Oleh: luthv | Mei 10, 2007

“Ja’fari, mazhab resmi Islam kelima”

Bicaranya lugas khas kiai pesantren. Namun data dan istilah yang rancak Image terselip dalam kalimat-kalimatnya menunjukkan bahwa dia bukan sekadar kiai pesantren biasa, melainkan juga intelektual yang mengenyam pendidikan tinggi dan mempunyai pergaulan yang luas. Kyai Said, demikian sapaan akrab DR. KH. Said Aqiel Siradj.

Ditemui SYI’AR di ruangannya di kantor PBNU, ulama asal Palimanan, Cirebon, ini cerita banyak tentang kunjungannya ke Qatar, sikapnya tentang kerukunan antar-mazhab, kultur Syiah dalam NU dan penjabarannya tentang kondisi umat Islam Indonesia. Berikut kutipannya:
TENTANG SUNAH-SYIAH

Anda bisa ceritakan tentang pertemuan Qatar?
Saya diundang dalam pertemuan Suni-Syiah di Doha, ibukota Qatar, pada 20-22 Januari 2007. Tujuannya mempersempit atau memperkecil sudut pandang Suni-Syiah yang sudah barang tentu penting sekali.
Pertemuan pada hari pertama memang panas. Terutama pihak Suni. Yusuf Qardhawi, Syekh Wahbah Zuhaili dan Syekh Ali Syabuni punya syarat bahwa mereka bisa bertemu apabila pihak Syiah menghentikan caci maki terhadap sabahat. Mereka tidak akan mau bertemu apabila Syiah masih mengatakan misalnya ‘laknat Allah’ kepada Aisyah karena Suni mengatakan ‘Semoga Allah meridhainya’.
Kemudian yang sangat disayangkan dan juga dikritik oleh Syekh Yusuf Qaradhawi adalah penyebaran Syiah di kalangan Suni. Dia juga bilang Indonesia sebagai salah satu basis penyebaran Syiah dengan menyebarkan buku-buku terjemahan dan lain sebagainya.
Lebih seru lagi, Syekh Qaradhawi di forum ini meminta Ali Taskhiri mengucapkan Aisyah radhiya Allahu anha (ra). Dan Syekh Ali Taskhiri mau melakukannya. Tidak berhenti di situ, dia juga minta semua utusan Iran mengucapkan hal yang sama seperti Ali Taskhiri. Ini kejadian yg sangat disayangkan dan sesungguhnya tidak perlu terjadi di forum yang mulia ini. Tetapi pada hari kedua sudah mulai cair.
Hasil dari seminar itu, pada intinya, masing-masing pihak menghargai peranan masing-masing dan mengendalikan kalangan ekstrim dari masing-masing mazhab.
Menurut Ali Taskhiri, di kalangan Syiah memang ada juga orang-orang yang ekstrim dan fanatik dan dengan tidak bertanggungjawab mencaci maki sahabat dan Suni. Demikian pula di Suni. Sementara NU sendiri tidak pernah mencaci maki Syiah. Tapi di kalangan Wahabi memang banyak yang ekstrim.

Pada pertemuan itu, saya diberi kesempatan berbicara dua kali. Pada forum tersebut, saya mengajak kedua pihak untuk masing-masing menulis buku tentang pengakuan dan penghargaan Suni terhadap Syiah dalam membangun peradaban. Begitu juga Syiah, menulis buku tentang peranan Suni dalam membangun peradaban.
Sebenarnya hal (pertemuan Suni-Syiah) ini sudah lama dilakukan oleh Syekh Syaltut dan Ayatullah Burujerdi. Hasil dari kesepakatan kedua tokoh tersebut adalah bahwa mazhab Ja’fari diajarkan secara resmi di al-Azhar. Bahkan salah satu keberhasilan tersebut adalah diakuinya mazhab Ja’fari sebagai mazhab resmi dalam Islam sebagaimana empat mazhab lainnya. Bahkan rektor Al-Azhar, Dr. Ahmad Thayyib, mengatakan banyak kaidah hukum yang diambil dari mazhab Ja’fari adalah sah, ketika tidak ditemukan pada empat mazhab. Walhasil, mazhab Ja’fari adalah setara dengan empat mazhab lainnya.

Hal apakah yang mendorong terselenggaranya pertemuan tersebut?
Saya kira pertemuan itu didorong oleh kondisi di Irak. Masing-masing menuduh. Suni menuding Iran menyuplai senjata. Demikian pula Syiah menuding kelompok Suni Irak mendapat senjata dari Saudi. Lepas dari masalah itu semua, perpecahan di Irak harus dihentikan. Para ulama di sana harus mengendalikan umatnya, karena bukan hanya sekadar perbedaan pendapat tapi juga sudah ribuan nyawa melayang di sana.

Apakah benar Iran di belakang konflik sektarian itu?
Saya tahu ini rekayasa Amerika. Saya tahu sengaja dibangun opini bahwa ini adalah konflik mazhab Suni-Syiah. Padahal ini murni politik, toh dulu tidak pernah terjadi konflik seperti ini.

Saya bisa tegaskan di sini bahwa Iran, selalu dan selamanya, membela Palestina. Padahal di Palestina tidak ada Syiah, semuanya Suni. Tapi Iran matian-matian sampai berkorban dan rela ditekan Amerika karena perjuangannya bagi Palestina. Karena itu harus dipahami Iran berdiri bukan hanya untuk Syiah, bukan hanya untuk partai, tapi juga untuk Islam.

Apakah pertemuan Doha itu memang khusus untuk masalah sektarian di Irak atau memang pertemuan reguler?
Pertemuan Doha ini terdorong karena keadaan di Irak. Kalau yang reguler adalah yang di Iran dan semua pihak diundang dalam pertemuan itu.
Walhasil, masing-masing pihak selalu ada yang ekstrim, dan itu salah. Di Syiah ada yang ekstrim mencaci maki Suni dan di Sunni juga tidak kurang atau kelewatan.
Waktu Imam Khomeini pulang ke Iran, terbit sebuah buku yg menghujat beliau kira-kira judulnya Ja’a Daurul Majus ‘Tibalah Saatnya Majusi Kembali’. Itu sudah keterlaluan.
Sebenarnya bila bicara masalah perbedaan mazhab, itu bukan konsumsi pasar. Bukan obrolan orang awam. Tapi kalau masing-masing sudah menyebarkan buku murahan dan saling caci maki dan menjadi konsumsi awam akan berbahaya sekali. Bahaya terhadap Islam.

Jadi siapa yang berhak menetralisir segala macam isu yang bisa memecah belah persatuan umat ini?
Ulama, dong. Seperti yang saya katakan tadi, Syekh Al-Azhar, Syekh Mahmud Syaltut, mengadakan pendekatan dengan Ayatullah Burujerdi yang kemudian berdampak besar, sampai akhirnya Mazhab Ja’fari resmi dianggap sebagai mazhab kelima, selevel dengan mazhab yang empat.

Apa isu Suni-Syiah demikian krusialnya sampai-sampai diadakan pertemuan Doha? Apa tidak ada isu lain?
Kenyataannya, sekarang (di Irak) sudah saling bunuh. Faktanya begitu. Dalang di belakang kejadian ini kita semua tahu. Juga isu senjata Syiah disuplai Iran dan senjata Sunni disuplai Saudi. Kita semua tahu siapa dalang sesungguhnya. Ini adalah kerjaan Amerika untuk memecah belah Irak. Tapi kan, beberapa ulama terpengaruh. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Syekh Qardhawi, Wahbah Zuhaili dan Ali Syabuni barangkali terpengaruh juga oleh isu ini.
Seandainya kita bisa berbicara dengan jernih, kembali pada dasar yang paling prinsip, semua mazhab hakikatnya sama kecuali pada hal-hal yang furu’ (parsial). Kenapa kita bisa dialog dengan non-Muslim tapi tidak bisa dengan Syiah kalau tidak dibesar-besarkan oleh kepentingan politik?

TENTANG ISLAM DI INDONESIA

Ulama sedunia bisa bersatu mengenai isu Palestina. Tapi negara tempat ulama itu tinggal mempunyai policy yang berbeda. Bagaimana pendapat Anda?
Pertanyaan Anda mulai berkembang luas. Di Timur Tengah, pola pikir antara pola pikir agama dan nasionalisme belum selesai. Karena nasionalisme Timur Tengah itu universal. Banyak mengadopsi konsep Ernest Renan yang memisahkan gereja dan negara. Ketika di Eropa lahir bangsa-bangsa, sama sekali tidak ada pembicaraan tentang agama. Artinya tidak ada poin agama dalam konsep nasionalisme sehingga kaum Muslim menganggap bahwa nasionalisme adalah sekuler murni.

Pada umumnya ketika Khilafah Islamiyah di Turki tumbang pada 1924, yang menghadapi penjajah adalah kaum nasionalis. Dan mereka berhasil. Di Mesir ada Muhammad Najib, dan lain-lain. Terakhir merdeka pada zaman Gamal Abdul Naser. Begitu pula di Chad, Mitcel Aflak, Partai Ba’ats, Hafez Asad. Di Irak ada Hassan Sadr, Saddam Hussain. Mereka adalah nasionalis sekuler yang berhasil mengusir penjajah.
Setelah penjajah pergi, menurut masyarakat Arab awam, nasionalis gagal membangun pemerintahan. Buktinya juga gagal. Tidak ada persatuan yang permanen. Pernah ada republik persatuan Arab yang anggotanya Mesir, Libia dan Syiria tetapi umurnya hanya satu tahun. Jadi bangsa Arab putus asa dengan ide nasionalis. Gantinya adalah Islam garis keras (hardliner).


Alhamdulillah
, kita wajib bersyukur di Indonesia Islam dan nasionalisme bertemu. Dalam Pancasila, sila pertama agama dan sila kedua kebangsaan. Orang luar negeri heran, bentuk apakah itu. Sebab Islam kita khas, ala indonesia, nasionalisme-relijius. Boleh dikata, tidak ada orang nasionalis yang anti agama. Begitu pula tidak ada agamis yang tidak punya semangat nasionalis.
Sejak berdirinya sampai sekarang, Nahdhatul Ulama juga kuat dengan konsep Negara Darussalam (negara damai), bukan Darul Islam, yang ditetapkan pada muktamar 1926 di Banjarmasin.
Konsep Darussalam adalah negara yang mengaku semua komponen yang ada baik suku, agama dan budaya lalu digabungkan menjadi satu: negara Indonesia. Nah, nilai-nilai Islam itu ditransfer melalui semangat kebangsaan.
Oleh karena itu, marilah kita isi kebangsaan ini dengan nilai-nilai agama, tidak usah dilegalkan, diformalkan, diresmikan menjadi konstitusi negara tapi cukup negara Pancasila, Republik Indonesia, bangsa Indonesia.
Jadi peradaban bangsa ini kita isi dengan nilai-nilai agama dan agama harus amalkan dan diperkuat. Itu adalah komitmen Wahid Hasyim dan Muhammad Kahar Muzakir setuju mencoret Piagam Jakarta, asal spirit dari Piagam Jakarta masih ada dalam berbangsa ini yaitu mengamalkan ajaran Islam tetapi tidak usah dilegalformalkan.

Dalam pandangan politis, pencoretan piagam Jakarta itu karena lobi orang-orang Indonesia Timur yang akan melepaskan diri dari negara kesatuan Indonesia kalau ada negara Islam?
Iya, saya sangat memahami itu. Tapi apa pun juga sebabnya, persatuan nasional, persatuan nusa dan bangsa harus diperkuat lebih dulu. Kita tidak usah berbicara tentang negara Islam karena itu pasti pecah. Sampai sekarang ini, kalau kita menjadikan negara Indonesia sebagai negara Islam maka akan terjadi perpecahan.
Kita prioritaskan dan perkuat dulu persatuan negeri ini. Di dalam persatuan sebagai bangsa mari kita berlomba mengisi negara ini dengan nilai-nilai Islam.
Contohnya begini, kalau di sana mereka membangun gereja maka kita harus membangun mesjid. Kalau di sana mereka membangun rumah sakit maka kita harus membangun rumah sakit pula. Nah, itu yang positif. Bukankah begitu? Kalau di sana mereka membangun rumah sakit, bukan rumah sakitnya yang harus dibakar. Kristen membangun gejera yang besar maka kita pun harus membangun mesjid yang besar pula. Orang Kristen membantu bencana alam maka kita pun harus begitu. Jangan sebaliknya, orang Kristen membangun gejara kok malah dibakar.

Bagaimana dengan apologi bahwa agama kita yang berasal dari Timur Tengah yang di sana sendiri agama dan nasionalisme belum bisa bertemu?
Begini, kita mempunyai dasar yaitu Piagam Madinah. Nabi Muhammad saw membentuk sebuah komunitas Muslim di Mekah selama 13 tahun. Itulah yang namakan Ukhuwah Islamiyah, ikatan persaudaran Muslim. Di sana, siapa pun yang non-Islam, walaupun dia adalah ayahnya, kakaknya, ibunya, saudaranya sekalipun bukan saudara. Sebaliknya, siapa pun yang Muslim adalah saudara. Yang Muslim saudara dan yang non-Muslim bukan saudara.
Tapi ingat, itu di Mekah. Siapakah yang non-Muslim? Mereka adalah kaum musyrikin, paganis, yang tidak punya kitab suci, tidak punya budaya, tidak punya peradaban dan sebagainya. Yaitu yang Jahiliah.

