220;Akankah anda menikahkan saudara perempuanmu yang berumur 7 tahun dengan seorang tua berumur 50 tahun?&#8221; Saya terdiam.Dia melanjutkan, &#8220;Jika anda tidak akan melakukannya, bagaimana bisa anda menyetujui pernikahan gadis polos berumur 7 tahun, Aisyah, dengan Nabi anda?&#8221; Saya katakan padanya, &#8220;Saya tidak punya jawaban untuk pertanyaan anda [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luthv.wordpress.com&blog=825886&post=23&subd=luthv&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><font face="Arial Narrow"><span class="rvts8">Seorang teman kristen suatu kali bertanya kepada saya, &#8220;Akankah anda menikahkan saudara perempuanmu yang berumur 7 tahun dengan seorang tua berumur 50 tahun?&#8221; Saya terdiam.</span></font><font face="Arial Narrow"><span class="rvts8">Dia melanjutkan, &#8220;Jika anda tidak akan melakukannya, bagaimana bisa anda menyetujui pernikahan gadis polos berumur 7 tahun, Aisyah, dengan Nabi anda?&#8221; Saya katakan padanya, &#8220;Saya tidak punya jawaban untuk pertanyaan anda pada saat ini.&#8221; Teman saya tersenyum dan meninggalkan saya dengan guncangan dalam batin saya akan agama saya.</span></p>
<p></font><font face="Arial Narrow"><span class="rvts8"></span><span id="more-23"></span></font><font face="Arial Narrow"><span class="rvts8">Kebanyakan muslim menjawab bahwa pernikahan seperti itu diterima masyarakat pada saat itu. Jika tidak, orang-orang akan merasa keberatan dengan pernikahan Nabi saw dengan Aisyah.</span></p>
<p><span class="rvts8">Bagaimanapun, penjelasan seperti ini akan mudah menipu bagi orang-orang yang naif dalam mempercayainya. Tetapi, saya tidak cukup puas dengan penjelasan seperti itu.</span></p>
<p><span class="rvts8">Nabi merupakan manusia tauladan, Semua tindakannya paling patut dicontoh sehingga kita, Muslim dapat meneladaninya. Bagaimaanpun, kebanyakan orang di Islamic Center of Toledo, termasuk saya, Tidak akan berpikir untuk menunangkan saudara perempuan kita yang berumur 7 tahun dengan seorang laki-laki berumur 50 tahun. Jika orang tua setuju dengan pernikahan seperti itu, kebanyakan orang, walaupun tidak semuanya, akan memandang rendah terhadap orang tua dan suami tua tersebut.</span></p>
<p><span class="rvts8">Tahun 1923, pencatat pernikahan di Mesir diberi intruksi untuk menolak pendaftaran dan menolak mengeluarkan surat nikah bagi calon suami berumur di bawah 18 tahun, dan calon isteri dibawah 16 tahun. Tahun 1931, Sidang dalam oraganisasi-oraganisi hukum dan syariah menetapkan untuk tidak merespon pernikahan bagi pasangan dengan umur diatas (Women in Muslim Family Law, John Esposito, 1982). Ini memperlihatkan bahwa walaupun di negara Mesir yang mayoritas Muslim pernikahan usia anak-anak adalah tidak dapat diterima.</span></p>
<p><span class="rvts8">Jadi, Saya percaya, tanpa bukti yang solidpun selain perhormatan saya terhadap Nabi, bahwa cerita pernikahan gadis brumur 7 tahun dengan Nabi berumur 50 tahun adalah mitos semata. Bagaimanapun perjalanan panjang saya dalam menyelelidiki kebenaran atas hal ini membuktikan intuisi saya benar adanya.</span></p>
<p><span class="rvts8">Nabi memang seorang yang gentleman. Dan dia tidak menikahi gadis polos berumur 7 atau 9 tahun. Umur Aisyah telah dicatat secara salah dalam literatur hadist. Lebih jauh, Saya pikir bahwa cerita yang menyebutkan hal ini sangatlah tidak bisa dipercaya.</span></p>
<p><span class="rvts8">Beberapa hadist (tradisi Nabi) yang menceritakan mengenai umur Aisyah pada saat pernikahannya dengan Nabi, hadist-hadist tersebut sangat bermasalah. Saya akan menyajikan beberapa bukti melawan khayalan yang diceritakan Hisham ibnu `Urwah dan untuk membersihkan nama Nabi dari sebutan seorang tua yang tidak bertanggung jawab yang menikahi gadis polos berumur 7 tahun.</span></p>
<p><span class="rvts11">Bukti #1: Pengujian Terhadap Sumber</span></p>
<p><span class="rvts8">Sebagian besar riwayat yang menceritakan hal ini yang tercetak di hadist yang semuanya diriwayatkan hanya oleh Hisham ibn `Urwah, yang mencatat atas otoritas dari bapaknya, yang mana seharusnya minimal 2 atau 3 orang harus mencatat hadist serupa juga. Adalah aneh bahwa tak ada seorangpun yang di Medinah, dimana Hisham ibn `Urwah tinggal, sampai usia 71 tahun baru menceritakan hal ini, disamping kenyataan adanya banyak murid-murid di Medinah termasuk yang kesohor Malik ibn Anas, tidak menceritakan hal ini.</span><br />
<span class="rvts8">Asal dari riwayat ini adalah dari orang-orang Iraq, di mana Hisham tinggal disana dan pindah dari Medinah ke Iraq pada usia tua.</span></p>
<p><span class="rvts8">Tehzibu&#8217;l-Tehzib, salah satu buku yang cukup terkenal yang berisi catatan para periwayat hadist, menurut Yaqub ibn Shaibah mencatat : &#8221; Hisham sangatbisa dipercaya, riwayatnya dapat diterima, kecuali apa-apa yang dia ceritakan setelah pindah ke Iraq &#8221; (Tehzi&#8217;bu&#8217;l-tehzi&#8217;b, Ibn Hajar Al-`asqala&#8217;ni, Dar Ihya al-turath al-Islami, 15th century. Vol 11, p.50).</span></p>
<p><span class="rvts8">Dalam pernyataan lebih lanjut bahwa Malik ibn Anas menolak riwayat Hisham yang dicatat dari orang-orang Iraq: &#8221; Saya pernah diberi tahu bahwa Malik menolak riwayat Hisham yang dicatat dari orang-orang Iraq&#8221; (Tehzi&#8217;b u&#8217;l-tehzi&#8217;b, IbnHajar Al- `asqala&#8217;ni, Dar Ihya al-turath al-Islami, Vol.11, p. 50).</span></p>
<p><span class="rvts8">Mizanu&#8217;l-ai`tidal, buku lain yang berisi uraian riwayat hidup pada periwayat hadist Nabi saw mencatat: &#8220;Ketika masa tua, ingatan Hisham mengalami kemunduran yang mencolok&#8221; (Mizanu&#8217;l-ai`tidal, Al-Zahbi, Al-Maktabatu&#8217;l-athriyyah, Sheikhupura, Pakistan, Vol. 4, p. 301).</span></p>
<p><span class="rvts11">KESIMPULAN:</span><br />
<span class="rvts8">berdasarkan referensi ini, Ingatan Hisham sangatlah buruk dan</span><br />
<span class="rvts8">riwayatnya setelah pindah ke Iraq sangat tidak bisa dipercaya, sehingga riwayatnya mengenai umur pernikahan Aisyah adalah tidak kredibel.</span></p>
<p><span class="rvts8">KRONOLOGI: Adalah vital untuk mencatat dan mengingat tanggal penting dalam sejarah Islam:</span></p>
<p><span class="rvts8">Pra-610 M: Jahiliyah (pra-Islamic era) sebelum turun wahyu</span><br />
<span class="rvts8">610 M: turun wahyu pertama Abu Bakr menerima Islam</span><br />
<span class="rvts8">613 M: Nabi Muhammad mulai mengajar ke Masyarakat</span><br />
<span class="rvts8">615 M: Hijrah ke Abyssinia.</span><br />
<span class="rvts8">616 M: Umar bin al Khattab menerima Islam.</span><br />
<span class="rvts8">620 M: dikatakan Nabi meminang Aisyah</span><br />
<span class="rvts8">622 M: Hijrah ke Yathrib, kemudian dinamai Medina</span><br />
<span class="rvts8">623/624 M: dikatakan Nabi saw berumah tangga dengan Aisyah</span></p>
<p><span class="rvts11">Bukti #2: Meminang</span></p>
<p><span class="rvts8">Menurut Tabari (juga menurut Hisham ibn `Urwah, Ibn Hunbal and Ibn Sad), Aisyah dipinang pada usia 7 tahun dan mulai berumah tangga pada usia 9 tahun.</span></p>
<p><span class="rvts8">Tetapi, di bagian lain, Al-Tabari mengatakan: &#8220;Semua anak Abu Bakr (4 orang) dilahirkan pada masa jahiliyahh dari 2 isterinya &#8221; (Tarikhu&#8217;l-umam wa&#8217;l-mamlu&#8217;k, Al-Tabari (died 922), Vol. 4,p. 50, Arabic, Dara&#8217;l-fikr, Beirut, 1979).</span></p>
<p><span class="rvts8">Jika Aisyah dipinang 620M (Aisyah umur 7 tahun) dan berumah tangga tahun 623/624 M (usia 9 tahun), ini mengindikasikan bahwa Aisyah dilahirkan pada 613 M. Sehingga berdasarkan tulisan Al- Tabari, Aisyah seharusnya dilahirkan pada 613M, Yaitu 3 tahun sesudah masa Jahiliyahh usai (610 M).</span></p>
<p><span class="rvts8">Tabari juga menyatakan bahwa Aisyah dilahirkan pada saat Jahiliyah. Jika Aisyah dilahirkan pada era Jahiliyah, seharusnya minimal Aisyah berumur 14 tahun ketika dinikah. Tetapi intinya Tabari mengalami kontradiksi dalam periwayatannya.</span></p>
<p><span class="rvts8">KESIMPULAN: Al-Tabari tak reliable mengenai umur Aisyah ketika menikah.</span></p>
<p><span class="rvts11">Bukti # 3: Umur Aisyah jika dihubungkan dengan umur Fatimah</span></p>
<p><span class="rvts8">Menurut Ibn Hajar, &#8220;Fatima dilahirkan ketika Ka`bah dibangun kembali, ketika Nabi saw berusia 35 tahun&#8230; Fatimah 5 tahun lebih tua dari Aisyah&#8221; (Al-isabah fi tamyizi&#8217;l-sahabah, Ibn Hajar al-Asqalani, Vol. 4, p. 377, Maktabatu&#8217;l-Riyadh al-haditha, al-Riyadh,1978).</span></p>
<p><span class="rvts8">Jika Statement Ibn Hajar adalah factual, berarti Aisyah dilahirkan ketika Nabi berusia 40 tahun. Jika Aisyah dinikahi Nabi pada saat usia Nabi 52 tahun, maka usia Aisyah ketika menikah adalah 12 tahun.</span></p>