Kemudian Nabi saw pindah ke Yatsrib. Dinamakan Yatsrib karena yang membangun kota itu namanya Yatsrib bin Tsabit. Di sana kita menemukan sebuah masyarakat yang plural, ada Muslim Muhajirin, penduduk asli setempat (yaitu suku Aus dan Khazraj) dan masyarakat Muslim Anshar itu sendiri, serta tiga suku Yahudi (yaitu Bani Quraizhah, Bani Qainuqa dan Bani Nadhir).
Ketika Nabi pindah ke sana, apa yang dilihat dan dihadapi berbeda pula. Muslim terdiri dari Muhajirin dan Anshar dan non-Muslimnya adalah Ahlulkitab Yahudi, bukan Musyrikin. Maka Nabi segera melakukan perjanjian damai yang menghasilkan surat kesepakatan Madinah yang ada di dalam kitab Sirah Nabawiyah yang ditulis oleh Ibnu Hisyam Anshari (juz. 2 hal. 219-222).
Kesepakatan tersebut bertujuan untuk membangun sebuah kota yang beradab, yang di situlah akan ditegakkan kebenaran, hukum, kesetaraan, tidak ada diskriminasi, persamaan, keadilan, kesejahteraan dan sebagainya. Tidak pandang suku, agama dan lain-lain. Maka dalam piagam Madinah itu, tidak ada satu kata pun kata “Islam” dalam Piagam Madinah. Tidak ada kata “Islam”, tidak ada kata “Al-Quran”. Yang ada hanyalah keadilan, keamanan dan lain-lain.
Poin pertama dalam piagam Madinah itu berbunyi, Innal mukminin min Quraisy, wa Yatsrib, wal-Yahud, waman tabi’ahum wa lahiqa bihim (Orang Islam Quraiys Madinah, orang Yahudi, dan siapa pun yang berkoalisi dengan mereka) innahum ummatun wahidah (mereka umat yang satu). Jadi jelaslah, masing-masing agama itu dipersilakan melaksanakan agamanya masing-masing.

Terakhir, piagam ini ditandatangani (disepakati) untuk memberantas kezaliman atau untuk menghadapi kezaliman. Jadi apa pun suku dan agamanya pasti dia akan aman.
Nah, Piagam Madinah itulah yang merupakan cikal bakal lahirnya konsep Tamaddun. Maka, Yatsrib diganti namanya menjadi Madinah al-Munawwarah yang berasal dari kata “Tamaddun” yaitu Masyarakat yang berperadaban dan sadar hukum, maju dan modern.
Tidak ada negara Islam, tapi negara Madinah. Saya bisa buktikan. Nabi Muhammad saw mau menerima hadiah dari seorang perempuan Mesir yang notabene Ortodoks Koptik, Maryah Qibtiyah, yang kemudian oleh Nabi dikasihkan kepada Hassan bin Tsabit seorang Kristen. Nabi juga menikahi seorang perempuan dari Yahudi, Hafsah bin Huyain.
Bukti lain, ketika Umar bin Khaththab menjadi khalifah, orang-orang Kristen Syiria, Syam, Cyprus dan lainnya lebih suka berada di bawah Madinah daripada berada di bawah kekuasaan Romawi. Ini betul-betul sudah bertamaddun (berperadaban).
Nah, kalau selama 13 tahun di Mekkah Nabi telah membentuk komunitas Muslim yang diikat dengan Ukhuwah Islamiyah maka setelah Nabi pindah ke kota Yatsrib, Nabi membentuk Ukhuwah Madaniyah, yang kalau kita lihat berarti Ukhuwah Wathaniyah (Hubungan sebangsa dan setanah air).
Terakhir, ketika Nabi mau wafat, beliau berangkat haji dan berkhotbah di Arafah. Pada khotbah itu Nabi hanya mengucapkan, “Ya ayyuhannas, wahai manusia! Sesungguhnya nyawa, harta, dan martabat manusia itu suci mulia, seperti sucinya hari wukuf, bulan haji ini dan Batiullah di Mekkah.”
Bukan wahai umat Islam, wahai Umat beragama, wahai Umat Semesta alam. Tapi wahai manusia! Di sini, Nabi Muhammad ingin menyampaikan Ukhuwah Insaniyah, persaudaraan sesama manusia. Setelah itu 84 hari setelah itu Nabi Muhammad wafat.
Jadi, Nabi membangun Ukhuwah Islamiyah di Mekkah 13 tahun dan ditingkatkan di Yatsrib menjadi Ukhuwah Wathaniyah (nasionalis, nasionalis yang Wathaniyah, yang tamaddun, menjalankan kebenaran, keadilan dan bukan monotheisme).
Dan yang terakhir Nabi bangun adalah Ukhuwah Insaniyah. Untuk ukhuwah yang terakhir ini, orang musyrik, Yahudi, Budha dan Hindu pun semuanya masuk. Semua nyawa, harta dan martabat manusia harus dihargai. Karena dia merupakan Hak Asasi Manusia. NU sendiri memiliki tiga Ukhuwah itu: Ukhuwah Islamiah, Ukhuwah Wathaniah (yang diadaptasi dari Madinah), dan Ukhuwah Insaniah.

TENTANG TEOLOGI KERUKUNAN

Pelajaran apa yang bisa kita ambil seiring dengan berkembangan Pluralitas dan Multikultural saat ini?
Satu, kita harus memahami watak orang Irak. Sejak dulu mereka susah dipersatukan. Masyarakat Irak pernah bersatu ketika ia dipimpin oleh seorang diktator yaitu Hajjaj bin Yusuf Tsaqafi. Setelah itu selalu saja ada ajang pertikaian.
Irak modern sekarang ini adalah mayoritas Suni kalau dilihat dari Kurdi non-Arab dan mayoritas Syiah kalau dilihat dari Arabnya saja. Jadi (mayoritas) Arab Irak itu Syiah, sedangkan Arab Irak Suni sedikit. Tapi kalau menghitung Kurdi yang non-Arab maka Suni menjadi mayoritas.
Kita berkata terus terang: ayo, Anda mau berangkat dari mana, yang mau ditilik darimana? Bila qaumiah Arabiah (Nasionalisme Arab), maka yang akan jadi mayoritas adalah mayoritas Syiah. Untuk Suni sendiri, dia harus memasukkan suku Kurdi. Masalahnya, suku Kurdi sendiri mazlum (tertindas) selama kekuasaan Saddam Hussain.
Satu-satunya presiden yang membunuh rakyatnya sendiri dengan senjata massal, terlepas adanya oposisi atau tidak, hanyalah Saddam Hussain. Di Halabja, jangankan suku Kurdi, ayam, bebek dan unggas lain yang tak tahu menahu pun, semuanya pada musnah.
Banyak juga presiden yang membunuh rakyatnya sendiri secara massal tapi tidak dengan senjata pemusnah massal seperti yang dilakukan oleh Saddam Hussain.
Jadi Saddam Hussain lah yang pertama kali menggunakan senjata pemusnah massal untuk membunuh rakyatnya sendiri. Korbannya ada yang menyong mulutnya, ada yang kulitnya terkelupas dan lain sebagainya. Yang selamat pun mengalami cacat.

Dalam konteks Indonesia, pelajaran apakah yang kita bisa ambil dari konflik Irak sekarang?
Kita telah sepakat sejak dulu bahwa negara ini adalah negara Darussalam, negara yang aman dan damai. Bagaimanapun bangsa kita ini memiliki ciri dan tipologi tersendiri dengan menggabungkan atau mensinergiskan antara sila pertama dengan sila kedua, yaitu agama dan kebangsaan. Di negara lain nggak ada. Itulah kelebihan kita. Tinggal kita pelihara dan jaga saja. Konflik yang ada di negara kita ini, terus terang saja, awal mulanya ada yang bikin.

Pada awal tadi, negara tidak boleh mengurusi masalah keyakinan umat beragama. Itu adalah urusan para ulama. Tapi pendapat Anda sekarang, negara perlu campur tangan?
Begini, negara itu hanya berperan menerima, menampung, dan melaksanakan aspirasi rakyat melalui ulama karena ulama adalah wakil rakyat yang sebenarnya (informal leader). Ulama menampung aspirasi rakyat, ulama sebagai jembatan yang membuat progress dengan state (negara).

Bagaimanakah dengan sikap negara yang melakukan standarisasi agama, ada agama resmi dan agama tidak resmi?
Itulah problem kita yang harus dibicarakan dengan panjang lebar. Idealnya memang tidak perlu sejauh itu. Tapi untuk mengendalikan keadaan sementara, barangkali sekarang itu masih dibutuhkan. Toh, sejak Gur Dur menjadi presiden, hal itu telah dibuka lebar. Sekarang Kong Hu Chu dijadikan agama resmi. Sekalipun di Depag belum tercatat secara resmi, tapi mereka bisa secara bebas merayakan Imlek dengan Barongsai laksana 17 Agustusan dan Imlek dijadikan hari libur nasional.

Gus Dur membela dan melindungi agama-agama minoritas seperti Kong Hu Chu. Apakah ini juga sikap resmi kaum Nahdhiyyin?
Yang namanya mayoritas itu harus membela dan melindungi yang minoritas. Ada perkembangan baru yang luar biasa ketika Nabi Muhammad saw menganggap Yahudi itu Ahlulkitab.

Ketika Sayidina Umar menjadi khalifah, dia masuk ke Persia dan menjumpai kaum yang baru ditaklukkan di sana yang beragama Majusi atau ash-Shabi’ah, penyembah bintang itu. Bagaimanakah ini? Apakah mereka sama dengan musyrikin dan kafir? Keputusannya, mereka adalah Ahlulkitab. Luar biasa ijtihad Umar itu. Dalil Qurannya, “Walladzina amanu, wa Hâdu wash-Shabi’in, man amana billahi”. Jadi mereka adalah monoteis.

Bagaimana pandangan Anda tentang MUI?
MUI itu didirikan di masa Orde Baru, sama dengan KNPI. Kita husnu dzan saja ya. Waktu itu ia bermanfaat sebagai forum antar-mazhab yang mewakili kelompok Islam. Itu okelah. Tapi sekarang masanya sudah berubah. Kita harus tanyakan: Apakah MUI itu? Dikatakan ormas, jelas bukan. Karena MUI tidak punya massa.

Apakah dia semacam Darul Ifta’ (Lembaga Fatwa)?
Kalau dia Darul Ifta’, ya nggak usahlah besar-besar seperti itu. Cukup 10 kyai dari berbagai mazhab yang duduk di situ, ditambah 4 atau 5 orang sekretaris, sudah cukup. Seperti Mahkamah Konstitusi atau Lembaga Kehakiman. Sampai sekarang payung hukumnya belum jelas.  

NU dikenal sebagai kelompok konservatif dan Muhammadiyah modernis. Sehingga NU bisa dikatakan memiliki ikatan emosional dengan tradisi-tradisi atau agama-agama lokal seperti Islam waktu telu dan Sunda wiwitan. Bagaimana pendapat Anda ?
Kita tetap harus berdakwah tentang Islam yang sebenarnya kepada mereka. Ada prinsip-prinsip ma’lum min ad-din bidh-darûrah (yaitu ada prinsip agama yang tidak bisa ditawar), seperti rukun Islam itu ada lima, rukun iman itu ada enam, Nabi Muhammad itu Nabi terakhir, al-Quran itu wahyu terakhir. Masalah rincian yang parsialnya silakan berbeda.

Kalau begitu, dari berbagai mazhab di Indonesia yang keras dan yang lunak itu, kira-kira perekatnya apa?
Tetap. Kalau mereka mereka masih meyakini rukun Iman dan rukun Islam, mereka masih dikategorikan Islam.

Soalnya masih ada kelompok yang masih mempermasalahkan masalah-masalah yang kecil-kecil begitu…
Gak apa-apa, masalah-masalah itu justru merupakan dinamika kita dalam bermasyarakat. Yang tahlil, yang nggak tahlil, yang salat tarawih 20 atau 8 rakaat itu dipersilakan.

Masih ada yang menyesatkan dan mengafirkan orang tanpa dasar. Padahal mereka tahu bahwa kelompok yang mereka kafirkan itu masih mengimani Allah, al-Quran dan sebagainya?
Kalau begitu nggak akan pernah ketemu. Jangankan dengan non-Muslim, dengan sesama Muslim pun, baik yang Persis, NU, Muhammadiyah, atau pun Syiah, tidak akan ketemu kalau itu masih dipersoalkan.

Ada kalangan yang berpendapat bahwa karena mayoritas Indonesia itu Islam dan tradisinya adalah tradisi Muslim itu maka formalisasi syariat Islam melalui Perda-perda syariat Islam akan semakin menguatkan posisi Islam Indonesia. Pandangan Anda?
Pertama-tama, yang Anda harus ketahui, berapa persen masyarakat Indonesia yang familiar dengan al-Quran? Yang melek sejarah Islam saja, berapa persen? Paling-paling Cuma 12% yang bisa baca dan familiar dengan al-Quran. Kita ini masih dalam marhalah (fase) dakwah, masih jauh dari Islam yang sebenarnya kita inginkan.
Yang kedua, (bila ada) teman-teman kita yang kembali ke gerakan salaf, itu bagus dan harus, sebab di dalam hadis dikatakan, “Khairu qurun, qurni tsummal ladzina yalunahum” (sebaik-baik masa adalah masaku dan masa-masa setelahku).
Tapi contoh (gerakan salaf) bukan berarti memelihara jenggot dan bercelana di atas mata kaki. Kalau sekadar ingin berjenggot atau bercelana seperti itu, ya silakan.
Kita harus mengetahui bahwa tiga abad pertama Islam itu adalah masa-masa kejayaaan dan keemasan, yaitu masuknya tsaqafah (kebudayaan) hadharah (peradaban), ilmu pengetahuan, ilmu tafsir, ilmu hadis, ilmu tajwid, ilmu qiraat, ilmu nahwu, sharaf, balaghah, kedokteran, astronomi, dengan tokoh-tokohnya: Ibnu Sina, al-Farabi, al-Kindi, al-Khauqa, al-Idrisi yang ahli ilmu bumi. Semua terjadi di abad ketiga Hijriah, di samping Syafi’i, Maliki, Hambali, Hanafi, Bukhari, Muslim.
Jadi, kalau kita mau bicara kembali ke salaf, ayo, saya setuju, tapi ilmunya (peradabannya) bukan hanya simbol sorbannya, jenggotnya dan juga celana yang di atas mata kaki itu. Ayo kita kembali membangun kejayaan Islam seperti salaf.

TENTANG MAULID NABI SAW

Salah satu bentuk kembali ke salaf yaitu mengagumi Nabi Muhammad saw. Tapi mengapa dalam tradisi Muslim, hanya kelahiran Nabi yang diperingati, sedangkan hari wafat ulama diperingati?
Karena Nabi Muhammad lahir sebagai rahmat bagi seluruh alam, begitu lahir pun sudah menjadi rahmatan lil ‘alamin. Kalau manusia biasa selain Nabi, tidak diketahui akan menjadi apa kelak anak tersebut. Nah, setelah hidupnya terbukti bahwa dia adalah seorang yang alim, barulah wafatnya diperingati.

Kenapa haulnya Nabi tidak diperingati, hanya lahirnya saja?
Karena sejarah dan pujian-pujian dalam syar-syair itu pun hanya pada hari lahirnya saja. (Dikatakan) bahwa Nabi lahir dengan penuh lautan cahaya dan membawa kebebasan, mengangkat derajat manusia, mengubah tatanan dunia. Yang disebut-sebut itu lahirnya dan bukan haulnya.

Dalam syair-syair seabrek-abrek disebutkan tentang kelahiran Nabi seperti yang terdapat di dalam Diba, Barzanji dan Burdah, Simtu Durar. Kalau Orang-orang mau menggubah syair atau sastra puji-pujian, yang ditekankan adalah kelahiran Nabi yang membawa rahmat.

Kalau haul ulama?
Meniru keteladanannya, itu sebenarnya. Haul Sunan Gunung Jati, misalnya, diperingati karena beliaulah yang berjasa besar membawa Islam dan mengislamkan seluruh Jawa Barat ini. Termasuk wilayah Jayakarta, Banten, Sunda, dan Cirebon. Semuanya menjadi Muslim dan mengalahkan kerajaan Pajajaran pada waktu itu.

Mengapa penghinaan kepada sosok Muhammad mendapat reaksi yang sangat keras dibanding penghinaan kepada Allah Swt atau Tuhan?
Saya tidak akan menjawabnya secara renci. Begini, kalau ada yang mengaku dirinya tuhan, dengan sendirinya dia segera tertolak mentah-mentah oleh semua orang yang waras akalnya. Bisa terjadi ada beberapa atau sejumlah orang akan percaya dengannya. Penghina tuhan akan kualat dengan sendirinya karena Tuhan tetap saja Tuhan.
Berbeda halnya ketika ada orang yang mengaku nabi itu, kita akan memprotes keras. Misalnya Nabi dikritik karena poligaminya. Sebenarnya Nabi melakukan itu sebagai siasat perang. Perlu penjelasan dan pemaparan khusus akan hal ini.

Kenapa perayaan Maulid Nabi di masyarakat NU itu lebih meriah dan lebih simbolis ketimbang di masyarakat Muhammadiyah?
Karena di sini ada budaya Syiah. NU menerima budayanya, bukan fikih atau teologinya. Budaya Syiah itu ya mencintai Nabi dan Ahlulbait. Di dalam bait-bait syair Barzanji tidak ada yang memuja dan nyanjung Abu Bakar, Umar dan Usman. Nggak ada.
Contohnya, “Kami mempunyai bapak yang sangat kami cintai, yaitu Muhammad, kami punya Ali al-Murtadha, kami punya as-Sibthain (Hasan dan Husain), kam Imam min ba’da khalafu (dan imam-imam setelahnya) seperti Ali Zainal Abidin, anaknya Muhammad al-Baqir, sebaik-baiknya wali, dan putranya ash-Shadiq (Imam Ja’far Shadiq) dan putranya Ali Ridha, begitu lho.
Jadi budaya Syiah masuk ke NU. Bahkan budaya Syiah pun masuk pesantren. Contohnya penghormatan kepada kyainya. Kalau kyainya meninggal maka yang menggantikannya adalah anaknya sekalipun secara kualitas sangat jauh berbeda. Soalnya keilmuannya, ya dia akan bisa mendapatkan dari guru-gurunya yang lain.

Kalau banyak berasal dari kultur Syiah, apakah masyarakat yang sadar akan beralih ke gaya mencintai Nabi ala Muhammadiyah?
Nggak. Silakan Maulid Nabi dan Dibaan itu dikritik, tetap saja nggak bisa hilang dari kami. Malah yang kritik itu sendiri yang terpental.

Mengapa?
Sebab Allah Swt sendiri yang memuji beliau. Dalam al-Quran, “Innaka la’alâ khuqin azhîm”. Dan kita punya keyakinan bahwa Nabi Muhammad adalah pemberi syafaat sebagaimana yang tercantum di dalam hadis-hadis sahih. Orang-orang yang banyak dosanya, kalau mereka berziarah kepada Nabi Muhammad dan beristigfar, dan Nabi sendiri memintakan ampunan, pasti mereka akan diampuni dosa-dosanya. “Walau annahum zhalamû anfusahum jâ’ûka fastagfaruhumullah wastagfaruhumur-rasul. Lawajadûllaha tawwabar-rahima.”
Ada yang bertanya, apakah Nabi Muhammad saw masih hidup sampai sekarang? Jawabannya, ya. Nabi masih hidup sampai sekarang. Buktinya, “Assalamu ‘alaika” dalam tahiyat salat, “‘alaika” berarti beliau masih hidup.
Jadi, mereka yang datang ke kuburan jasad Nabi (di Madinah) lalu dia beristigfar dan Nabi memantau istigfar kita kepada Allah, maka Allah akan pasti akan mengampuni dosa-dosanya.

TENTANG KULTUR SYIAH

Suni plus kultur Syiah ini, apa hanya khas di NU saja ataukah ada di tempat lain juga?
Tidak. di Mesir Maulid Nabi semarak sekali, ada tahlilan dan tawasulan. Begitu pula di Maroko. Di Saudi nggak semua (mengharamkan), hanya Najd dan Riyadh saja. Orang-orang Hijaz dan Madinah masih (membaca) Barzanji segala macam.
Pada dasarnya umat Islam yang ada di Nusantara ini pada umumnya, terutama NU, berhutang budi banyak terutama kepada Ahlulbait yang telah menyebarkan Islam di Nusantara sejak dahulu kala. Kita semua tahu bahwa beberapa Wali Songo itu rata-rata keturunan Ahlulbait. Karena itu budaya Ahlulbait, budaya Syiah, mempunyai kesamaan dengan budaya Islam Indonesia. Seperti tawassul kepada Sayidina Ali dan Ahlulbait lainnya. Doa-doa seperti hizib yang dibaca oleh orang-orang kampung itu dimulai dengan (mengirim) surah Al-Fatihah kepada Rasulullah dan Ahlulbait.

Tapi tradisi-tradisi seperti itu mulai menghilang dengan datangnya Wahabisme dan modernitas?
Pilar pertahanan Islam adalah budaya. Selama masih ada tahlilan, Diba, Barzanji, puja-puji kepada Rasulullah saw tidak bisa dihilangkan. Partai politik dan ormas bisa dihilangkan atau dilarang, tetapi budaya tidak bisa dihilangkan.
Hati umat Islam Indonesia dan dunia sudah terpatri dengan kecintaan kepada Rasulullah dan Ahlulbaitnya secara mendalam, terlepas dia itu Suni atau Syiah. Semuanya mencintai dan menghormati Ahlulbait.
Di Indonesia ada syair yang dibacakan kalau ada yang tertimpa musibah atau penyakit menular, yaitu: “li khamsatun utfi biha harral wabai hatimah, al-Mustafa wal murtadha wabna huma wa Fathimah” (Saya mempunyailima orang yang bisa menolak bala yaitu yang pertama, al-Mustafa Muhammad, yang kedua al-Murtahda Ali, dan kedua anakanya Hasan dan Husain, serta yang kelima Fathimah). Itu dibacakan oleh orang-orang kampung. Luar biasa. Selama itu masih dibaca, selama itu pula budaya Syiah masih ada di Indonesia.

Dengan kata lain, Anda ingin mengatakan bahwa Wahabisme tidak bisa masuk ke dalam tradisi NU?
Ya. Silahkan mereka membuat yayasan di mana-mana, tetapi karena sudah jadi budaya itu tidak akan lepas dari NU.

Bagaimana kasus komunitas Syiah di Bondowoso yang diisukan dekat dengan NU?
Itulah yang sangat disayangkan. Saya menghimbau dan mengharapkan kepada teman-teman aktivis Syiah, jangan sekali-sekali memformalisasikan mazhab. NU tidak pernah memusuhi Syiah. Mungkin malah sayang Syiah. Tapi bagaimanapun NU kan Suni yang beraliran Asy’ari dan di bidang tasawufnya adalah al-Ghazali.
Jadi, jangan sekali-kali menonjolkan formalitas mazhab. Hubungan kita dengan Ahlulbait (Syiah) sudah sangat indah sekali, tidak bisa dilepaskan atau dijauhkan antara keduanya.
Orang-orang awam belum mengetahui sejauh mana budaya Syiah itu. Hanya kita-kita yang berpendidikan sajalah yang memahami semua hal itu. Memformalkan Syiah hanya akan merugikan kita semua.

Bagaimana dengan transfer khazanah keilmuan dari Persia ke budaya Indonesia?
Sangat luar biasa. Contohnya, huruf terakhir kata Arab yang diserap dalam Bahasa Indonesia yang berakhiran “h” dibaca “t”, seperti “surat”. Ini adalah budaya Persia.
Ada lagi budaya Persia yang masuk ke dalam budaya Indonesia. Kalau kita membaca al-Quran, misalnya “Hudan lil-muttaqin”, maka (di akhir ayat pendengar) akan dijawab dengan “Allah” (dengan nada panjang dan lembut). Itu merupakan budaya Iran yang mencirikan kelembutan khas Iran.
Mesir tidak begitu. Kalau mereka mendengar kata “Hudan lil-muttaqin” dibacakan maka mereka akan menjawab “Allahu Akbar” (dengan suara lantang). Kalau mereka mendengar orang membaca al-Quran dengan merdu kemudian tersentuh hatinya, seperti bacaan Syekh Abdul Basith, maka mereka akan berucap “Allah” (dengan keras).

Konflik antar mazhab semakin mengeras semenjak Wahabisme muncul. Bagaimana NU memahami Wahabi?
Saya memahami Wahabi bagian dari Suni, tetapi Suni versi Mazhab Hambali. Hambali sendiri adalah di antara empat (mazhab) yang paling keras. Hambali ini pun kemudian ditafsirkan oleh Ibnu Taimiyah sehingga menjadi lebih keras. Operasionalnya dilakukan oleh Muhammad bin Abdul Wahab, menjadi semakin keras lagi dibandingkan dengan kepala induk dari mazhab ini sendiri. Salah seorang imam yang paling keras adalah Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab lebih keras lagi daripada Ibnu Taimiyah.

Apakah yang Anda bisa simpulkan dari fenomena ini?
Kesimpulannyayang ingin saya sampaikan adalah bahwa Islam datang ke Indonesia dulu bil hikmah wal mau’izhah wal mujadalah. Dengan penuh hikmah (wisdom), akhlakul karimah, budaya, mauizhah (ceramah yang bagus), dengan diskusi dan debat yang ideal dan bagus. Semua itu dilakukan oleh Ahlulbait dan diteruskan oleh para mubalig dan para Kyai.
Konon ada beberapa kyai yang keturunan Ahlulbait, tapi gelarnya dikesampingkan dan ditutupi. Saya sendiri, katanya, ada (garis) keturunan dari Syarif Hidayatullah, Sunan Gunung Jati. Kyai Sahal Mahfudz keturunan Sunan Kudus. Dan apalagi Gus Dur keturunan Sunan Ampel. Semua itu kembali kepada Ahlulbait. Orangtua-orangtua kita menghapus atau tidak menyebutkan al-Haddad, al-Habsyi dan sebagainya. Semua leluhur saya bliang begitu. Kakek saya semuanya keturunan Ahlulbait.
Kesimpulan kedua, karena dakwahnya bil hikmah, maka budaya itu menyatu dengan kehidupan kita sebagai orang Islam melalui salawatan, puji-pujian dan melalui doa-doa. Jadi kita tidak bisa dipisahkan dengan budaya Ahlulbait. Sekali lagi, budayanya lho, bukan akidah atau politiknya.
Cara berpikir Syiah boleh kita ambil meskipun kita berfikih Syafi’i dan berakidah Asy’ari. Lama-lama ini akan menjadi sebuah budaya dan nggak usah ditutup-tutupi.
Di Indonesia juga ada tradisi Asyura (seperti upacara Tabut di Padang dan itu adalah budaya Syiah) juga tradisi mencintai Imam Ali. Semua orang tahu bahwa Sayidina Ali adalah seorang yang hebat dan mulia. Semua ini sudah menjadi sebuah budaya yang turun temurun yang diciptakan di komunitas masyarakat Islam Indonesia.

TENTANG BUDIDAYA TASAUF

Apabila bentuk-bentuk keagamaan yang simbolis malah meruncingkan perbedaan antar mazhab, bisakah tasawuf atau mistisisme menjadi titik temu?
Mistisisme merupakan titik temu dan muara dari segala agama, bukan saja antara Islam dengan Islam saja tetapi di luar agama Islam. Seperti inilah yang dipraktikkan tasauf. Tidak ada orang yang tidak suka terhadap nilai-nilai keindahan akhlak seperti sabar, tulus dan sebagainya.
Nggak ada orang yang menolak semua nilai itu meskipun kalangan Kristen, Hindu dan Budha dan Kong Hu Chu. Semua (ajaran) mengarah ke sana, kan? Karena dia merupakan puncak dari moralitas dan spiritual. Jadi dengan ini, kita bisa mempertemukan antara agama bukan hanya antara mazhab saja.

Mempertahankan tasawuf hanya berarti melalui tradisonalisme, sedangkan tradisi itu adalah masalah utama masyarakat neo-modern. Bisakah kalangan muda NU eksis di dalamnya?
Begini, yang namanya budaya atau tradisi itu berangkat dari kampung. Kemudian kita membawanya ke kota dan di sana kita angkat ke atas (permukaan). Ia (tradisi tasauf itu) boleh dikritik, diperbaiki dan ditambal kekurangan-kekurangannya.