<p><span class="rvts8">KESIMPULAN: Ibn Hajar, Tabari, Ibn Hisham, dan Ibn Humbal kontradiksi satu sama lain. Tetapi tampak nyata bahwa riwayat Aisyah menikah usia 7 tahun adalah mitos tak berdasar.</span></p>
<p><span class="rvts11">Bukti #4: Umur Aisyah dihitung dari umur Asma&#8217;</span></p>
<p><span class="rvts8">Menurut Abda&#8217;l-Rahman ibn abi zanna&#8217;d: &#8220;Asma lebih tua 10 tahun dibanding Aisyah (Siyar A`la&#8217;ma&#8217;l-nubala&#8217;, Al-Zahabi, Vol. 2, p. 289, Arabic, Mu&#8217;assasatu&#8217;l-risalah, Beirut, 1992).</span></p>
<p><span class="rvts8">Menurut Ibn Kathir: &#8220;Asma lebih tua 10 tahun dari adiknya [Aisyah]&#8220;</span><br />
<span class="rvts8">(Al-Bidayah wa&#8217;l-nihayah, Ibn Kathir, Vol. 8, p. 371,Dar al-fikr al-`arabi, Al-jizah, 1933).</span></p>
<p><span class="rvts8">Menurut Ibn Kathir: &#8220;Asma melihat pembunuhan anaknya pada tahun 73 H, dan 5 hari kemudian Asma meninggal. Menurut iwayat lainya, dia meninggal 10 atau 20 hari kemudian, atau beberapa hari lebih dari 20 hari, atau 100 hari kemudian. Riwayat yang paling kuat adalah 100 hari kemudian. Pada waktu Asma Meninggal, dia berusia 100 tahun&#8221; (Al-Bidayah wa&#8217;l-nihayah, Ibn Kathir, Vol. 8, p. 372, Dar al-fikr al-`arabi, Al- jizah, 1933)</span></p>
<p><span class="rvts8">Menurut Ibn Hajar Al-Asqalani: &#8220;Asma hidup sampai 100 tahun dan meninggal pada 73 or 74 H.&#8221; (Taqribu&#8217;l-tehzib, Ibn Hajar Al-Asqalani,p. 654, Arabic, Bab fi&#8217;l-nisa&#8217;, al-harfu&#8217;l-alif, Lucknow).</span></p>
<p><span class="rvts8">Menurut sebagaian besar ahli sejarah, Asma, Saudara tertua dari Aisyah berselisih usia 10 tahun. Jika Asma wafat pada usia 100 tahun dia tahun 73 H, Asma seharusnya berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah 622M).</span></p>
<p><span class="rvts8">Jika Asma berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah (ketika Aisyah berumah tangga), Aisyah seharusnya berusia 17 atau 18 tahun. Jadi, Aisyah, berusia 17 atau 18 tahun ketika hijrah pada taun dimana Aisyah berumah tangga.</span></p>
<p><span class="rvts8">Berdasarkan Hajar, Ibn Katir, and Abda&#8217;l-Rahman ibn abi zanna&#8217;d, usia Aisyah ketika beliau berumah tangga dengan Rasulullah adalah 19 atau 20 tahun.</span></p>
<p><span class="rvts8">Dalam bukti # 3, Ibn Hajar memperkirakan usia Aisyah 12 tahun dan dalam bukti #4 Ibn Hajar mengkontradiksi dirinya sendiri dengan pernyataannya usia Aisyah 17 atau 18 tahun. Jadi mana usia yang benar ? 12 atau 18..?</span></p>
<p><span class="rvts8">KESIMPULAN: Ibn Hajar tidak valid dalam periwayatan usia Aisyah.</span></p>
<p><span class="rvts11">Bukti #5: Perang BADAR dan UHUD</span></p>
<p><span class="rvts8">Sebuah riwayat mengenai partisipasi Aisyah dalam perang Badr dijabarkan dalam hadist Muslim, (Kitabu&#8217;l-jihad wa&#8217;l-siyar, Bab karahiyati&#8217;l-isti`anah fi&#8217;l-ghazwi bikafir). Aisyah, ketika menceritakan salah satu moment penting dalam perjalanan selama perang Badar, mengatakan: &#8220;ketika kita mencapai Shajarah&#8221;. Dari pernyataan ini tampak jelas, Aisyah merupakan anggota perjalanan menuju Badar.</span></p>
<p><span class="rvts8">Sebuah riwayat mengenai pastisipasi Aisyah dalam Uhud tercatat dalam Bukhari (Kitabu&#8217;l-jihad wa&#8217;l-siyar, Bab Ghazwi&#8217;l-nisa&#8217; wa qitalihinnama`a&#8217;lrijal): &#8220;Anas mencatat bahwa pada hari Uhud, Orang-orang tidak dapat berdiri dekat Rasulullah. [pada hari itu,] Saya melihat Aisyah dan Umm-i-Sulaim dari jauh, Mereka menyingsingkan sedikit pakaian-nya [untuk mencegah halangan gerak dalam perjalanan tsb].&#8221;</span></p>
<p><span class="rvts8">Lagi-lagi, hal ini menunjukkan bahwa Aisyah ikut berada dalam perang Uhud dan Badr.</span></p>
<p><span class="rvts8">Diriwayatkan oleh Bukhari (Kitabu&#8217;l-maghazi, Bab Ghazwati&#8217;l-khandaq wa hiya&#8217;l-ahza&#8217;b): &#8220;Ibn `Umar menyatakan bahwa Rasulullah tidak mengijinkan dirinya berpastisispasi dalam Uhud, pada ketika itu, Ibnu Umar berusia 14 tahun. Tetapi ketika perang Khandaq, ketika berusia 15 tahun, Nabi mengijinkan Ibnu Umar ikut dalam perang tsb.&#8221;</span></p>