Apakah hal itu tidak malah menghancurkan basis-basis tradisi yang ada di desa?
Tradisi itu kan berasal dari desa (kampung). Akarnya budaya itu berasal dari desa. Saya tidak bisa lepas dari budaya dan tradisi desa di mana saya berasal. Anda yang Sunda juga pasti dia tidak akan bisa lepas dari budaya Sunda yang Anda bawa dari desa ke Jakarta. Karena itu di mana pun Anda berada pasti unsur atau pola pikir Sundanya nggak akan hilang. Yang dari Madura juga tidak akan hilang. Di situlah, silahkan kalau ada kritik atau perbaikan, yang penting tidak bertabrakkan dengan kalimat La Ilaha illa Allah, Muhammad Rasulullah.

Salah satu menanamkan nilai-nilai adalah lewat peringatan-peringatan, dan itu juga menjadi momentum persatuan umat.
Ya. Dulu Maulid Nabi dimulai pertama kali oleh Khalifah Mu’idz Lidinillah, khalifah Fathimiah, salah satu khalifah keturunan Abdullah dari Tunisia tahun 363 H. Dia lalu masuk Kairo dan mengalahkan Ahmad bin Thulun. Khalifah Mu’idz kemudian menyatukan umat untuk merayakan Maulid Nabi secara besar-besaran.
Dia kemudian mendirikan sekolah al-Azhar dengan nama Jauhar ath-Thaqul, lalu membangun kota Qahirah (Kairo) hingga kemudian dikalahkan oleh Dinasti Mamalik dan kemudian oleh Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi.
Artinya, seremonial-seremonial seperti itu bisa menyatukan umat, dan menyatakan kepada umat bahwa kita memiliki seorang pemimpin yang namanya Muhammad dan kita harus mengikuti ajaran dan dakwahnya. Hal ini, sama halnya dengan kita memperingati hari 17 Agustus, untuk memperingati bahwa dulu bapak-bapak dan orangtua-orangtua kita telah mengorbankan nyawa, harta dan pikirannya demi kemerdekaan dan membangun Negara Indonesia yang tercinta ini. Adapun bentuk seremonialnya bisa disesuaikan dengan aneka kebudayaan umat yang ada, seperti di Yogyakarta misalnya dengan cirinya sendiri, di Cirebon dengan cirinya sendiri dan di Mesir pun akan lain lagi.

TENTANG MENGAJARKAN CINTA NABI

Berarti harus adanya pentradisian di dalam keluarga?
Ya.

Bagaimana kiat Anda dalam mendidik keluarga agar mencintai Nabi dan Ahlulbaitnya?
Setiap pagi anak-anak saya mendengar bapaknya melantunkan bait-bait Burdah. Pasti lama-lama mereka pun akan ikut juga. Saya hafal Burdah, Barzanji dan Diba. Nazham-nazhamnya saya hafal, Asyraqal Badru ‘Alaina, dan yang lain-lainnya juga saya hafal. Begitu juga, ketika saya masih kecil di kampung. Begitu saya melek (bangun tidur), saya mendengar bapak saya membaca Burdah, Barjanji, dan Diba. Jadi, saya hafal bait-bait syair berikut nazham-nazhamnya itu dengan itu dengan sendirinya.

Nggak usah Maulid Nabi, setiap kita ceramah, khotbah, dan dakwah kita pasti menyampaikan sejarah Nabi. Itu berarti memperingatkan kita bahwa kita punya pemimpin yang harus kita taati.

Itu dibaca tiap kapan?
Nggak, tiap malam. Saya membaca Burdah itu malam sebelum subuh. Dan ini ada kisahnya. Ada seorang dari Alexandria bernama Abu Sa’id al-Busri yang terkena stroke dan mimpi berjumpa Rasulullah saw. Dia meminta izin akan mengubah syair kasidah untuk memuji-muji beliau. Setelah beliau pulang kembali bait syair itu sudah rampung. Lalu Rasulullah saw mempersilakannya. Setelah dia selesai menampilkan syairnya di depan Rasulullah saw, Rasulullah saw mengusap-ucap wajahnya dan keesokan harinya dia sembuh dari penyakit strokenya itu.[]

About these ads

Responses

  1. PROPOSAL
    RELOKASI PEMUKIMAN PEMAKAMAN
    ALIM ULAMA INDONESIA

    I DASAR PEMIKIRAN

    ﺖﻮﻤﻟﺇ ﺔﻗﻳﺇﺬﺱﻔﻨ ﻞﻜ
    Artinya “
    Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati .
    ( Q.Surat Al Ankabut ayat 57 )
    ﻥﻭﻌﺟﺮﺗﻪﯾﻟﺍﻭﺀﯽﺸﻞﻜﺖﻮﻜﻟﻤﺩﯾﺒﻱﺬﻟﺍﻦﺤﺑﺴﻔ
    Artinya “
    Maka Maha Suci (Alloh) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nyalah kamu di kembalikan.
    (Q.Surat Yaasiin ayat 83 )
    Oleh sebab itu sudah menjadi keharusan Dan kewajaran apabila program Alim Ulama Sendiri mewujudkan realisasi pelaksanaan Dan Relokasi pemukimanan pemakaman Alim Ulama Indonesia yang ada Di Negara Republik Indonesia , hal ini sangatlah di butuhkan planing dan program kerja yang sangat matang dan memadai di segala sektor ,dan seiring dengan perkembangan Sumber Daya Manusia yang aksesnya untuk para Alim Ulama se Indonesia, seperti halnya peranan relokasi pemakaman Alim Ulama Indonesia yang bergerak di segala bidang tata ruang Pemakaman yang dapat dijadikan tolak ukur penataan pemakaman kota-kota di dunia , yang selama ini hanya ada di kalangan Militer Dan kuburan Cina saja seperti Pemakaman Kalibata Dan pemakaman pahlawan-pahlawan yang ada di seluruh Indonesia . karena hali ini menyangkut Rumah yang paling Abadi di kalangan Alim Ulama DKI Jakarta serta , sosial, dan dibidang agama. Hal tersebut di butuhkan oleh pemerintah dalam rangka turut serta menwujudkan relokasi Pemakamanan Alim Ulama DKI Jakarta dan tata ruang Jakarta di sektor Kuburan pada umumnya dan seluruh planing tata kota Jakarta yang akan dijadikan acuan Negara kesatuan Republik Indonesia dalam rangka keikut sertaan Alim Ulama DKI Jakarta dalam era globalisasi dana milinium ke IV mendatang.
    Terlepas apakah Alim Ulama yang berfikir modern maupun Alim Ulama yang masih berfikir tradisional untuk mewujudkan eksistensi Alim Ulama dalam menatap masa depannya menjadikan bagian dari tanggung jawab Majelis Ulama Indonesia dan Departemen Agama Republik Indonesia maupun Pemerintah Republik Indonesia.
    Seperti halnya fenomena sekarang ini bahwa penggusuran Tempat Kuburan Umum semakin meningkat nilai volumenya atau kwalitasnya, sedangkan planing tata kota khusus Tempat Pemukiman Terakhir para Alim Ulama tak pernah di adakan maupun di pikirkan atau dengan kata laian bahwa program tata kota Daerah Ibukota Jakarta (DKI Jakarta) belum sepenuhnya terlaksana, bahkan kalau kita cermati tempat pemakaman Alim Ulama yang terakhir pun banyak di gusur oleh para Kontraktor-kontraktor untuk pembangunan gedun-gedung.sementara itu kalau kita lihat yang ada , sebaliknya tatanan pemakaman belanda yang ada di Indonesia terlihat rapi Dan teratur atau yang biasa kita sebut sebagai relokasi pemakanan para orang belanda yang pernah menjajah negara Indonesia justru tertata rapi seperti pemakaman yang terdapat di Ancol Jakarta Utara . memang tidak ada standarisasi mengenai kuburan serta ekisitensinya yang telah di bakuhkan di Negara Kesatuan Republik Indonesia , bahkan mungkin belum ada standarisasi tempat pemukiman Kuburan di dunia International ,atau dalam ISTILAH KAMI belum ada standarisasi Tempat Pemukiman Abadi yang tipenya RS 5 (Rumah Sangat Sederhana Sempit Sunyi Sendiri) didunia International ,hal ini dikarenakan para Alim Ulama Indonesia tidak pernah berfikir Dan mau memikirkan tentang Relokasi Pemakaman Alim Ulama , dengan ilmu pengetahuan Agama Islam , maupun fiqih nya ,Berangkat dari sinilah kami mencoba mengakomodir sebagian dari kekurangan dan keterbatasan peran Alim Ulama Indonesia untuk bisa berkipra dan berkembang sehingga dapat membantu Pemerintah dalam rangka merealisasikan kesamaan hak-hak Rakyat Indonesia disegala bidang sehingga dapat membuka wawasan berfikir yang bersifat membanguan. Peranan Alim Ulama yang mempunyai Sumber Daya Manusia mampu dikembangkan dan berkompetitif dalam kehidupan yang positif. Dalam wujud nyatanya kami Dewan Pengurus Pusat Kontak Budaya Komunikasi Indonesia (DPP KOBUKI) membuat proposal
    RELOKASI PEMUKIMAN PEMAKAMAN
    ALIM ULAMA INDONESIA

    II MAKSUD Dan TUJUAN
    a) Memberikan nilai tambah dan dapat menunjang peranan yang di kerjakan oleh Majelis Ulama Indonesia serta Departemen Agama Republik Indonesia yang telah ada dari berbagai ide dan gagasan tokoh-tokoh Alim Ulama yang ada di Daerah Khusus Ibukota Jakarta pada khususnya dan di Negara Kesatuan Republik Indonesia pada umumnya.
    b) Mensosialisasikan dan mengimplementasikan pentingnya Relokasi Pemakaman Alim Ulama Daerah Khusus Ibukota Jakarta seta eksistensi peranan Alim Ulama Indonesia Dii kanca Nasional, Regional dan International untuk 5 tahun sampai 25 tahun kedepan.
    c) Memposisikan para Alim Ulama , seperti para Ustadz, Ustazah, para Tuan Guru, para Habaib, para Kyai yang eksistensinya dalam peranan dan fungsi serta tugas-tugas sebagai Pahlawan di Indonesia dan turut serta melahirkan Dan mendidik serta membina pemimpin-pemimpin bangsa yang memiliki daya Intelektual, Profesional dan siap pakai sehingga dengan kemampuannya sanggup mengaplikasikan intelektualitas pengalaman Dan Alim Ulama yang sejatii untuk turut serta membangun kaum Alim Ulama yang berjiwa mandiri dan dapat mempro-aktifkan pembanguan nilai-nila luhur Ulama Indonesia serta yang lebih penting secara bersama bermitra mencerdaskan kehidupan kaum mu’muminin, mukminat, muslimin muslimat serta Masyarakat Dan Rakyat Indonesia. Untuk mengingatkan kembali hala kematian adalah wajib bagi setiap umat manusia.
    d) Menguatkan akselarasi Alim Ulama pada peranannya sebagai Masyarakat yang sukses dalam membina umat dan membanguan kepribadian Dan prinsip dalam segala bentuk kegiatan serta program-program terutama visi dan misi yang merupakan planing program kerja jangka panjang yang akan benar-benar dilaksanakan setelah adanya program tersebut.

    III RENCANA DAN JENIS PROGRAM KERJA
    a) PEMBENTUKAN YAYASAN PEMUKIMAN ALIM ULAMA DKI JAKARTA.
    Pelaksanaan pembentukan Yayasan Alim Ulama DKI Jakarta di harapkan dapat terwujudnya suatu lembaga yang dapat mensosialisasikan Dan menimplementasikan seta mewujudkan Relokasi Pemakaman Alim Ulama DKI Jakarta dan beroriantasi untuk program kerja Pembangunan Jangka Panjang dalam pelaksanaan program tersebut diatas.
    b) PENCARIAN LAHAN UNTUK RELOKASI PEMAKAMAN ALIM ULAMA DKI JAKARTA SESUAI DENGAN TATA RUANG DKI JAKARTA
    Pencarian lahan untuk relokasi pemakaman Alim Ulama DKI Jakarta yang di laksanakan serta ditindak lanjutii dengan penyesuaian tata ruang Jakarta yang telah di tentukan oleh PEMDA DKI JAKARTA.
    c) STUDY PEMBANGUNAN RELOKASI PEMAKAMAN ALIM ULAMA DAN PEMBANGUNAN SARANA SERTA PRASARANANYA.
    Study pembanguan relokasi pemakaman Alim Ulama DKI Jakarta Indonesia di setiap Kecamatan dan Kelurahan atau kelurahan meliputi:
    1 Penyuluhan hukum khusus masyarakat bermitra dengan pemda DKI Jakarta dan ustadz ustadza Dan para Alim Ulama ataupun lembaga yang terkait dinas pemakaman DKI Jakrta .
    2 Pembuatan Peraturan Daerah (PERDA) mengenai Relokasi Pemakaman Alim Ulama DKI Jakarta .
    3)Pembangunan Sarana dan pengadaan Prasarana Study Pembangunan Relokasi Pemakaman Alim Ulama DKI Jakarta
    d) PEMBEBASAN LAHAN KURANG LEBIH 5 HEKTAR UNTUK TEMPAT PEMUKIMAN PEMAKAMAN ALIM ULAMA DKI JAKARTA .Dan PEMBANGUNAN SARANA SETA PRASARANA
    e) PEMBANGUNAN RELOKASI PEMAKAMAN ALAIM ULAMA JAKARTA

    IV THEMA PROGRAM KERJA
    “DENGAN PROGRAMPEMDA DKI JAKARTA JANGKA PANJANG SEBAGAI ERA PENATAAN PEMAKAMAN ALIM ULAMA DKI JAKARTA INDONESIA UNTUK MENGAHADAPI ERA GLOBALISASI SERTA ERA MILINIUM KE IV MENDATANG.”
    .V WAKTU DAN TEMPAT
    a)Pelaksanaan program kerja Relokasi Pemakaman Alim Ulama DKI Jakarta jangka panjang ini dilaksanakan sekitar awal tahun 2008 sampai tahun 2032 mendatang.
    b) Tempat pelaksanaan program kerja Relokasi pemakaman Alim Ulama DKI Jakarta jangka panjang ini rencananya di laksanakan di Jakarta Utara serta kotamdaya yang ada di DKI Jakarta
    VI SUMBER DANA.
    Dalam rangka suksesnya pelaksanaan program kerja Peranan Relokasi Pemakaman Alim Ulama DKI Jakarta jangka panjang ini seperti yang kami uraikan di atas, kami mengharapkan sumber dana dari Pemerintah, lembaga-lembaga, bank-bank maupun sponsorsip yang simpati dan impati dengan Relokasi Pemakaman Alim Ulama DKI Jakrta melalui koordinasi dengan lembaga Dinas Pemakaman DKI Jakarta jangka panjang di Republik Indonesia yang akan kami olah sedemikian rupa menjadi efektif dan tepat sasaran dengan tetap mengedepankan dan mentaati aturan-aturan Undang-undang Republik Indonesia tentang pengolahan keuangan yang telah ada serta di tetapkan.

    VII REKAPITULASI DANA DI BUTUHKAN
    SEBESAR Rp 212.000.000.000
    (DUA RATUS DUA BELAS MILYAR RUPIAH)

    Dengan rincian sebagaimana di bawah ini.

    JADI REKAPITULASI GRAND TOTAL DANA DI BUTUKAN ADALAH

    No KETERANGAN JUMLAH
    1 KESEKRETARIATAN Rp 99.750.000
    2 PENCARIAN LAHAN UNTUK RELOKASI PEMAKAMAN ALIM ULAMA DKI JAKARTA SESUAI DENGAN TATA RUANG DKI JAKARTA Rp 2.460.000.000
    3 STUDY PEMBANGUNAN TEMPAT RELOKASI PEMAKAMAN ALIM ULAMA DKI JAKARTA Rp 2.425.000.000
    4 PEMBEBASAN LAHAN KURANG LEBIH 5 HEKTAR UNTUK TEMPAT PEMUKIMAN ALIM ULAMA DKI JAKARTA .Dan PEMBANGUNAN SARANA SE RTA PRASARANA Rp 203.975.250.000
    5 PEMBANGUNAN RELOKASI PEMAKAMAN ALAIM ULAMA JAKARTA Rp 3.040.000.000
    GRAND TOTAL Rp 212.000.000.000

    (DUA RATUS DUA BELAS RUPIAH)

    VII.PENUTUP

    Demikian proposal kerangka acuan Relokasi pemakaman Alim Ulama DKI Jakarta yang perlu kami sampaikan dan kami dapat memulai persiapan segela sesuatunya yang berkaitan dengan fasilitas dan sarana tergantung pers
    etujuan dan realisasi dukungan dana yang di berikan oleh pihak pemerintah. Dalam menyampaikan maksud ini dengan segenap kemampuan untuk melibatkan banyak komponen lapisan masyarakat terutama para Alim Ulama di Indonesia serta kerjasama dengan berbagai fihak yang kami anggap satu visi dan misi yang sama. .Akhir kata apabila ada kebenarannya itu semata-mata datangnya dari Tuhan Yang Maha Esa dan atas kekuasaannya kita berharap rahmat dan petunjuknya, apabila ada kesalahan dan kekurangannya kami mohon maaf yang sebesar-besarnya, sehingga kritik dan saran yang kontruktif akan kami terima dengan lapang dada dengan iringan do”a Semoga Tuhan Yang Maha Pengasih Dan Maha Penyayang selalu bersama kita Amien…..!
    Jakarta 8 DESEMBER 2007
    Tertanda
    Penyunsun

    PROF.DR.NANANG HARIADI (GUS HAR) M.H. THAMRIN
    KETUA SEKRETARIS

    ﻥﻭﻌﺟﺮﺗﻪﯾﻟﺍﻭﺀﯽﺸﻞﻜﺖﻮﻜﻟﻤﺩﯾﺒﻱﺬﻟﺍﻦﺤﺑﺴﻔ

    ﺍﺸﺗﻐﻓﺮﺍﷲﺍﻠﻌﻆﻳﻢ ۱۰۰
    ﺍﺸﺗﻐﻓﺮﺍﷲﺍﻠﻌﻆﻳﻢﺍﻠﺫﻲﻻﺍﻠﻪﺍﻻﻫﻭﺍﻠﺣﻳﻭﻡﻮﺍﺘﻭﺏﺍﻠﻳﻪ ۱۷
    ﻫﻭﺍﷲﺍﻠﺫﻱﻻﺍﻠﻪﺍﻻﻫﻭﺍﻠﺭﺤﻣﻥﺍﻠﺭﺤﻳﻢ ﻴﺎﻠﻂﻳﻑ ﻴﺎ ﻛﺭﻴﻢ ﻴﺎﻭﻫﺎﺏ ﻴﺎﻘﻬﺎﺭ ﻴﺎﺤﻣﻳﻡ ﻴﺎﻤﻭﺠﻭﺩ ﻴﺎﺤﻕ ﻴﺎﺍﷲ ﻴﺎﺤﻣﻳﺩ ﻴﺎﻘﻭﻱ
    ﻴﺎﺤﻲﻴﺎﺌﺍﺍﻠﺟﻺ ﻝﻭﺍﻵﻛﺭﺍﻡ ٣٣٣
    ﺍﻨﺎﻔﺗﺣﻧﺎﻠﻙ ﻔﺗﺣﺎﻤﺑﻳﻧﺎﻠﻳﻐﻓﺭ ﻠﻙﺍﷲﻤﺎﺘﻗﺩ ﻡﻤﻦ ﺫﻨﺑﻙ ﻮﻤﺎ ﺘﺎﺨﺭ ﻮﻴﺗﻡ ﻨﻌﻣﺗﻪﻋﻟﻳﻙ ﻮﻴﻬﺩ ﻴﻙﺻﺭﺍﻁ ﻤﺳﺗﻗﻳﻣﺎ ﻮﻴﻧﺻﺭﻙﺍﷲ ﻨﺻﺭ ﻋﺯﻴﺯﺍ ﻠﻗﺩ ﺠﺎﺀ ﻛﻢ ﺮ ﺴﻭﻝ ﻤﻥﺍﻨﻓﺳﻛﻡ ﻏﺯﻳﺯﻏﻟﻳﻪ ﻣﺎ ﻋﻧﺗﻢ ﺤﺭﻴﺹ ﻋﻟﻳﻛﻡ ﺒﺎﻠﻣﻭﺀ ﻤﻧﻳﻦﺮﺀﻕﺭﺤﻳﻢ ﻔﺎﻥﺘﻭ ﻠﻭﺍﻔﻗﻞ ﺤﺳﺑﻲﺍﷲﻵﺍﻠﻪﺍﻵﻫﻭ ﻋﻟﻳﻪ ﺘﻭ ﻜﻟﺕ ﻭ ﻫﻭﺮﺏﺍﻠﻌﺭﺵﺍﻠﻌﻅﻳﻢ ﺍﻥﺍﷲ ﻮﻤﻺﺋﻛﺗﻪ ﻴﺻﻟﻭﻥﻋﻟﻯﺍﻠﻧﺑﻲ ﻴﺎﻴﻬﺎﺍﻠﺫ ﻴﻥﺍﻤﻧﻭﺍﺼﻟﻭﺍ
    ﻋﻟﻳﻪ ﻮﺴﻟﻣﻭﺍ ﺗﺳﻟﻳﻣﺎ ٧
    ﺍﻠﻟﻬﻢ ﺼﻞﻮﺴﻟﻢﻮﺒﺎﺮﻙﻋﻟﻰﻜﺄﻥﺍﺨﻼ ﻕﻮﻠﺣﺒﻳﺏﻏﺱ ﻫﺭ ﻨﺳﻳﻡﺍ ﻠﺻﺑﺎﺡ ﻔﻰﻠﻃﻓﻬﺎﺴﻳﺩ ﻨﺎﻤﺣﻣﺩ ﺮ ﺴﻭﻞﺍﷲ ﻮﺨﺎ ﺘﻢﺍﻠﻧﺑﻳﻦﻮﻋﻟﻰﺍ ﺍﻠﻪ ﺒﻌﺩ ﺪﺍﻥﻮﺍﻉ ﻠﺭﺯﻕﻮﻠﻓﺗﻭﺤﺎﺕ ﻴﺎﺒﺎﺴﻁﺍﻠﺫ ﻰ ﺠﻣﻳﻊ ﻏﻳﺑﻙ ﺒﻐﻳﺭ ﻤﻧﺔ ﻤﺧﻟﻭﻕ ﺒﻣﺧﺽ ﻔﺿﻟﻙ ﻮﻜﺭﻤﻙ ﻴﺎﺮﺤﻣﻥ ٤١
    ﻻﺍﻠﻪﺍﻻﺍﷲ ﻮﺤﺩﻩﻻﺸﺭﻴﻙ ﻠﻪ ﻠﻪﺍﻠﻣﻟﻙ ﻮﻠﻪﺍﻠﺤﻣﺩ ﻴﺣﺣﻲ ﻮﻴﻣﺑﺖ ﻮﻫﻭﻋﻟﻰﻜﻞ ﺸﻳئ ﻘﺩﻴﺭ ۳۳۱
    ﺴﺑﺣﺎ ﻥﺍﷲ ﻮﺍﻠﺣﻣﺩﷲ ﻮﻻﺍﻠﻪﺍﻻﺍﷲ ﻮﺍﷲﺍﻜﺑﺭ ﻮﻻﺤﻭﻝ ﻮﻻﻘﻭة ﺍﻻ ﺒﺎﷲﺍ ﻠﻌﻟﻲﺍﻠﻌﻇﻳﻢ ۳۳
    ﺍﺌﺍ ﺸﺜﺕﺍﻥ ﺘﺣﻳﺎ ﺴﻟﻳﻣﺎ ﺴﻦﺍﻻﺫﻯ ﻔﻼ ﺘﻭ ﺌﻯ ﻤﺧﻟﻭ ﻘﺎ ﻮﻻﺘﺗﻛﺑﺭﺼﺎ ﺸﻣﺭ ﻮﻻ ﺘﺯﻝ

    FROM :
    PROF.DR. KH.NANANG HARIADI SE.MSc (GUS HAR)
    PEMBINA YAYASAN AL SYAMSIYAH
    JLN RAYA AROSBAYA NO 390 BANGKALAN MADURA
    JAWA TIMUR

    FROM :
    PROF.DR. KH.NANANG HARIADI SE.MSc (GUS HAR)
    PEMBINA YAYASAN AL SYAMSIYAH
    JLN RAYA AROSBAYA NO 390 BANGKALAN MADURA
    JAWA TIMUR

    FROM :
    PROF.DR. KH.NANANG HARIADI SE.MSc (GUS HAR)
    PEMBINA YAYASAN AL SYAMSIYAH
    JLN RAYA AROSBAYA NO 390 BANGKALAN MADURA
    JAWA TIMUR

    FROM :
    PROF.DR. KH.NANANG HARIADI SE.MSc (GUS HAR)
    PEMBINA YAYASAN AL SYAMSIYAH
    JLN RAYA AROSBAYA NO 390 BANGKALAN MADURA
    JAWA TIMUR

    FROM :
    PROF.DR. KH.NANANG HARIADI SE.MSc (GUS HAR)
    PEMBINA YAYASAN AL SYAMSIYAH
    JLN RAYA AROSBAYA NO 390 BANGKALAN MADURA
    JAWA TIMUR

    FROM :
    PROF.DR. KH.NANANG HARIADI SE.MSc (GUS HAR)
    PEMBINA YAYASAN AL SYAMSIYAH
    JLN RAYA AROSBAYA NO 390 BANGKALAN MADURA
    JAWA TIMUR

  2. edukasi ttg islam yang menarik – terima kasih

  3. ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI (GUS HAR) KAMMA SHOLLAITA ALAA NABIYULLOH ADAM AS. AMIEN
    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI (GUS HAR) KAMMA SHOLLAITA ALAA NABIYULLOH IDRIS AS. AMIEN
    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI (GUS HAR) KAMMA SHOLLAITA ALAA NABIYULLOH NUH AS. AMIEN
    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI (GUS HAR) KAMMA SHOLLAITA ALAA NABIYULLOH HUUD AS. AMIEN
    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI (GUS HAR) KAMMA SHOLLAITA ALAA NABIYULLOH SHALEH AS. AMIEN
    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI (GUS HAR) KAMMA SHOLLAITA ALAA NABIYULLOH IBRAHIM AS. AMIEN
    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI (GUS HAR) KAMMA SHOLLAITA ALAA NABIYULLOH ISMAIL AS. AMIEN
    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI (GUS HAR) KAMMA SHOLLAITA ALAA NABIYULLOH LUTH AS . AMIEN
    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI (GUS HAR) KAMMA SHOLLAITA ALAA NABIYULLOH ISHAQ AS. AMIEN
    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI (GUS HAR) KAMMA SHOLLAITA ALAA NABIYULLOH YA ‘QUB AS. AMIEN
    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI (GUS HAR) KAMMA SHOLLAITA ALAA NABIYULLOH YUSUF AS. AMIEN
    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI (GUS HAR) KAMMA SHOLLAITA ALAA NABIYULLOH SYU’AIB AS. AMIEN
    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI (GUS HAR) KAMMA SHOLLAITA ALAA NABIYULLOH AYYUB AS. AMIEN
    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI (GUS HAR) KAMMA SHOLLAITA ALAA NABIYULLOH DZULKIFLI AS. AMIEN
    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI (GUS HAR) KAMMA SHOLLAITA ALAA NABIYULLOH MUSA AS. AMIEN
    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI (GUS HAR) KAMMA SHOLLAITA ALAA NABIYULLOH HARUN AS. AMIEN
    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI (GUS HAR) KAMMA SHOLLAITA ALAA NABIYULLOH DAUD AS. AMIEN
    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI (GUS HAR) KAMMA SHOLLAITA ALAA NABIYULLOH SULAIMAN AS.. AMIEN
    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI (GUS HAR) KAMMA SHOLLAITA ALAA NABIYULLOH ILYAS AS. AMIEN
    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI (GUS HAR) KAMMA SHOLLAITA ALAA NABIYULLOH ILYASA AS. AMIEN
    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI (GUS HAR) KAMMA SHOLLAITA ALAA NABIYULLOH YUNUS AS. AMIEN
    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI (GUS HAR) KAMMA SHOLLAITA ALAA NABIYULLOH DZAKARIA AS. AMIEN
    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI (GUS HAR) KAMMA SHOLLAITA ALAA NABIYULLOH YAHYA AS . AMIEN
    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI (GUS HAR) KAMMA SHOLLAITA ALAA NABIYULLOH ISA AS. AMIEN
    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI (GUS HAR) KAMMA SHOLLAITA ALAA NABIYULLOH MUHAMMAD SAW. AMIEN