<p><span class="rvts8">Berdasarkan riwayat diatas, (a) anak-anak berusia dibawah 15 tahun akan dipulangkan dan tidak diperbolehkan ikut dalam perang, dan (b) Aisyahikut dalam perang badar dan Uhud</span></p>
<p><span class="rvts8">KESIMPULAN: Aisyah ikut dalam perang Badar dan Uhud jelas mengindikasikan bahwa beliau tidak berusia 9 tahun ketika itu, tetapi minimal berusia 15 tahun. Disamping itu, wanita-wanita yang ikut menemani para pria dalam perang sudah seharusnya berfungsi untuk membantu, bukan untuk menambah beban bagi mereka. Ini merupakan bukti lain dari kontradiksi usia pernikahan Aisyah.</span></p>
<p><span class="rvts11">BUKTI #6: Surat al-Qamar (Bulan)</span></p>
<p><span class="rvts8">Menurut beberapa riwayat, Aisyah dilahirkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah. Tetapi menurut sumber lain dalam Bukhari, Aisyah tercatat mengatakan hal ini: &#8220;Saya seorang gadis muda(jariyah dalam bahasa arab)&#8221; ketika Surah Al-Qamar diturunkan(Sahih Bukhari, Kitabu&#8217;l-tafsir, Bab Qaulihi Bal al-sa`atu Maw`iduhum wa&#8217;l-sa`atu adha&#8217; wa amarr).</span></p>
<p><span class="rvts8">Surat 54 dari Quran diturunkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah(The Bounteous Koran, M.M. Khatib, 1985), menunjukkan bahwa surat tsb diturunkan pada tahun 614 M. jika Aisyah memulai berumahtangga dengan Rasulullah pada usia 9 di tahun 623 M or 624 M, Aisyah masih bayi yang baru lahir (sibyah in Arabic) pada saat Surah Al-Qamar diturunkan. Menurut riwayat diatas, secara aktual tampak bahwa Aisyah adalah gadis muda, bukan bayi yang baru lahir</span><br />
<span class="rvts8">ketika pewahyuan Al-Qamar. Jariyah berarti gadis muda yang masih suka bermain (Lane&#8217;s Arabic English Lexicon).</span></p>
<p><span class="rvts8">Jadi, Aisyah, telah menjadi jariyah bukan sibyah (bayi), jadi telah berusia 6-13 tahun pada saat turunnya surah Al-Qamar, dan oleh karena itu sudah pasti berusia 14-21 tahun ketika dinikah Nabi.</span></p>
<p><span class="rvts8">KESIMPULAN: Riwayat ini juga mengkontra riwayat pernikahan Aisyah yang berusia 9 tahun.</span></p>
<p><span class="rvts11">Bukti #7: Terminologi bahasa Arab</span></p>
<p><span class="rvts8">Menurut riwayat dari Ahmad ibn Hanbal, sesudah meninggalnya isteri pertama Rasulullah, Khadijah, Khaulah datang kepada Nabi dan menasehati Nabi untuk menikah lagi, Nabi bertanya kepadanya tentang pilihan yang ada di pikiran Khaulah. Khaulah berkata: &#8220;Anda dapat menikahi seorang gadis (bikr) atau seorang wanita yang pernah menikah (thayyib)&#8221;. Ketika Nabi bertanya tentang identitas gadis tersebut (bikr), Khaulah menyebutkan nama Aisyah.</span></p>
<p><span class="rvts8">Bagi orang yang paham bahasa Arab akan segera melihat bahwa kata bikr dalam bahasa Arab tidak digunakan untuk gadis belia berusia 9 tahun.</span></p>
<p><span class="rvts8">Kata yang tepat untuk gadis belia yang masih suka bermain-main adalah, seperti dinyatakan dimuka, adalah jariyah. Bikr disisi lain, digunakan untuk seorang wanita yang belum menikah serta belum punya pertautan pengalaman dengan pernikahan, sebagaimana kita pahami dalam bahasa Inggris &#8220;virgin&#8221;. Oleh karena itu, tampak jelas bahwa gadis belia 9 tahun bukanlah &#8220;wanita&#8221; (bikr) (Musnad Ahmad ibn Hanbal, Vol. 6, p. .210,Arabic, Dar Ihya al-turath</span><br />
<span class="rvts8">al-`arabi, Beirut).</span></p>
<p><span class="rvts8">Kesimpulan: Arti literal dari kata, bikr (gadis), dalam hadist diatas adalah &#8220;wanita dewasa yang belum punya pengalaman sexual dalam pernikahan.&#8221; Oleh karena itu, Aisyah adalah seorang wanita dewasa pada waktu menikahnya.</span></p>
<p><span class="rvts11">Bukti #8. Text Qur&#8217;an</span></p>
<p><span class="rvts8">Seluruh muslim setuju bahwa Quran adalah buku petunjuk. Jadi, kita perlu mencari petunjuk dari Qur&#8217;an untuk membersihkan kabut kebingungan yang diciptakan oleh para periwayat pada periode klasik Islam mengenai usia Aisyah dan pernikahannya. Apakah Quran mengijinkan atau melarang pernikahan dari gadis belia berusia 7 tahun?</span></p>
<p><span class="rvts8">Tak ada ayat yang secara eksplisit mengijinkan pernikahan seperti itu. Ada sebuah ayat, yang bagaimanapun, yang menuntun muslim dalam mendidik dan memperlakukan anak yatim. Petunjuk Qur&#8217;an mengenai perlakuan anak Yatim juga valid diaplikasikan ada anak kita sendiri sendiri.</span></p>
<p><span class="rvts8">Ayat tersebut mengatakan : Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. (Qs. 4:5) Dan</span><br />
<span class="rvts8">ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin.</span></p>
<p><span class="rvts8">Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. ?? (Qs. 4:6)</span></p>
<p><span class="rvts8">Dalam hal seorang anak yang ditingal orang tuanya, Seorang muslim</span><br />
<span class="rvts8">diperintahkan untuk (a) memberi makan mereka, (b) memberi pakaian, (c) mendidik mereka, dan (d) menguji mereka thd kedewasaan &#8220;sampai usia menikah&#8221; sebelum mempercayakan mereka dalam pengelolaan keuangan.</span></p>
<p><span class="rvts8">Disini, ayat Qur&#8217;an menyatakan tentang butuhnya bukti yang teliti terhadap tingkat kedewasaan intelektual dan fisik melalui hasil test yang objektif sebelum memasuki usia nikah dan untuk mempercayakan pengelolaan harta-harta kepada mereka.</span></p>
<p><span class="rvts8">Dalam ayat yang sangat jelas diatas, tidak ada seorangpun dari muslim yang bertanggungjawab akan melakukan pengalihan pengelolaan keuangan pada seorang gadis belia berusia 7 tahun. Jika kita tidak bisa mempercayai gadis belia berusia 7 tahun dalam pengelolaan keuangan, Gadis tersebut secara tidak memenuhi syarat secara intelektual maupun fisik untuk menikah. Ibn Hambal (Musnad Ahmad ibn Hambal, vol.6, p. 33 and 99) menyatakan bahwa Aisyah yang berusia 9 tahun lebih tertarik untuk bermain dengan mainannya daripada mengambil tugas sebagai isteri.</span></p>
<p><span class="rvts8">Oleh karena itu sangatlah sulit untuk mempercayai, bahwa Abu Bakar,seorang tokoh muslim, akan menunangkan anaknya yang masih belia berusia 7 taun dengan Nabi yang berusia 50 tahun.. Sama</span><br />
<span class="rvts8">sulitnya untuk membayangkan bahwa Nabi menikahi seorang gadis belia berusia 7 tahun.</span></p>
<p><span class="rvts8">Sebuah tugas penting lain dalam menjaga anak adalah mendidiknya. Marilah kita memunculkan sebuah pertanyaan,&#8221;berapa banyak di antara kita yang percaya bahwa kita dapat mendidik anak kita dengan hasil memuaskan sebelum mereka mencapai usia 7 atau 9 tahun?&#8221; Jawabannya adalah Nol besar.</span></p>
<p><span class="rvts8">Logika kita berkata, adalah tidak mungkin tugas mendidik anak kita dengan memuaskan sebelum mereka mencapai usia 7 tahun, lalu bagaimana mana mungkin kita percaya bahwa Aisyah telah dididik secara sempurna pada usia 7 tahun seperti diklaim sebagai usia pernikahannya?</span></p>
<p><span class="rvts8">Abu Bakr merupakan seorang yang jauh lebih bijaksana dari kita semua, Jadi dia akan merasa dalam hatinya bahwa Aisyah masih seorang anak-anak yang belum secara sempurna sebagaimana dinyatakan Qur&#8217;an. Abu Bakar tidak akan menikahkan Aisyah kepada seorangpun. Jika sebuah proposal pernikahan dari gadis belia dan belum terdidik secara memuaskan datang kepada Nabi, Beliau</span><br />
<span class="rvts8">akan menolak dengan tegas karena itu menentang hukum-hukum Quran.</span></p>
<p><span class="rvts8">KESIMPULAN: Pernikahan Aisyah pada usia 7 tahun akan menentang hukum kedewasaan yang dinyatakan Quran. Oleh karena itu, Cerita pernikahan Aisyah gadis belia berusia 7 tahun adalah mitos semata.</span></p>
<p><span class="rvts11">Bukti #9: Ijin dalam pernikahan</span></p>
<p><span class="rvts8">Seorang wanita harus ditanya dan diminta persetujuan agar pernikahan yang dia lakukan menjadi syah (Mishakat al Masabiah, translation by James Robson, Vol. I, p. 665). Secara Islami, persetujuan yang kredible dari seorang wanita merupakan syarat dasar bagi kesyahan sebuah pernikahan.</span></p>
<p><span class="rvts8">Dengan mengembangkan kondisi logis ini, persetujuan yang diberikan oleh gadis belum dewasa berusia 7 tahun tidak dapat diautorisasi sebagai validitas sebuah pernikahan.</span></p>
<p><span class="rvts8">Adalah tidak terbayangkan bahwa Abu Bakr, seorang laki-laki yang cerdas, akan berpikir dan mananggapi secara keras tentang persetujuan pernikahan gadis 7 tahun (anaknya sendiri) dengan seorang laki-laki berusia 50 tahun.</span></p>
<p><span class="rvts8">Serupa dengan ini, Nabi tidak mungkin menerima persetujuan dari seorang gadis yang menurut hadith dari Muslim, masih suka bermain-main dengan bonekanya ketika berumah tangga dengan Rasulullah.</span></p>