    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI (GUS HAR) KAMMA SHOLLAITA ALAA NABIYULLOH MUHAMMAD SAW. AMIEN
    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI (GUS HAR) KAMMA SHOLLAITA ALAA NABIYULLOH IBRAHIM AS.AMIEN
    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI (GUS HAR) KAMMA SHOLLAITA ALAA NABIYULLOH DAUD AS AMIEN
    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI (GUS HAR) KAMMA SHOLLAITA ALAA NABIYULLOH MUSA AS. AMIEN
    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI (GUS HAR) KAMMA SHOLLAITA ALAA NABIYULLOH ISA. AMIEN

    RESOLUSI KEBENARAN

    KAMI ATAS NAMA
    KOMANDO BRIGADE URUSAN KEBENARAN INDONESIA
    ( K O B U K I )

    Dengan ini menyatakan Bahwa Prof.DR.KH.Nanang Hariadi (Gus Har ) Cendkiawan Muda penemu huruf JORAB , yaitu kolaborasi 4 Huruf besar dunia , diantaranya Huruf Sangsekerta , Huruf Mongolia, Huruf Arab, Huruf Latin , adalah sosok intelektual muda yang layak untuk dijadikan panutan Para Akademika sementara itu beliau Prof.DR.KH.Nanang Hariadi pembangkit Nasionalis huruf Untuk Republik Indonesia.
    Mengingat Bahwa Indonesia belum mempunyai Huruf sendiri maka dengan sendirinya Nilai-nilai Nasionalisme Masyarakat Indonesia akan menurun , oleh sebab itu kami atas nama Komando Brigade Urusan Kebenaran Indonesia pada Hari ini Tanggal 8 Desember 2007 mengeluarkan Resolusi Kebenaran antara lain:
    1) Menghimbau Kepada Presiden RI untuk segera mengintruksikan pada segenap Mentrinya agar memberlakukan huruf jorab pada departemen yang di pimpinnya.
    2) Mewajibkan pada segenap dunia akademika untuk memberlakuhkan pada kampusnya, huruf jorab sebagai huruf Asli Indonesia yang harus di pahami dan di ketahui serta di jadikan karya tulis dan sejenisnya.
    Demikian Resolusi kebenaran kami keluarkan untuk di himbaukan kepada segenap Masyarakat dan Rakyat Indonesia di Seluruh Wilayah Negara kesatuan Republik Indonesia .
    Merdeka ……!

    Jakarta 8 Desember 2007
    Tertanda

    Prof. Dr. M. Atwi Suparman

    Turut Mendeklarasikan Jorab Alphbet

    1. Prof. Chairuddin P Lubis, D.T.M.&H., SP.A.(K)
    2. Prof. Dr. Ir. Sumono, M.S.
    3. Dr. Drs. Subhilhar, M.A.
    4. dr. Linda Trimurni Maas, M.P.H.
    5. Prof. Dr. Ir. Sukaria Sinulingga, M.Eng.
    6. Ir. Isman Nuriadi
    7. Prof. dr. Darwin Dalimunthe Ph.D.
    8. Prof. Dr. Ir. T. Chairun Nisa Haris, M.Sc.
    9. Drs. Ahmad Ridwan Siregar, S.H., M.Lib.
    10. Prof. dr. Gontar A Siregar, Sp.PD-KGEH.
    11. Prof. Dr. Runtung, M.Hum., S.H.
    12. Prof. Ir. Zulkifli Nasution, Ph.D., M.Sc.
    13. Prof. Dr. Ir. Armansyah Ginting, M.Sc.
    14. Prof. drg. Ismet Danial Nasution, Ph.D.
    15. Dr. Syaifuddin, M.A.
    16. Dr. Eddy Marlianto, M.Sc.
    17. Prof. Dr. M. Arif Nasution, M.A.
    18. dr. Ria Masniari, M.Sc.
    19. Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt.
    20. Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, M.S.I.E.
    21. Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, M.A.F.I.S., M.B.A.
    22. Prof. Dr. Alvi Syahrin, M.S., S.H.
    23. Prof. dr. Aman Nasution, M.P.H.
    24. Prof. Dr. Ir. Asmarlaili Sahar Hanafiah, M.S., D.A.A.
    25. Prof. Bachtiar Fanani Lubis, Sp.PD-KHOM.
    26. Prof. Dr. Bismar Nasution, M.H., S.H.
    27. Prof. Dr. Ir. Bustami Syam, M.S.M.E.
    28. Prof. Dr. Chalida Fachruddin
    29. Prof. Dr. Ir. Darwin Sitompul, M.Eng.
    30. Prof. Dr. Harlem Marpaung
    31. Prof. dr. Harun Rasyid Lubis, Sp.PD-KGH.
    32. Prof. Dr. dr. Hasan Syahrir, Sp.S(K).
    33. Prof. Dr. Ir. Justin A Napitupulu, M.Sc.
    34. Prof. drg. Lina Natamiharja, S.K.M.
    35. Prof. Ir. Mangasa Pintor Lumban Tobing
    36. Prof. dr. Nerseri Barus, M.P.H.
    37. Prof. Dr. Reynold Kamrol Damanik, Sc. Agr., Dipl. Ing. Agr.
    38. Prof. dr. Sorimuda Sarumpaet, M.P.H.
    39. Prof. Sutomo Kasiman, Sp.PD, Sp.J.P.
    40. Prof. Dr. Tonel Barus
    41. Prof. Dr. Urip Harahap, Apt.
    42. dr. Abdul Majid, Sp.PD-KKV.
    43. Abul Khair, S.H., M.Hum.
    44. Ir. Armein Arifin Siregar
    45. drg. Bakri Soeyono
    46. Prof. dr. Chairul Yoel, Sp.A(K).
    47. Dra. Dwi Widayati, M.Hum.
    48. Erwin Abubakar, S.E., M.B.A.
    49. Drs. Fathur Rahman Harun, M.Si., Apt.
    50. Ir. Harmein Nasution, M.S.I.E.
    51. Dr. Ir. Hasanuddin, M.S.
    52. Dr. Drs. Iskandar Zulkarnain, M.Si.
    53. Drs. Jonner Hasugian, M.Si.
    54. Dra. Jumirah, M.Kes., Apt.
    55. Dra. Komariah Pandia, M.Si.
    56. Ir. Lahmuddin Lubis, M.P.
    57. Dr. Ramli, M.S., S.E.
    58. drg. Saidina Hamzah Daliemunthe, Sp.Perio.
    59. Dr. Drs. Surya Utama, M.S.
    60. Drs. Syahron Lubis, M.A.
    61. Ir. Tanib Sembiring Tjolia, M.Eng.
    62. Ir. Thomson Sebayang, M.S.P.
    63. drg. Wilda Hafni Lubis, M.Si.
    64. Drs. Zulkifli, M.A.
    65. Dr. Drs. Surya Utama, M.S.
    66. Dra. Lina Sudarwati, M.Si.
    67. Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, D.T.M.&H.C.T.M., Sp.A(K).
    68. Prof. Dr. Ir. Darma Bakti, M.S.
    69. Drs. Abd. Jalil Amri Arma, M.Kes.
    70. Armansyah, S.H., M.Hum.
    71. Dr. Budiman Ginting, S.H., M.Hum.
    72. Drs. Agus Salim Harahap, M.Si.
    73. Dr. Rumondang Bulan, M.S.
    74. dr. Aldy Safruddin Rambe, Sp.S.
    Prof. Dr. Ir. J)ustin Alfred Napitupulu, M.Sc. (Ketua merangkap anggota
    75. Prof. Dr. H.R. Brahmana, M.Sc. (Sekretaris merangkap anggota)
    76. Prof. Chairuddin P. Lubis, D.T.M.&H., Sp.A.(K) (Anggota)
    77. Prof. A.T. Barus, M.Sc. (Anggota)
    78. Prof. Dr. M. Solly Lubis, S.H. (anggota)
    79. Prof. dr. Yasmeini Yazir (Anggota)
    80. Prof. Dr. Ir. Abu Dardak, M.Sc. (Anggota)
    81. Prof. Bachtiar Hassan Miraza, S.E. (Anggota)
    82. Prof. Moenaf Hamid Regar, M.A.Sc. (Anggota)
    83. Prof. Muhammad Abduh, S.H. (Anggota)
    84. Prof. dr. Harun Rasyid Lubis, Sp.PD, K-GH (Anggota)
    85. Prof. Dr.dr. Namyo Odjahan Hutapea, Sp.KK(K) (Anggota)
    86. Prof. dr. Rozaini Nasution, S.K.M. (Anggota)
    87. Prof. Dr. S.S. Brahmana (Anggota)
    88. Prof. Chainur Arrasyid, S.H. (Anggota)
    89. Prof. dr. Habibah Hanum Nasution, Sp.PD, Kpsi (Anggota)
    90. Prof. dr. Bachtiar Fanani Lubis, Sp.PD, KHOM (Anggota)
    91. Prof. dr. T. Renardi Harun, M.P.H, Sp.PD (Anggota)
    92. Prof. dr. Aslim D. Sihotang, Sp.M (Anggota)
    93. Prof. Soegiarti Pitojo, drg. (Anggota)
    94. Prof. Ir. M.P.L. Tobing (Anggota)
    95. Prof. dr. Djafar Siddik, Sp. OG(K) (Anggota)
    96. Prof. Dr. Amrin Fauzi (Anggota)
    97. Prof. Dr. Herman Mawengkang (Anggota)
    98. Prof. Sanwani Nasution, S.H. (Anggota)
    99. Prof. Dr. Rasinta Tarigan, drg., Sp.KG (Anggota)
    100. Prof. Dr. Ir. Asmarlaili Sahar Hanafiah, M.S., D.A.A. (Anggota)
    101. Prof. Dr. Ir. Kelin Tarigan, M.S. (Anggota)
    102. Prof. dr. Gani W. Tambunan, Sp.PA (Anggota)
    103. Prof. Dr. Ir. Jamuda Marulitua Sitanggang, M.S. (Anggota)
    104. Prof. Dr. Ir. Beater Sengli Janus Damanik, M.Sc. (Anggota)
    105. Prof. Dr. Ir. Firman Malem Ukur Tamboen, M.Eng. (Anggota
    106. Prof. Dr. Harlem Marpaung (Anggota)
    107. Prof. Dr. Tonel Barus (Anggota)
    108. Prof. Dr. Ir. Chairun Nisa B., M.Sc. (Anggota)
    109. Prof. dr. Bistok Saing, Sp. A(K) (Anggota)
    110. Prof. Dr. Ir. Zulkifli Lubis, M.App.Sc (Anggota)
    111. Prof. dr. Rusdidjas, Sp. A(K) (Anggota)
    112. Prof. Dr. Ir. T.M. Hanafiah Oelim, D.A.A. (Anggota)
    113. Prof. Bahren Umar Siregar, Ph.D (Anggota)
    114. Prof. Abdullah Yacob Hasibuan (Anggota)
    115. Prof. dr. H. Amar Singh, Sp.KF (Anggota)
    116. Prof. Ismet Danial Nasution, drg., Ph.D (Anggota)
    117. Prof. dr. Sutomo Kasiman, Sp.PD., Sp.UP(K) (Anggota)
    118. Prof. dr. Diana Nasution, Sp.KK(K) (Anggota)
    119. Prof. dr. Hamonangan Hutapea, Sp.OG(K) (Anggota)
    120. Prof. Dr. Ny. R.A.Harlinah Sumirah Prayitno, M.Sc. (Anggota)
    121. Prof. Dr. Ir. Darwin Sitompul, M.Eng. (Anggota)
    122. Prof. Warsani, S.H. (Anggota)
    123. Prof. H.T.Syamsul Bahri, S.H. (Anggota)

    1. Muhammad Imral Nasution (Ketua merangkap anggota)
    2. Prof. Dr. Alvi Syahrin, S.H., M.S. (Sekretaris merangkap anggota)
    3. Prof. Dr. Bambang Sudibio (Anggota, Menteri Pendidikan Nasional R.I.)
    4. Drs. Rudolf Pardede (Anggota, Gubernur Sumatera Utara)
    5. Prof. Chairuddin P. Lubis, D.T.M.&H., Sp.A.(K) (Anggota, Rektor USU)
    6. Drs. Abdillah, M.B.A., AK (Anggota, Walikota Medan)
    7. Jend. T.N.I. (Purn.) Agum Gumelar (Anggota)
    8. Surya Mertjoe/Tjoe Min Fat (Anggota)
    9. Sukanto Tanoto (Anggota)
    10. Edward H. Silitonga (Anggota)
    11. Edwin Bingei Purba Siboro (Anggota)
    12. Ir. Darori, M.M. (Anggota)
    13. dr. Darwan M. Purba, Sp.M. (Anggota)
    14. Ir. Dahlan Harahap, (Anggota)
    15. Prof. Bachtiar Fanani Lubis, Sp.P.D., K.H.O.M. (Anggota)
    16. Prof. Sutomo Kasiman, Sp.P.D., Sp.J.P. (Anggota)
    17. Prof. Dr. Ir. Darwin Sitompul, M.Eng. (Anggota)
    18. Prof. Dr. Urip Harahap, Apt. (Anggota)
    19. Prof. Dr. Ir. Darma Bakti, M.S. (Anggota)
    20. drg. Saidina Hamzah Daliemunthe, Sp.Perio. (Anggota)
    124. Ir. Harmein Nasution
    125.