<p><span class="rvts8">KESIMPULAN: Rasulullah tidak menikahi gadis berusia 7 tahun karena akan tidak memenuhi syarat dasar sebuah pernikahan islami tentang klausa persetujuan dari pihak isteri. Oleh karena itu, hanya ada satu kemungkinan Nabi menikahi Aisyah seorang wanita yang dewasa secara intelektual maupun fisik.</span></p>
<p><span class="rvts8">Summary:</span><br />
<span class="rvts8">Tidak ada tradisi Arab untuk menikahkan anak perempuan atau laki-laki yang berusia 9 tahun, Demikian juga tidak ada pernikahan Rasulullah SAW dan Aisyah ketika berusia 9 tahun. Orang-orang arab tidak pernah keberatan dengan pernikahan seperti ini, karena ini tak pernah terjadi sebagaimana isi beberapa riwayat.</span></p>
<p><span class="rvts8">Jelas nyata, riwayat pernikahan Aisyah pada usia 9 tahun oleh Hisham ibn `Urwah tidak bisa dianggap sebagai kebenaran, dan kontradisksi dengan riwayat-riwayat lain. Lebih jauh, tidak ada alasan yang nyata untuk menerima riwayat Hisham ibn `Urwah sebagai kebenaran ketika para pakar lain, termasuk Malik ibn Anas, melihat riwayat Hisham ibn `Urwah selama di Iraq adalah tidak reliable.</span></p>
<p><span class="rvts8">Pernyataan dari Tabari, Bukhari dan Muslim menunjukkan mereka kontradiksi satu sama lain mengenai usia menikah bagi Aisyah. Lebih jauh, beberapa pakar periwayat mengalami internal kontradiksi dengan riwayat-riwayatnya sendiri. Jadi, riwayat usia Aisyah 9 tahun ketika menikah adalah tidak reliable karena adanya kontradiksi yang nyata pada catatan klasik dari pakar sejarah Islam.</span></p>
<p><span class="rvts8">Oleh karena itu, tidak ada alasan absolut untuk menerima dan mempercayai usia Aisyah 9 tahun ketika menikah sebagai sebuah kebenaran disebabkan cukup banyak latar belakang untuk menolak riwayat tsb dan lebih layak disebut sebagai mitos semata. Lebih jauh, Qur&#8217;an menolak pernikahan gadis dan lelaki yang belum dewasa sebagaimana tidak layak membebankan kepada mereka tanggung jawab-tanggung jawab.</span> <font face="Arial"><br />
</font><br />
<span class="rvts8">Note: The Ancient Myth Exposed</span><br />
<span class="rvts8">By T.O. Shanavas , di Michigan.</span><br />
<span class="rvts12">©</span><span class="rvts8"> 2001 Minaret</span><br />
<span class="rvts8">from The Minaret Source: http://www.iiie.net/</span></p>
<p></font><span class="rvts8">Diterjemahkan oleh : Cahyo Prihartono</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/luthv.wordpress.com/23/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/luthv.wordpress.com/23/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/luthv.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/luthv.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/luthv.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/luthv.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/luthv.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/luthv.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/luthv.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/luthv.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/luthv.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/luthv.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luthv.wordpress.com&blog=825886&post=23&subd=luthv&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luthv.wordpress.com/2007/03/05/pernikahan-nabi-saww-dengan-aisyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/20ed5e2055cfc5d6bc59c063983d0538?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">luthv</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Air Mata</title>
		<link>http://luthv.wordpress.com/2007/03/05/14/</link>
		<comments>http://luthv.wordpress.com/2007/03/05/14/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Mar 2007 02:57:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luthv</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luthv.wordpress.com/2007/03/05/14/</guid>
		<description><![CDATA[Imam Ja’far ash-Shâdiq as berkata, “Segala sesuatu (di dunia ini) pasti memiliki timbangan dan takaran kecuali air mata, karena satu tetes darinya dapat memadamkan lautan api”.(Bihârul Anwâr, jilid 93, hal. 331, Hadis No.14)

Setiap orang yang hidup di dunia ini pasti pernah menangis. Bahkan, pertanda bahwa seorang bayi yang baru lahir itu hidup adalah tangisannya setelah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luthv.wordpress.com&blog=825886&post=14&subd=luthv&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Imam Ja’far ash-Shâdiq as berkata, <em>“Segala sesuatu (di dunia ini) pasti memiliki timbangan dan takaran kecuali air mata, karena satu tetes darinya dapat memadamkan lautan api”</em>.(<em>Bi<u>h</u>ârul Anwâr</em>, jilid 93, hal. 331, Hadis No.14)</p>
<p><span id="more-14"></span></p>
<p>Setiap orang yang hidup di dunia ini pasti pernah menangis. Bahkan, pertanda bahwa seorang bayi yang baru lahir itu hidup adalah tangisannya setelah ia keluar dari perut ibunya. Oleh karena itu, orang-orang yang menangani kelahiran seorang bayi ketika tidak mendengarkan tangisannya, mereka akan merasa khawatir akan hidupnya.</p>
<p>Orang-orang yang menangis itu pun memiliki faktor yang beraneka ragam. Kadang-kadang faktor pendorongnya untuk menangis adalah kehilangan harta, putranya meninggal dunia, penyesalan atas dosa-dosa yang pernah dilakukannya, dan sekeranjang faktor lain yang mungkin dimiliki oleh seseorang.</p>
<p>Jika kita merujuk kepada hadis-hadis <em>ma’shûmîn</em> as, kita akan dapatkan bahwa menangis memiliki efek-efek positif yang dapat bermanfaat bagi diri manusia. Di antaranya, menangis dapat melunakkan hati. Dalam hadis di atas, Imam Shâdiq as menegaskan bahwa setetes air mata dapat memadamkan lautan api. Tentunya, tidak semua tangisan dapat memiliki efek seperti itu. Tangisan yang dapat memadamkan lautan api itu adalah tangisan yang muncul dari rasa penyesalan terhadap dosa yang pernah dilakukan oleh seseorang. Tangisan seperti inilah yang dapat memadamkan lautan api neraka yang dikobarkan oleh dosa-dosa seorang hamba. Atau tangisan yang didasari oleh rasa takut kepada Allah.</p>
<p>Dalam banyak hadis disebutkan bahwa menangis karena takut kepada Allah dapat mencahayakan hati dan mencegah seseorang untuk melakukan dosa kembali. (<em>Ghurarul <u>H</u>ikam</em>, Hikmah No.2051). Dalam hadis yang lain disebutkan bahwa seseorang yang menangis meskipun air matanya hanya satu tetes sebesar kepala lalat dan ia menangis karena takut kepada Allah, Ia akan mengamankannya dari kedahsyatan hari Kiamat. (<em>Bi<u>h</u>ârul Anwâr</em>, jilid 93, hal.334, Hadis No.25)</p>
<p>Semoga Allah selalu menjadikan mata kita meneteskan air mata karena takut kepadanya. Amin!</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/luthv.wordpress.com/14/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/luthv.wordpress.com/14/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/luthv.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/luthv.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/luthv.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/luthv.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/luthv.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/luthv.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/luthv.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/luthv.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/luthv.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/luthv.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luthv.wordpress.com&blog=825886&post=14&subd=luthv&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luthv.wordpress.com/2007/03/05/14/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/20ed5e2055cfc5d6bc59c063983d0538?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">luthv</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dicari: Pemimpin Berhati Nurani!</title>
		<link>http://luthv.wordpress.com/2007/02/28/dicari-pemimpin-berhati-nurani/</link>
		<comments>http://luthv.wordpress.com/2007/02/28/dicari-pemimpin-berhati-nurani/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Feb 2007 12:39:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luthv</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosial Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luthv.wordpress.com/2007/02/28/dicari-pemimpin-berhati-nurani/</guid>
		<description><![CDATA[“Sesungguhnya Alloh telah mewajibkan kepada para 
pemimpin yang sesungguhnya untuk hidup pada tingkat 
penghidupan yang paling rendah agar rakyat miskin tidak
merasa terhina dengan kemiskinannya.”