    1. Prof. Dr. M. Zarlis, M.Sc. (Anggota)
    2. Prof. dr. Darulkutni Nasution, Sp, S (K) (Anggota)
    3. Prof. dr. Gontar Alamsyah Siregar, Sp.PD, KGEH (Anggota)
    4. Prof. dr. Mochamad Fauzi Sahil, Sp.OG (K) (Anggota)
    5. Prof. dr. Daulat Hasiholan Sibuea, Sp. OG (K) (Anggota)
    6. Prof. dr. Bahagia Lubis, Sp. KJ (K) (Anggota)
    7. Prof. dr. Syamsir Bongsoe, Sp. KJ (k) (Anggota)
    8. Prof. dr. Abdul Gofar Sastrodiningrat, Sp. BS (K) (Anggota)
    9. Prof. dr. Usul Sinaga, Sp. B., Finacs (K) Trauma (Anggota)
    10. Prof. dr. Nazar Moesbar, Sp. B., Sp. O.T. (K) (Anggota)
    11. Prof. dr. Bachtiar Surya, Sp. B. (K) (Anggota)
    12. Prof. dr. Abdul Majid, Sp. PD., K.K.V. (K) (Anggota)
    13. Prof. dr. Askaroellah Aboet, Sp. T.H.T-K.L. (K) (Anggota)
    14. Prof. dr. Atas Baas Sinuhaji, Sp. A (K) (Anggota)
    15. Prof. dr. Haris Hasan, Sp.PD, Sp.JP (K) (Anggota)
    16. Prof. drg. Haslinda Z Tamin, M.Kes, Sp. Pros (K) (Anggota)
    17. Prof. Dr. Ir. Erwin Masrul Harahap, M.S. (Anggota)
    18. Prof. Dr. Matheus Timbul Simanjuntak, M.Sc., Apt. (Anggota)
    19. Prof. Dr. Chairul Yoel, Sp.A (K) (Anggota)
    20. Prof. Trimurni Abidin, drg., M.Kes., Sp.KG (Anggota)
    21. Prof. Dr. Erika Revida, Dra., M.S. (Anggota)
    22. Prof. dr. Abdul Rahman Sembiring, Sp. T.H.T-K.L. (K) (Anggota)
    23. Prof. dr. Achsanuddin Hanafie, Sp. An. K.I.C. (Anggota)
    24. Prof. Dr. Ing. Johannes Tarigan (Anggota)
    25. Prof. dr. Hafas Hanafiah, Sp. B., Sp. O.T.(K), FICS (Anggota)
    26. Prof. dr. Bidasari Lubis, Sp. A(K) (Anggota)
    27. Prof. Drs. Mauli Purba, M.A., Ph.D. (Anggota)
    28. Prof. Drs. Muhammad Syukur, M.S. (Anggota)
    29. Prof. Dr. Paham Ginting, S.E., M.S. (Anggota)
    30. Prof. Dr. Fachrudin, S.E., AK., M.S.M. (Anggota)
    31. Prof. Dr. H. Sya’ad Afifuddin Sembiring (Anggota)
    32. Prof. Dr. Ramli, S.E., M.S. (Anggota)
    33. Prof. dr. Abdullah Afif Siregar, Sp. A(K), Sp. JP(K) (Anggota)
    34. Prof. Dr. Ir. Armansyah Ginting, M.Eng. (Anggota)
    Prof. Dr. Badaruddin, M.Si. (Anggota
    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI KAMMA SHOLLAITA ALAA Sayidina Abu Bakar As-Siddiq dilantik menjadi khalifah yang pertama selepas kewafatan Rasulullah Pemerintahanya bermula dari tahun 632 Masihi hingga 634 Masihi yang berpusat di Madinah
    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI KAMMA SHOLLAITA ALAA .Khalifah Umar Al-Khattab merupakan khalifah Islam yang kedua.Beliau dilantik menjadi khalifah Islam pada hari Selasa, 22 Jamadilakhir 13 Hijrah ,bersamaan 23 Ogos 634 Masihi
    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI KAMMA SHOLLAITA ALAA Sayidina Uthman bin Affan dilantik menjadi khlifah selepas kewafatan Sayidina Umar Al-Khattab pada awal Muharram tahun 23 Hijrah ‘bersamaan 644 Masihi
    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI KAMMA SHOLLAITA ALAA Sayidina Ali Karamallah Wajhah dilantik menjadi khalifah yang keempat atas permintaan orang ramai pada bulan Zulhijjah, tahun 35 Hijrah,bersamaan 655 Masihi.
    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI KAMMA SHOLLAITA ALAA IMAM ABU HANIFAH (RAHIMAHULLAH An-Nukman bin Thabit )lahir tahun 80 Hijrah / tahun 699 Masihi di Kufah,Iraq
    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI KAMMA SHOLLAITA ALAA IMAM MALIK RAHIMAHULLAH ( Malik bin Anas Bin Abu Amir Al-Asbahi ) lahir di Kota Madinah tahun 93 Hijrah bersamaan 712 Masihi
    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI KAMMA SHOLLAITA ALAA IMAM AS-SYAFIE RAHIMAHULLAH Abu Abdullah Muhammad bin Idris lahir tahun 150 Hijrah / tahun 767 Masihi di Ghazzah,Palestin
    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI KAMMA SHOLLAITA ALAA IMAM AHMAD BIN HANBAL RAHIMAHULLAH Abu Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal As-Syaibani.lahir tahun 164 Hijrah / dengan tahun 780 Masihi di Baghdad

    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI KAMMA SHOLLAITA ALAA Abu Bakr Muhammad Ibn Yahya al-Saigh

    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI KAMMA SHOLLAITA ALAA Abu Ali bin Ahmad bin Muhammad bin Yaakub bin Maskawaih

    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI KAMMA SHOLLAITA ALAA Abu All Muhammad al-Hassan ibnu al-Haitham.
    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI KAMMA SHOLLAITA ALAA Abu Musa Jabir Ibn Hayyan

    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI KAMMA
    SHOLLAITA ALAA Badi’uzzaman atau Sa’id bin Mirza
    dilahirkan pada tahun 1876 (1294H) di Nurs

    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI KAMMA
    SHOLLAITA ALAA Abu Walid Muhammad Ibnu Ahmad
    lahir di Kardova pada tahun 1126

    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI KAMMA
    SHOLLAITA ALAA Abu Hamid Ibnu Muhammad al-Tusi al-Ghazali
    dilahirkan di Tus, Pars! pada tahun 450 Hijrah

    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI KAMMA
    SHOLLAITA ALAA Abu Nasr Muhammad Ibnu Muhammad Ibnu
    Tarkhan Ibnu Uzlaq Al Farabi. Beliau lahir pada tahun 874M (260H)

    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI KAMMA
    SHOLLAITA ALAA Abu Bakr Muhammad ibn Abdul Malik ibn
    Muhammad ibn Muhammad ibn Tufail al-Qisi

    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI KAMMA
    SHOLLAITA ALAA Shams al-Din Abu ‘Abd Allah Muhammad bin
    Abu Bakr bin Sa’ad, lahir pada 7 Safar 691H
    bersamaan 9 Januari 1292M di Damsyik

    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI KAMMA
    SHOLLAITA ALAA Abu al-Raihan Muhammad ibn Ahmad al-Biruni. Beliau dilahirkan pada tahun 362 H (973 M)

    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI KAMMA
    SHOLLAITA ALAA Abu Bakar Muhammad bin Zakaria al-Razi, lahir pada tahun 236H bersamaan 850M.

    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI KAMMA
    SHOLLAITA ALAA Abu Ali al-Hussian Ibnu Abdullah ( IBN SINA). dilahirkan pada tahun 370 Hijrah bersamaan dengan 980 Masihi
    ALLOHUMMA SHOLLI ALAA PROF.DR.KH.NANANG HARIADI KAMMA
    SHOLLAITA ALAA (Ibn Khaldun ) Wali al-Din Abd al-Rahman bin Muhammad bin Abu Bakar Muhammad bin al-Hasan lahir di Tunis pada 1 Ramadan 732H

    RESOLUSI KEBENARAN

    KAMI ATAS NAMA
    KOMANDO BRIGADE URUSAN KEBENARAN INDONESIA
    ( K O B U K I )

    Dengan ini menyatakan Bahwa Prof.DR.KH.Nanang Hariadi (Gus Har ) Cendkiawan Muda penemu huruf JORAB , yaitu kolaborasi 4 Huruf besar dunia , diantaranya Huruf Sangsekerta , Huruf Mongolia, Huruf Arab, Huruf Latin , adalah sosok intelektual muda yang layak untuk dijadikan panutan Para Akademika sementara itu beliau Prof.DR.KH.Nanang Hariadi pembangkit Nasionalis huruf Untuk Republik Indonesia.
    Mengingat Bahwa Indonesia belum mempunyai Huruf sendiri maka dengan sendirinya Nilai-nilai Nasionalisme Masyarakat Indonesia akan menurun , oleh sebab itu kami atas nama Komando Brigade Urusan Kebenaran Indonesia pada Hari ini Tanggal 8 Desember 2007 mengeluarkan Resolusi Kebenaran antara lain:
    1) Menghimbau Kepada Presiden RI untuk segera mengintruksikan pada segenap Mentrinya agar memberlakukan huruf jorab pada departemen yang di pimpinnya.
    2) Mewajibkan pada segenap dunia akademika untuk memberlakuhkan pada kampusnya, huruf jorab sebagai huruf Asli Indonesia yang harus di pahami dan di ketahui serta di jadikan karya tulis dan sejenisnya.
    Demikian Resolusi kebenaran kami keluarkan untuk di himbaukan kepada segenap Masyarakat dan Rakyat Indonesia di Seluruh Wilayah Negara kesatuan Republik Indonesia .
    Merdeka ……!