( Imam Ali ibn Abi Thalib as. )


Di salah satu sudut kota Kufah, seorang pria dengan baju yang kasar serta penuh dengan tambalan tengah menjahit baju miliknya sendiri, sedangkan disisi kanannya terdapat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luthv.wordpress.com&blog=825886&post=3&subd=luthv&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal"><span>“Sesungguhnya Alloh telah mewajibkan kepada para </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>pemimpin yang sesungguhnya untuk hidup pada tingkat </span></p>
<p class="MsoNormal">penghidupan yang paling rendah agar rakyat miskin tidak</p>
<p class="MsoNormal"><span>merasa terhina dengan kemiskinannya.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>( Imam Ali ibn Abi Thalib as. )</span></p>
<p class="MsoNormal"><span id="more-3"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Di salah satu sudut kota Kufah, seorang pria dengan baju yang kasar serta penuh dengan tambalan tengah menjahit baju miliknya sendiri, sedangkan disisi kanannya terdapat sebuah bungkusan. Seseorang bertanya kepadanya,” ya, Amirul mukminin apakah gerangan bungkusan disebelah kananmu itu?” ia menjawab, ”ini adalah dua buah roti kering, aku sengaja menyembunyikannya karena takut putraku Hasan dan Husain mengoleskan minyak (mentega) keatasnya”. </span>Siapakah pria itu? Ya, dia adalah Imam Ali ibn Abi Thalib. Ia adalah pemimpin umat Islam kala itu, dimana puncak kekuasaan beserta harta kekayaan Negara berada ditangannya.</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal">Pernahkan terpikir dalam benak kita hari ini ketika melihat seseorang dengan pakaian yang kasar serta penuh dengan tambalan dan hanya memakan dua buah roti kering setiap harinya bahwa ia adalah seorang presiden atau pejabat pemerintah? Pernahkah? Saya yakin 100% kita akan langsung mencapnya sebagai gembel, pengemis, bahkan mungkin juga ada yang menganggapnya orang gila. Tapi ini adalah realita, seorang pemimpin yang begitu sederhana, miskin, padahal ia bisa saja mengambil uang dari kas negara sebagai gajinya, tapi tidak ia lakukan. <span>Bahkan ia tidak mau untuk memakan makanan yang enak, sekalipun itu hanya sebuah olesan mentega. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Berbicara mengenai pemimpin, maka para pemimpin di indonesia sungguh jauh berbeda keadaannya dengan kisah diatas. Para pemimpin kita sebagian besar mempunyai fasilitas yang lux, mobil mewah, rumah mewah, dan semua yang berbau mewah. Keadaan ini begitu kontras dengan kondisi rakyat indonesia yang pada tahun 2006 memiliki angka kemiskinan sekitar 39,5 juta jiwa, sedangkan di Jawa Barat sendiri angka kemiskinan mencapai 10 juta jiwa dari 40 juta penduduk Jawa Barat, bahkan para analis memprediksikan bahwa angka kemiskinan tahun 2007 akan semakin meningkat. Kondisi ini sungguh memprihatinkan kita semua, melihat &#8216;katanya&#8217; Indonesia merupakan negara yang kaya dengan sumber daya alam. Secara logika seharusnya seluruh rakyat indonesia hidup dengan sejahtera serta berkecukupan, namun kondisi yang ada justru sebaliknya. Kenyataannyamenunjukan bahwa hasil kekayaan Indonesia justru hanya dikuasai oleh segelintir orang yang memilki kepentingan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Keadaan ini diperparah dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah No. 37 tahun 2006 yang menuai banyak protes dari berbagai kalangan. Dengan diterbitkannya PP ini semakin memperjelas kesenjangan antara para pejabat dengan rakyat. Sampai saat ini saya pribadi masih belum mengerti bagaimana cara berpikir bapak-bapak kita yang duduk di Dewan. Bagaimana mungkin ditengah situasi rakyat yang sedang sekarat ini mereka malah menunjukan gigi dengan menguras uang negara. Kalau kinerjanya baik dan memang benar-benar membutuhkan serta kondisi rakyat yang memungkinkan, tidak jadi masalah. Tapi kita kembali lagi, bagaimana kinerja mereka?, bagaimana keadaan Indonesia? Bagaimana dengan keadaan rakyat? Sungguh tidak mempunyai rasa malu serta hati nurani!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Melihat situasi dan kondisi Indonesia saat ini, maka sepertinya kita harus menacari sosok pemimpin ataupun penguasa yang mampu memahami serta mengerti keadaan rakyat indonesia secara umum, bukan pemimpin yang hanya memberikan janji-janji yang tidak pernah ditepati ataupun pemimpin yang hanya paham dan peduli terhadap rakyat ketika menjelang Pemilu ataupun Pilkada. Sudah saatnya muncul pemimpin yang mampu merangkul berbagai kalangan serta berbagai lapisan masyarakat, pemimpin yang diterima,<span> </span>serta -mempunyai kapasitas Intelektual dan kepekaan sosial yang tinggi dalam artian dapat memberikan solusi terhadap berbagai masalah yang menimpa bangsa Indonesia dan memiliki kepedulian terhadap penderitaan rakyat serta harus merakyat supaya sebagaimana yang ungkapan Imam Ali &#8216;agar rakyat miskin tidak merasa terhina dengan kemiskinannya&#8217;.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sudah saatnya indonesia mempunyai pemimpin yang mempunyai hati nurani. </span>Pemimpin yang siap membangun Indonesia bersama-sama dengan rakyat, saling membantu, saling melengkapi. Para pemimpin negeri ini ternyata sampai sekarang sebagian besar tidak memiliki rasa kerakyatan yang tinggi, kebanykan hanya bersifat politis. Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang selalu belajar dari sejarah bangsanya. <span>Belajar dari kesalahan dan kemudian tidak mengulangi kesalahan yang sama. Ketika sudah terbukti seorang pemimpin gagal dalam membawa negeri ini keluar dari kemelut, untuk apa kita pilih lagi? Saatnya kita berikan kesempatan kepada individu-individu memiliki semangat baru, semangat reformasi, semangat orang-orang terpilih dari masa lalu!.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Wallahu&#8217;alam</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/luthv.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/luthv.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/luthv.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/luthv.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/luthv.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/luthv.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/luthv.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/luthv.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/luthv.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/luthv.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/luthv.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/luthv.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luthv.wordpress.com&blog=825886&post=3&subd=luthv&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luthv.wordpress.com/2007/02/28/dicari-pemimpin-berhati-nurani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/20ed5e2055cfc5d6bc59c063983d0538?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">luthv</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>