    Jakarta 8 Desember 2009
    Tertanda

    HARUN AL RASYID (ACHID)
    PRESIDEN DPW KOBUKI DKI JAKARTA
    TELP 02194655949

    BUDI ANDI KARDIONO SH
    SEKPRES DPW KOBUKI DKI JAKARTA
    HP 088882707969

    • Prof.Sidharta Utama, Ph.D.,CFA
    • Prof. Dr. Widjojo Nitisastro
    • Prof. Wahjudi Prakarsa, PhD
    • Prof. Dr. Wagiono Ismangil, MBA
    • Prof. Susiyati B. Hirawan SE, M.Sc, Ph.D
    • Prof. Dr. Suroso, SE., MBA
    • Prof.Dr. Suhadi Mangkusuwondo
    • Prof. Dr. Subroto
    • Prof. DR. Sri Moertiningsih Adioetomo, SE, MA.
    • Prof. Dr. Sri Edy Swasono
    • Prof. Dr. Sofjan Assauri
    • Prof. Dr. Satrio Budihardjo Joedono
    • Prof. Dr. Rustam Didong
    • Prof. Dr. Prijono Tjiptoherijanto
    • Prof. Dr. Ir. Mohammad Sadli
    • Prof. Dr. Mohammad Arsjad Anwar
    • Prof. Mayling Oey-Gardiner, Ph.D.
    • Prof. Dr. Lepi Tanadjaja Tarmidi
    • Prof. Dr. Ir. Kresnohadi Ariyoto Karnen M.B.A.
    • Prof. Dr. Kartomo Wirosuhardjo, MA
    • Prof. Dr. Johannes Baptista Sumarlin
    • Prof. Dr. Irzan Tanjung
    • Prof. Dr. Emil Salim
    • Prof. Dr. Dorodjatun Kuntjoro-Jakti
    • Prof. Dr. Budhi Paramita
    • Prof. Dr. BS Muljana
    • Prof. Dr. Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro
    • Prof. Dr. Arief Djanin
    • Prof. Dr. Anwar Nasution
    • Prof. Dr. Ali Wardhana
    • Prof. Akhmad Syakhroza, SE., MAFIS, Ph.D.
    • Prof. Wahyono Darmabrata. SH., MH.
    • Prof. Safri Nugraha, SH., LL.M., PhD
    • Prof. Dr. Ramly Hutabarat
    • Prof. Dr. Maria Farida Indrati, SH., MH.
    • Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH., MH.
    • Prof. Hikmahanto Juwana, SH., LL.M., Ph.D
    • Prof. Dr. Harkristuti Harkrisnowo,S.H.MA.
    • Prof. Erman Radjaguguk, SH,LLM,Ph.D
    • Prof. Arie Sukanti Hutagalung, SH., MLI
    • Prof. Dr. Aloysius Uwiyono, S.H.,M.H.
    • Prof. Achmad Zen Umar Purba, S.H., LLM.
    • Prof. Dr. Anna Erliyana, SH., MH
    • Prof. Abdul Bari Azed. SH., MH
    • Prof. Dr. Ismail Suny, SH.,MCL.
    • Prof.Dr. Tb. Ronny Rahman Nitibaskara
    • Prof.Dr. Subur Budhisantoso
    • Prof.Dr.Robert M.Z. Lawang
    • Prof.Paulus Wirutomo
    • Prof.Dr.Parsudi Suparlan
    • Prof. Dr. Nico S. Kalangie, SS.
    • Prof.Dr.Nazaruddin Sjamsuddin, MA
    • Prof.Dr.Muhammad Mustofa, MA
    • Prof.Dr.Meutia Farida Hatta Swasono, SS, MA.
    • Prof.Dr.Maswadi Rauf.M.A
    • Prof.Dr.Masliana Bangun Sitepu
    • Prof.Dr.Martani Huseini
    • Prof.Dr.M.Budyatna, MA
    • Prof. Dr. M. Alwi Dahlan
    • Prof. Dr. Kamanto Sunarto
    • Juwono Sudarsono
    • Prof.Dr.Iberamsjah, MS
    • Prof.Dr. Harsono Suwardi
    • Prof.Dr.Gunadi
    • Prof.Dr.Gumilar Rusliwa Somantri
    • Prof.Dr.Eko Prasojo
    • Prof.Dr.Bob Waworuntu, MA
    • Prof.Dr.Bhenyamin Hoesseini
    • Prof.Dr.Bachtiar Aly, MA
    • Prof.Dr.Azhar Kasim, MPA
    • Prof.Dr.Amri Marzali, MA
    • Prof. Sri Hartati D. Reksodiputro, MA, Ph.D
    • Prof.Dr. Soesmalijah Soewondo
    • Prof.Dr. Subyakto Atmosiswoyo, MPA
    • Prof.Dr. Sukarni Catur Utami Munandar
    • Prof.Dr. Soetarlinah Sukadji
    • Prof.Dr. Suprapti Sumarmo Markam
    • Prof.Dr. Sarlito Wirawan Sarwono
    • Prof.Dr. M. Enoch Markum
    • Prof. Dr. Jeanette Retnasanti Suwantara
    • Prof. Hera Lestari Mikarsa, PhD
    • Prof. Dr. Fuad Hassan
    • Prof. Dr. Fawzia Aswin Hadis
    • Prof.Dr. Ediasri Toto Atmodiwijo
    • Prof. Dr. Wahyudi Priyono Suwarso
    • Prof. Dr. Usman S. F. Tambunan
    • Prof. Dr. Soleh Kosela, Msc
    • Prof. Dr. Soekarja Somadikarta
    • Prof. Dr.rer.nat Rosari Saleh
    • Prof. Dr. Indrawati Gandjar
    • Prof. Dr. Endang Hanani, M.Si.
    • Prof. Dr. Djarwani S. Soejoko
    • Prof. Dr. Djati Kerami
    • Prof. Dr. Belawati Hardi Widjaja
    • Prof. Dr. Ir. Johny Wahyuadi M.Soedarsono, DEA
    • Prof. Ir. Eddy Sumarno Siradj, M.Sc. Ph.D.
    • Prof.Dr. Ir. Mohammad Nasikin, M.Eng
    • Prof. Ir. Gunawan Tjahjono, Ph.D., M.Arch.
    • Prof. Dr. Ir.Sardy S.,
    • Prof. Ir. Rinaldy Dalimi, M.Sc, Ph.D
    • Prof. Dr. Ir. Harry Sudibyo S., DEA
    • Prof. Ir. Eko Tjipto Rahardjo, MSc, PhD
    • Prof. Dr. Ir. H. Djoko Hartanto, MSc.
    • Prof. Dr. Ir. Dadang Gunawan, M.Eng.
    • Prof. Dr. Ir. Bagio Budiardjo, M.Sc
    • Prof.Dr.Ir. Tresna Priyana Soemardi, SE.MS.
    • Raldi Artono Koestoer
    • Prof. Dr. Ir. I. Made Kartika Dhiputra
    • Prof. Dr. Ir. Bambang Suryawan, MT.
    • Prof. Dr. Ir. Bambang Sugiarto, M.Eng
    • Prof.Dr.Ir. Tommy Ilyas M.Eng
    • Prof. Dr. Ir. Sutanto Soehodho, M.eng
    • Sulistyoweni Widanarko
    • Prof. Dr. Ir. Irwan Katili, DEA
    • Prof.Dr.Ir. Budi Susilo Soepandji, DEA
    • Prof. Dr. Susanto Zuhdi
    • Prof. Riris K. Toha-Sarumpaet, M.Sc., Ph.D
    • Prof. Dr. Rahaju Sutiarti Hidayat
    • Prof. Dr. Parwatri Wahyono
    • Prof. Dr. Njaju Jenny Malik Tomi Hardjatno, SS., MA.
    • Prof. Dr. Multamia Retno Mayekti Tawangsih, S.S., Mse., DEA.
    • Prof. Dr. Melani Budianta, M.A.
    • Prof. Dr. I Ketut Surajaya, M.A.
    • Prof. Dr. Toemin A. Masoem
    • Prof. Dr. Drs. Benyamin Kusumoputro, MSc
    • Prof.Dr. Aniati Murni Arymurthy
    • Prof. dr. Umar Fahmi Achmadi, MPH, PhD
    • Prof. Dr. Dra. Sudarti, SKM, MA
    • Prof. Dr. Sudarto Ronoatmodjo, SKM, MSc
    • Prof. dr. Purnawan Junadi, MPH, Ph.D
    • Prof. dr. Nuning Maria Kiptiyah, MPH, DrPH
    • Prof. Dr. dr. Nasrin Kodim, MPH
    • Prof. dr. Haryoto Kusnoputranto, SKM, DrPH
    • Prof. dr. Hadi Pratomo, MPH, DrPH
    • Prof. dr. Hasbullah Thabrany, MPH, Dr.PH.
    • Prof. dr. Does Sampoerno, MPH
    • Prof. Bambang Sutrisna, MD, MHSc, DrPH.
    • Prof. Dr. Budi Utomo, MPH
    • Prof. Amal Chalik Sjaaf, SKM, DrPH
    • Prof. Ascobat Gani, MPH, DrPH
    • Prof. Dr. dr. Adik Wibowo, MPH
    • Prof.Dr. Tri Budi W. Rahardjo, drg, MS
    • Prof. Dr. Safrida drg, Sp. KG (K)
    • Prof Dr Retno Hayati Sugiarto drg SKM SpKGA
    • Prof. Laura Susanti Himawan, drg.,SpPros.(K)
    • Prof. Heriandi Sutadi, drg. SpKGA, PhD
    • Prof. Dr. Elza Ibrahim Auerkari, drg, M.Biomed
    • Prof. Dr. Dewi Nurul Mustaqimah, drg, MS, Sp.Perio (K)
    • Prof. Dr. Budiharto, drg., SKM
    • Prof. Dr. dr. Armen Muchtar, DAF., DCP., Sp. FK (K)
    • Prof. dr. Zubairi Djoerban
    • Prof.dr. Wiguno Prodjosudjadi, PhD
    • Prof.Dr. Wahyuning Ramelan
    • Prof. dr. Usman Chatib Warsa Ph.D
    • Prof. dr. Taralan Tambunan
    • Prof.Dr.dr. Sri Bekti Subakir, M.S.
    • Prof. Dr. dr. Sri Rezeki Syaraswati Hadinegoro
    • Prof. Dr.dr. Soehartati G. Argadikoesoemo
    • Prof.dr. Is Suhariah Ismid, DTM&H, Sp.Par.K
    • Prof. dr. H. Subroto Sapardan, SpB, SpOT(K)
    • Prof. Dr. Samsuridjal Djauzi Sp.PD.
    • Prof. dr. dr. Siti Aisah Boediardja
    • Prof.Dr.dr. Sidartawan Soegondo
    • Prof. dr. Santoso Cornain
    • Prof.dr. Sjukri Karim, SpJP(K), FIHA, FIACS, FACC
    • Prof.dr. Sjaiful Fahmi Daili, Sp.KK(K)
    • Prof. DR. Dr. Rianto Setiabudy
    • Prof.dr. Herdiman Theodorus Pohan, DTM&H, SpPD-KPTI
    • Prof.DR. Riadi Wirawan
    • Prof. dr. Rahajuningsih Dharma, Sp.PK,D.Sc., FACT
    • Prof.Dr. Oen Liang Hie
    • Prof.dr. Nirwan Arief, Sp.P(K)
    • Prof.dr. Mardiono Marsetio
    • Prof.dr. Muhamad Djakaria
    • Prof.dr. Mpu Kanoko, Ph.D
    • Prof. dr. Mardjanis Said
    • Prof. dr. Lukman H makmun, SpPD-KKV, KGer, Sp.JP
    • Prof.dr. Jeanne Adiwinata Pawitan, MS, PhD
    • Prof. Dr. dr. Inge Sutanto, M. Phil,SpPar.K
    • Prof. DR. dr. H Idris Idham, SpJP(K), FESC. FINA
    • Prof.Dr.dr.H Ichramsjah A Rahman, SpOG(K)
    • Prof.dr. I Made Nasar , Sp.PA(K)
    • Prof.dr. Iskandar Zulkarnain Datuk Gunuang Ameh, SpPD, DTM&H, KPTI
    • Prof. Dr. dr. Heru Sundaru, SpPD-KAI
    • Prof.dr. Herdiman Theodorus Pohan, DTM&H, SpPD-KPTI
    • Prof.Dr.dr. Harry Isbagio, SpPD-KR, KGer
    • Prof. Dr. Hanafi Binarto Trisnohadi, SpPD-KKV, SpJP(K)
    • Prof.dr. Hadiarto Mangunnegoro, Sp.P(K), FCCP
    • Prof. Dr. dr. Gulardi H. Wiknjosastro
    • Prof. dr. Franciscus D. Suyatna, Ph.D, SpFK
    • Prof. Dr. dr. Farid A. Moeloek
    • Prof. dr. Faisal Yunus Ph.D., Sp.P (K)
    • Prof.Dr.dr. Ernst Johannis Manuhutu, MS, Sp.P(K)
    • Prof.dr. Endy Muhardin Moegni, SpOG(K)
    • Prof. Dr. Edi Supiandi, SpM(K)
    • Prof. Dr. dr. Dede Kusmana
    • Prof. Dr. Daulat Manurung
    • Prof. dr. H. Dasnan Ismail, SpPD (K), SpJP.
    • Prof. Dr. dr. Cholid Badri
    • Prof. Dr. dr. Biran Affandi
    • Prof. Dr. dr. Asman Boedisantoso R.
    • Prof. dr. Aryono D. Pusponegoro, SpBD-KVB
    • Prof. dr. Arjatmo Tjokronegoro, PhD.
    • Prof.Dra. Arini Setiawati, PhD
    • Prof. dr. Antonius Nikolas Kurniawan, Sp.PA(K)
    • Prof. dr., Amin Soebandrio. Ph.D, Sp.MK.
    • Prof.Dr.dr.med. Akmal Taher, SpU(K)
    • Prof.Dr.dr. Agus Sjahrurachman, PhD
    • Prof. dr. Abdul Muthalib, SpPD-KHOM
    • Prof. Dra. Elly Nurachmah M. App. Sc, D.N.Sc.
    • DR. Budi Anna Keliat, S. Kp, M. App Sc
    • Prof. Achir Yani Syuhaimie Hamid, M. N., D. N. Sc.
    • Prof.Drs.Adrianus Eliasta Meliala, Ph.D., MS.i, MSc.
    • Prof. Dr. M. Zarlis, M.Sc. (Anggota)
    • Prof. dr. Darulkutni Nasution, Sp, S (K) (Anggota)
    • Prof. dr. Gontar Alamsyah Siregar, Sp.PD, KGEH (Anggota)
    • Prof. dr. Mochamad Fauzi Sahil, Sp.OG (K) (Anggota)
    • Prof. dr. Daulat Hasiholan Sibuea, Sp. OG (K) (Anggota)
    • Prof. dr. Bahagia Lubis, Sp. KJ (K) (Anggota)
    • Prof. dr. Syamsir Bongsoe, Sp. KJ (k) (Anggota)
    • Prof. dr. Abdul Gofar Sastrodiningrat, Sp. BS (K) (Anggota)
    • Prof. dr. Usul Sinaga, Sp. B., Finacs (K) Trauma (Anggota)
    • Prof. dr. Nazar Moesbar, Sp. B., Sp. O.T. (K) (Anggota)
    • Prof. dr. Bachtiar Surya, Sp. B. (K) (Anggota)
    • Prof. dr. Abdul Majid, Sp. PD., K.K.V. (K) (Anggota)
    • Prof. dr. Askaroellah Aboet, Sp. T.H.T-K.L. (K) (Anggota)
    • Prof. dr. Atas Baas Sinuhaji, Sp. A (K) (Anggota)
    • Prof. dr. Haris Hasan, Sp.PD, Sp.JP (K) (Anggota)
    • Prof. drg. Haslinda Z Tamin, M.Kes, Sp. Pros (K) (Anggota)
    • Prof. Dr. Ir. Erwin Masrul Harahap, M.S. (Anggota)
    • Prof. Dr. Matheus Timbul Simanjuntak, M.Sc., Apt. (Anggota)
    • Prof. Dr. Chairul Yoel, Sp.A (K) (Anggota)
    • Prof. Trimurni Abidin, drg., M.Kes., Sp.KG (Anggota)
    • Prof. Dr. Erika Revida, Dra., M.S. (Anggota)
    • Prof. dr. Abdul Rahman Sembiring, Sp. T.H.T-K.L. (K) (Anggota)
    • Prof. dr. Achsanuddin Hanafie, Sp. An. K.I.C. (Anggota)
    • Prof. Dr. Ing. Johannes Tarigan (Anggota)
    • Prof. dr. Hafas Hanafiah, Sp. B., Sp. O.T.(K), FICS (Anggota)
    • Prof. dr. Bidasari Lubis, Sp. A(K) (Anggota)
    • Prof. Drs. Mauli Purba, M.A., Ph.D. (Anggota)
    • Prof. Drs. Muhammad Syukur, M.S. (Anggota)
    • Prof. Dr. Paham Ginting, S.E., M.S. (Anggota)
    • Prof. Dr. Fachrudin, S.E., AK., M.S.M. (Anggota)
    • Prof. Dr. H. Sya’ad Afifuddin Sembiring (Anggota)
    • Prof. Dr. Ramli, S.E., M.S. (Anggota)
    • Prof. dr. Abdullah Afif Siregar, Sp. A(K), Sp. JP(K) (Anggota
    • Prof. Dr. Ir. Armansyah Ginting, M.Eng.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: